Butterflyfish, Ikan Indikator Kesehatan Terumbu Karang

Reading time: 2 menit
butterflyfish
Butterflyfish atau ikan kepe-kepe. Termasuk dalam famili Chaetodontidae. Foto: Ist.

Ternyata kupu-kupu yang kita kenal tidak hanya terdapat di darat saja. Anehnya, untuk kupu-kupu yang satu ini, dia tidak mengonsumsi madu untuk bertahan hidup. Jenis makanannya bervariasi mulai dari karang, plankton, invertebrata, alga, spons dan beberapa tumbuhan laut lainnya. Jadi kupu-kupu apakah yang dimaksud? Ya, kupu-kupu yang akan dibahas dalam artikel kali ini adalah Butterflyfish.

Mengapa disebut Butterflyfish? Karena keberadaannya dapat dijumpai di laut bebas. Seluruh ikan ini memiliki keindahan dan warna-warni cerah dengan garis dimata atau noktah pada bagian tubuh. Tak heran apabila ikan ini menjadi salah satu jenis ikan hias penting pada perdagangan ikan hias laut. Nama lokal dari Butterflyfish sendiri ialah ikan kepe-kepe. Ikan kepe-kepe termasuk dalam famili Chaetodontidae.

Ikan kepe-kepe sangat sering dijadikan bahan penelitian karena ikan ini mudah diidentifikasi. Pada umumnya ikan ini tidak mudah terganggu oleh pengamat. Selain itu, kelimpahan dan keanekaragamannya cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai pembanding dalam skala ruang dan waktu.

Berdasarkan hasil penelitian para pakar dan peneliti di bidang ilmu perikanan dan kelautan, ikan ini terdiri atas 116 jenis yang mewakili 10 marga (genus), di mana 78% masuk dalam marga Chaetodon. Sembilan puluh persen (sekitar 80 jenis) dari ikan kepe-kepe berada di wilayah Indo-Pasifik. Kekayan jenis ikan ini semakin menurun seiring dengan menjauhnya jarak dari wilayah Indo-Pasifik Barat.

Semua ikan kepe-kepe memiliki gigi yang menyerupai sisir. Mulutnya lancip dan rahangnya dilengkapi dengan gigi-gigi kecil dan tajam untuk mencari makanannya di celah-celah karang batu. Tubuhnya berbentuk pipih dan ukurannya tidak terlalu besar, sekitar 15 sentimeter.

Ikan kepe-kepe memiliki pergerakan yang cepat. Beberapa spesies ikan ini mempunyai wilayah teritori tertentu yang sesuai dengan pewarnaannya karena warna ini juga berfungsi untuk penyamaran dan berlindung dari pemangsa. Umumnya ikan ini aktif pada siang hari (diurnal), dan mencari tempat perlindungan pada habitat terumbu di malam hari.

Terdapat lima kategori pemangsaan ikan kepe-kepe yaitu pemangsa karang batu (hard coral feeder), invertebrata sesil termasuk polip karang (invertebrate sesile feeder), invertebrata bentik, omnivor, dan planktivor (umumnya zooplankton).

Beberapa ahli juga menyimpulkan bahwa ikan kepe-kepe merupakan famili ikan yang kehidupannya hanya tergantung dari jaringan hidup polip terumbu karang sebagai sumber makanan (obligate coral feeder). Hal ini membuat ikan kepe-kepe sering dikaitkan dengan kesehatan suatu terumbu karang atau dipakai sebagai indikator perubahan ekosistem pada terumbu karang.

Di sisi lain, ada pendapat yang mengatakan bahwa tidak seluruh jenis ikan kepe-kepe dapat digunakan sebagai indikator perubahan di suatu terumbu karang. Misalnya jenis ikan kepe-kepe planktivor, jenis ini memiliki sifat tidak sensitif terhadap perubahan terumbu karang, ataupun yang omnivor bersifat memakan invertebrata selain karang dan alga, sehingga sangat susah untuk mendeteksi kebiasaan makannya yang selalu berubah dan oportunis.

Untuk mengetahui kondisi terumbu karang pada suatu perairan apakah dalam keadaan baik dan sehat ditentukan melalui keanekaragaman jenis ikan ini, baik dari segi keberadaannya serta kelimpahannya. Semakin banyak keanekaragaman ikan kepe-kepe pada suatu terumbu karang, maka tutupan terumbu karangnya pun tinggi. Begitu juga sebaliknya, apabila keanekaragaman ikannya sedikit dan jarang, maka tutupan terumbu karangpun rendah, dan diindikasikan bahwa kondisi terumbu karang tersebut tidak baik atau buruk.

Walaupun ikan kepe-kepe belum berstatus rentan akan kepunahan, terkadang penangkapannya tidak sesuai dengan ketentuan peraturan yang ada. Penangkapan menggunakan bahan-bahan kimia terlarang dikhawatirkan akan berdampak buruk dan merusak sumber daya yang ada.

butterflyfish

Penulis: Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page