Burung Maleo, Mengerami Telur dengan Bantuan Panas Bumi

Reading time: 3 menit
burung maleo
Burung Maleo (Macrocephalon Maleo). Foto: wikemedia commons

Burung Maleo (Macrocephalon Maleo) merupakan salah satu aves endemik yang tersebar hampir di semua daratan Sulawesi meliputi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Genus Macrocephalon sendiri berasal dari Yunani ‘makrocephalos’ yang berarti kepala besar. Penamaan ini diberikan karena memang bentuk kepala maleo sedikit aneh dibandingkan kepala burung lain pada umumnya.

Wildlife Conservation Society (WCS) melalui misinya dalam menyelamatkan hidupan liar dan kawasan alami, yaitu memberikan perlindungan empat area sarang maleo yang sangat penting di bentang alam Bogani Nani (TNBNW). Seperti yang dilansir pada laman kompas.com, Balai TNBNW bekerja sama dengan WCS melakukan kegiatan pengelolaan ladang peneluran, berupa pembuatan bangunan penetasan telur (hatchery). Taman Nasional Bogani Nani Wartabone merupakan kawasan benteng pertahanan dari berbagai spesies flora dan fauna untuk tetap bertahan hidup, salah satunya bagi habitat burung maleo.

Maleo masuk dalam daftar CITES Appendix I dan dilindungi Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999. Habitat hidup burung maleo hanya di kawasan tertentu dan sangat peka terhadap kehadiran perubahan. Ancaman di alam terhadap burung endemik ini antara lain pencurian telur oleh masyarakat, pemangsaan telur dan anakan maleo oleh predator seperti biawak dan ular, kerusakan habitat akibat perambahan, illegal logging, banjir atau kebakaran hutan dan lahan, serta perburuan maleo dewasa (dikutip pada laman kompas.com).

Tambahan pula seperti yang dilansir pada laman mongabay.co.id, maleo masuk dalam arahan rencana strategis konservasi spesies nasional. Peningkatan populasinya sebesar 10 persen tercantum dalam kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2014-2019 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai acuan.

burung maleo

Burung Maleo (Macrocephalon Maleo). Foto: wikemedia commons

Secara bentuk fisiknya, burung Maleo dewasa mempunyai panjang paruh 3,5 cm, kepala 3 cm, ukuran panjang badan 19,5 cm, lebar mata 1,5 cm, panjang leher 17 cm, panjang kaki 21 cm, panjang sayap 20 cm, ukuran lingkaran badan burung dewasa 39,5 cm dan bobotnya mencapai ± 1,6 kg (dikutip dalam penelitian Tanari (2007), IPB).

Burung Maleo memiliki umur yang cukup panjang mencapai 25 hingga 30 tahun dan dapat bereproduksi ketika mencapai umur 4 tahun. Maleo termasuk burung yang bersifat monogami, setiap pasangan jantan dan betina hampir dipastikan akan selamanya menjadi pasangan yang tidak terpisahkan.

Burung endemik kebanggaan Sulawesi ini memiliki keunikan yang berbeda dengan burung lainnya. Selain burung Maleo anti poligami, lalu apalagi keunikan dari burung kebanggan Pulau Sulawesi?

Keunikannya adalah burung Maleo termasuk golongan spesies burrow nester (burung yang membuat liang atau lubang). Sebelumnya, tahukah kalian keunikan dari bagian kepala burung maleo? Jika dicermati, pada kepalanya terdapat mahkota yang dinamakan kapseti. Fungsi kapseti adalah untuk mengukur temperatur ketika burung tersebut menggali lubang untuk peletakan telur. Burung maleo tidak mengerami telurnya layaknya burung lain. Telurnya diperam di dalam pasir serta diinkubasi oleh sinar matahari dan panas vulkanik bawah tanah.

Pasangan burung maleo mampu menentukan suhu yang cocok untuk meletakkan telurnya. Proses penetasan dengan bantuan suhu lapisan tanah yang bersumber dari panas bumi tersebut diperkirakan menghasilkan sekitar 30 butir setahun.

Berdasarkan sumber kajian ilmiah, seekor maleo betina mulai mengubur telurnya sedalam sekitar 50 cm dalam pasir di dekat sumber mata air panas atau kondisi geothermal tertentu. Hanya untuk satu butir telur burung tersebut burung ini harus menggali lubang pengeraman selama waktu ±2 jam. Telur yang ditimbun itu kemudian ditinggalkan begitu saja dan tak pernah diurus lagi. Suhu atau temperatur tanah yang diperlukan untuk menetaskan telur maleo berkisar antara 32-35 . Lama pengeraman pun membutuhkan waktu sekitar 62-85 hari.

Setelah menetas anak burung maleo harus menerobos timbunan tanah untuk keluar bergerak ke atas dengan membutuhkan waktu 2-3 hari, selanjutnya anak burung menjalani hidup secara mandiri. Anak maleo mulai menjalani kehidupan di alam bebas secara mandiri tanpa pengawalan induknya, mulai dari aktivitas mencari makan, bertahan hidup sampai mereka dewasa.

burung maleo

Penulis: Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page