Berang-Berang, Satwa Gemas yang Gemar Bersosialisasi

Reading time: 3 menit
berang-berang
Berang-Berang, Satwa Gemas yang Gemar Bersosialisasi. Foto: Shutterstock.

Berang-berang cakar kecil (Aonyx cinereus) merupakan salah satu dari lima spesies berang-berang Asia Tenggara. Mereka adalah satwa yang dilindungi di beberapa negara seperti India, Hongkong, dan Singapura, serta masuk dalam kategori rentan atau vulnerable IUCN dan Appendix II CITES (IUCN 2015).

Berdasarkan ksdae.menlhk.go.id, berang-berang cakar kecil merupakan spesies asli Sumatra yang dapat dijumpai di danau, sungai, lahan basah maupun hutan mangrove.

Dilaporkan juga bahwa spesies ini juga hidup di pulau Jawa, Kalimantan, Filipina, Malaysia, Cina hingga India. 

Keluarga satwa ini menyukai aliran sungai yang memiliki banyak vegetasi seperti rumput serta berpasir. Mereka akan membuat sarang di dalam lubang lubang yang mereka buat di tepian sungai.

Sebagai pemangsa puncak, hewan ini berada di rantai makanan paling atas, dan sangat terpengaruh terhadap faktor lingkungannya.

Morfologi dan Kebiasaan Sosial

Secara morfologi hewan mamalia ini umumnya berbulu coklat dengan warna abu-abu pada bagian leher. Berang-berang kecil memiliki kepala yang kecil, kaki yang pendek dengan kuku yang pendek serta ekor yang pipih.

Mereka merupakan hewan sosial, pada umumnya mereka hidup secara berkelompok dengan anggota 5 – 12 individu. Dalam satu kelompok merupakan satu keluarga di antaranya kedua induk beserta anak anaknya yang selalu bersama.

Ketika mencari makan mereka akan saling bekerjasama untuk menangkap buruannya. Jenis makanan yang mereka sukai adalah katak, ular, crustacea termasuk kepiting, udang, ikan bahkan mamalia kecil lainnya. Dengan menggunakan cakar, mereka dengan mudah membuka cangkang kepiting yang keras dan mengambil bagian dalamnya.

Sifat sosial fauna ini juga terlihat ketika mereka terancam. Hewan ini akan bergabung sebagai kelompok jika terancam.

Sementara itu, sebuah keluarga berang-berang akan terpecah jika salah satu pasangan alpha mati, dan individu akan menyebar untuk mencari pasangan dan menemukan kelompok mereka sendiri.

berang-berang

Pada umumnya fauna ini hidup secara berkelompok dengan anggota 5–12 individu. Foto: Shutterstock.

Baca juga: Pyrosome, Organisme Fenomenal yang Dijuluki Unicorn Laut

Hubungan dengan Manusia

Aonyx cinireus sendiri merupakan jenis berang-berang yang sangat suka bermain apabila mereka tidak melakukan perburuan tetapi mereka sangat sensitif terhadap manusia. Itulah sebab satwa ini sangat jarang kita jumpai.

Meskipun kita sulit untuk melihat langsung hewan ini, tetapi sudah sejak lama mereka memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat.

Menurut tulisan ilmiah Aadrean dan Muhammad Yunis, Universitas Andalas, hubungan itu dapat berupa konflik, pemanfaatan dan sebagai sumber cerita bagi masyarakat.

Sebagai contoh, penggunaan satwa ini sebagai hewan yang membantu untuk menangkap ikan sejak zaman dulu di Asia dan Eropa dan masih berlangsung di Bangladesh.

 Di Jepang, berang-berang telah menjadi cerita rakyat dan menjadi salah satu bentuk inspirasi sebagai monster dan siluman.

Ancaman Kehidupan Berang-Berang

Sayangnya berbagai masalah mengancam populasi berang berang. Berdasarkan ksdae.menlhk.go.id, ancaman yang menghampiri populasi hewan ini di antaranya adalah rusaknya habitat akibat alih fungsi sungai dan lahan.

Tingginya penebangan liar menyebabkan sumber air menghilang dan sungai sungai kecil sebagai habitatnya turut mengering. Rusaknya kualitas air akibat limbah pencemaran juga turut serta membuat sumber pakan kian langka.

Selain itu, alih fungsi sungai dan danau menyebabkan terjadinya konflik antara berang-berang dan manusia yang menganggapnya sebagai hama dan musuh yang menyebabkan populasi terus merosot tajam.

Lebih jauh, ada juga masalah lain seperti perdagangan satwa ilegal hasil dari tangkapan alam. Pemburu mengambil anakan satwa ini setelah sebelumnya menewaskan sang induk. 

Referensi

Otter Specialist Group

Laman KSDAE KLHK

Aadrean dan Muhammad Yunis, Universitas Andalas

Ulfa Hansri Ar Rasyid, dkk., Institut Pertanian Bogor

Penulis: Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page