Anggrek Hitam, Flora Identitas Kalimantan Timur yang Langka

Reading time: 3 menit
Anggrek ini kerap jadi target perdagangan tanaman ilegal. Foto: Shutterstock

Anggrek adalah salah satu suku tumbuhan berbunga dengan anggota mencapai hampir 25.000 spesies. Tanaman hias ini menyebar di daerah tropika basah hingga sirkumpolar. Dari sekian banyak jenisnya, spesies anggrek hitam dianggap yang paling eksotis sekaligus langka.

Anggrek hitam termasuk dalam suku Orchidaceae dan genus Coelogyne. Spesies ini memiliki nama ilmiah Coelogyne pandurata, sehingga masih berkerabat dengan anggrek endemik asal Kalimantan yaitu C. exalata.

Spesies C. pandurata sendiri, sejatinya dapat pula kita temukan di pulau yang sama. Mereka bahkan sangat populer sampai-sampai menjadi maskot atau flora identitas Provinsi Kalimantan Timur.

Semenanjung Malaya, Kalimantan, dan Sumatra adalah tempat berbiak spesies ini. Namun populasinya sudah semakin menurun, sehingga kini hanya bisa kita jumpai di Cagar Alam Kersik Luway saja.

Morfologi dan Ciri-Ciri Anggrek Hitam

Seperti namanya, anggrek hitam dapat kita kenal dari corak bunganya yang hitam. Namun corak itu hanya tersedia pada bagian mahkota dan bibir bunga saja, sedangkan yang lainnya berwarna hijau kekuningan.

Selain itu, corak hitam pada mahkota dan bibir bunga juga tidak penuh. Pola hitam tersebut cenderung berbentuk garis-garis atau bintik-bintik. Namun, persebarannya cukup merata sehingga terlihat indah.

Ini relatif sangat berbeda dibandingkan anggrek hitam asal Papua. Flora bernama latin Dendrobium atroviolaceum itu mempunyai kelopak hitam penuh di bagian luar, sedangkan bagian dalamnya berwarna ungu tua.

Spesies C. pandurata tumbuh bergerombol dan membentuk layaknya rumpun. Bagian pangkalnya memiliki umbi atau bulb berbentuk bulat telur agak pipih, dengan dua helai daun elips yang menjulang ke atas.

Sebagai anggrek simpodial, tumbuhan ini tidak memiliki batang utama. Bentuknya tampak seperti tangkai biasa, dengan jumlah kuntum bunga mencapai 5–10 helai per tangkainya.

Habitat dan Populasi Anggrek Hitam

Cagar Alam Kersik Luway, Kalimantan Timur mempunyai luas wilayah mencapai 5.000 hektare. Di area tersebutlah anggrek ini tumbuh secara epifit; menempel pada kayu maupun pohon runtuh di lantai hutan.

Sebagai tanaman tropis asli, spesies C. pandurata berbiak di lingkungan yang lembap seperti tepian sungai. Tumbuhan ini umumnya dapat kita temukan pada ketinggian 1.000–1.5000 meter di atas permukaan laut.

Ketika waktu berbunga, spesies anggrek hitam mengeluarkan aroma semerbak yang cukup menyengat. Periode ini berlangsung pada akhir tahun, antara bulan Oktober sampai dengan Desember.

Namun menurut para ahli, populasi spesies C. pandurata sendiri sudah sangat mengkhawatirkan. Mereka tergolong sebagai tumbuhan yang langka dan dilindungi berdasarkan CITES Appendix I dan II.

Kepunahannya tidak jauh dari aktivitas deforestasi dan perburuan liar. Pencurian dan jualbeli secara ilegal anggrek ini sebagai tanaman hias masih terjadi. Coraknya yang unik membuat flora ini memiliki nilai ekonomis tinggi.

Cara Memperbanyak Anggrek Hitam

Anggrek hitam bisa masyarakat perbanyak lewat metode vegetatif dan generatif. Metode vegetatif bisa Anda lakukan dengan memisahkan anakan, sedangkan generatif melalui proses laboratorium.

Jika menggunakan media tanam, tumbuhan ini paling cocok diletakkan pada media sabut kelapa, pakis, dan serbuk gergaji. Selanjutnya, beri larutan fungisida pada media tanam agar tidak diserang oleh jamur.

Pemupukan dilakukan sebanyak dua kali dalam seminggu sesuai umur tanaman. Semprotkan pupuk ke permukaan bawah daun, batang lalu akarnya, apabila Anda memilih menggunakan jenis pupuk cair.

Mirip seperti memupuk, penyiraman dilakukan dua kali per hari sesuai usia tanaman. Waktu terbaik menyiram tanaman adalah pada pagi hari sekitar pukul 06.00–08.00, serta sore antara pukul 16.00–18.00.

Penggunaan cairan insektisida dan herbisida untuk mengendalikan hama sejatinya diperbolehkan. Namun perhatikan dosis atau takaran yang digunakan, agar tidak merusak pertumbuhan tanaman tersebut.

Taksonomi Coelogyne Pandurata

Penulis : Yuhan al Khairi

Top

You cannot copy content of this page