Cleome Rutidosperma, Gulma Cantik yang Bermanfaat

Reading time: 2 menit
Maman lanang
Gulma cantik ini punya segudang manfaat. Foto: Shutterstock

Cleome rutidosperma adalah sejenis tanaman liar yang berkembang secara sempurna di daerah lembap dan beriklim panas. Mereka mempunyai daya adaptasi tinggi, sehingga dapat dengan mudah tertanam di berbagai kawasan.

Maman lanang, daun maman, atau daun lanang merupakan nama lain dari tumbuhan satu ini. Ia kerap awam anggap sebagai gulma karena hidup secara epifit pada area perkebunan.

Salah satu tanaman yang sering dijadikan inang oleh Cleome rutidosperma adalah kelapa sawit. Meski begitu, ia ahli temukan juga menempel di bebatuan atau permukaan kayu.

Tak bisa kita pungkiri, penelitian terhadap daun maman memang terhitung sangat jarang. Walau begitu, tumbuhan satu ini sejumlah pakar sinyalir berguna sebagai tanaman obat.

Morfologi dan Ciri-Ciri Cleome Rutidosperma

Ciri fisik daun maman sejatinya cukup mudah kita kenali. Mereka mampu menghasilkan bunga berwarna ungu muda, sehingga sering pula khalayak juluki sebagai maman ungu.

Spesies Cleome rutidosperma biasanya tumbuh secara tegak, merambat atau merangkak. Pertumbuhan batangnya terbilang cukup pendek karena hanya mencapai 0,5-2 cm.

Daun mahkota bunganya memiliki ujung yang runcing seperti cakar. Panjang bagian tersebut berkisar 9-12 mm, dengan karakteristik pembungaan yang berkembang sepanjang tahun.

Terdapat bulu-bulu halus berukuran pendek di sekitar daun. Tangkai buahnya berbiak 20-30 mm dengan batang kapsul, namun berangsur-angsur meruncing seperti paruh.

Diameter biji daun lanang 1,75-2 mm, elaiosom berwarna keputihan, serta memiliki tiga helaian daun. Bentuk daun memanjang atau elip, karakteristiknya tajam atau tumpul.

Secara klasifikasi, Cleome rutidosperma ilmuwan gabungkan ke dalam famili Cleomaceae. Mereka tergolong sebagai flora berordo Brassicales bersama dengan pepaya dan kubis.

Habitat dan Distribusi Cleome Rutidosperma

Selain area perkebunan, maman lanang juga tumbuh di pinggir jalan, sawah, hingga tepian tebing. Mereka cukup banyak publik jumpai di wilayah Pulau Jawa serta Pulau Kalimantan.

Di Benua Afrika tumbuhan ini dipelihara secara luas sebagai tanaman herbal. Distribusinya pun terbilang cukup luas, sebab ahli naturalisasi sampai ke Benua Asia dan Amerika Tropis.

Melansir berbagai sumber, Cleome rutidosperma adalah rumput tropis dari daerah pesisir. Pertumbuhannya meluas dari Senegal ke Angola, khususnya di daerah-daerah pedalaman.

Di sejumlah negara, pertumbuhan flora ini sebenarnya cukup jamak. Namun eksistensinya masih awam anggap sebagai gulma, seperti di Uganda, Tanzania, Nigeria dan Afrika Barat.

Spesies Cleome rutidosperma masuk dalam daftar Global Compendium of Weeds. Mereka sebagian pakar sebut sebagai gulma, sebab berpotensi merusak produksi pertanian warga.

Padahal, banyak pula penelitian yang telah menunjukkan manfaat dari daun lanang. Ia ilmuwan sinyalir memiliki kandungan aktif yang sangat berguna bagi kesehatan manusia.

Kandungan dan Manfaat Cleome Rutidosperma

Daun maman yang dikumpulkan dari alam liar biasanya awam olah sebagai sup. Sedangkan di Uganda, masyarakat memanfaatkannya sebagai bahan campuran pembuat mentega.

Di Ghana, Gabon dan Kongo, daunnya turut awam manfaatkan sebagai obat sakit telinga dan iritasi kulit, sedang warga Nigeria biasa menggunakannya untuk mengobati kejang.

Lantas, apa saja sih zat-zat yang terkandung di dalam daun Cleome rutidosperma? Merujuk CCRC Farmasi UGM, tanaman ini ahli ketahui memiliki senyawa alkaloida dan flavonoida.

Keduanya merupakan regulator negatif onkogen (kelompok gen pengatur daur sel) dan regulator positif gen tumor suppressor, sehingga berpotensi sebagai obat antikanker.

Mereka bahkan mempunyai zat-zat antimikroba yang ilmuwan prediksi mampu mengobati penyakit patogen akibat serangan jamur, bakteri, hingga virus pada tubuh manusia.

Perlu Anda ketahui, cita rasa daun Cleome rutidosperma sebenarnya cukup pahit. Karena warnanya indah, tak jarang pula masyarakat memanfaatkannya sebagai penghias halaman.

Taksonomi Spesies Daun Maman

Penulis : Yuhan al Khairi

Top
You cannot copy content of this page