Kelapa Sawit, Tanaman Serbaguna yang Kontroversial

Reading time: 4 menit
kelapa sawit dari dekat
Kelapa Sawit, Tanaman Serbaguna yang Kontroversial. Foto: Shutterstock.

Tanaman satu ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi dan berkontribusi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Meski demikian, tanaman ini banyak menimbulkan pro dan kontra karena penanamannya yang masif dan menimbulkan masalah terhadap lingkungan. Dialah kelapa sawit.

Sejarah Kelapa Sawit

Flora yang muncul dalam gambar koin lawas seribu rupiah ini memiliki sejarah panjang. Ilmuwan mencatat penggunaan minyak sawit bermula sejak tiga ribu tahun sebelum masehi. Pada akhir 1800-an, para arkeolog menemukan  minyak sawit di sebuah makam yang terletak di Abydos, Mesir. Ilmuwan ini meyakini para pedagang Arab membawa minyak tersebut ke Mesir. Selain itu, pada pertengahan abad ke-15 para ahli juga menemukan catatan tertulis tentang wisatawan Eropa yang bepergian ke Afrika Barat menggunakan minyak sawit sebagai bahan makanan lokal. Kemudian, pada abad ke-16 dan 17, minyak sawit merah menjadi barang penting dalam mengembangkan jaringan perdagangan yang memasok karavan dan kapal perdagangan di kawasan Atlantik.

Sejarah menjelaskan tanaman ini menjadi populer setelah Revolusi Industri pada akhir abad ke-19 yang menyebabkan permintaan minyak nabati untuk bahan pangan dan industri sabun menjadi tinggi. Flora ini pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1848. Ketika itu ada empat batang bibit yang dibawa dari Maritius dan Amsterdam untuk ditanam di Kebun Raya Bogor. Budi daya minyak kelapa sawit secara komersial berlangsung sejak 1911. Kala itu, budi daya pertama kali berkembang di daerah pantai timur Sumatra di bawah pemerintahan Belanda. 

Hanya dalam kurun waktu beberapa dekade, Indonesia telah menjadi produsen minyak sawit mentah terkemuka dunia. Indonesia melampaui Malaysia pada tahun 2007. Dengan produksi 23,9 Mt pada tahun 2011, Indonesia
menyumbang 49,7% dari produksi dunia, diikuti oleh Malaysia (37,8%), Thailand (3,2%), Nigeria (1,8%) dan Kolombia (1,7%).

Nama Ilmiah Kelapa Sawit

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq) merupakan penamaan dari Elais guineensis yang diberikan oleh Jacquin pada tahun 1763. Kata Elaeis (Yunani) berarti minyak, sedangkan kata guineensis dipilih berdasarkan keyakinan Jacquin bahwa flora ini berasal dari Guinea (Afrika). Pemanggilan kelapa sawit dalam bahasa inggris adalah oil palm. 

Morfologi Kelapa Sawit

Secara morfologi tanaman kelapa sawit masuk dalam kategori tumbuhan monokotil yang tidak memiliki akar tunggang. Batangnya tidak mempunyai kambium dan umumnya tidak bercabang. Batang kelapa sawit berbentuk silinder dengan diameter 20 – 75 cm.

Kelapa sawit termasuk tanaman keras (tahunan) yang mulai menghasilkan buah pada umur 3 tahun dengan usia produktif hingga 25–30 tahun. Tinggi maksimum kelapa sawit yang ditanam di perkebunan antara 15 –18 m, sedangkan yang di alam mencapai 30 m. Tanaman kelapa sawit rata-rata menghasilkan buah sebanyak 20 – 22 tandan/tahun.

Kegunaan Minyak Sawit

Produk utama kelapa sawit adalah minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan minyak inti sawit (palm kernel oil/PKO), yang selanjutnya menjadi bahan baku industri hilir pangan maupun non pangan.

Pada industri pangan, flora ini merupakan tanaman penghasil minyak nabati yang banyak digunakan karena berbagai keunggulan yang dimilikinya dibandingkan dengan minyak yang dihasilkan oleh tanaman lain. Keunggulan tersebut diantaranya memiliki kadar kolesterol rendah, bahkan tanpa kolesterol.

Produk yang kita gunakan sehari-hari pun tidak lepas dari kandungan minyak nabati ini. Sebut saja lipstik, mie instan, sabun cuci, cokelat, sampai es krim. Tidak heran bila permintaan tanaman ini terus meningkat. India adalah importir minyak sawit terbesar di dunia, membeli lebih dari 9 juta ton per tahun terutama dari Indonesia dan Malaysia. 

Baca juga: Mengenal Perkutut Eropa, si Turtle Dove nan Romantis

Benih perkebunan kelapa sawit

Walaupun kaya akan manfaat, kelapa sawit penuh dengan kontroversi. Foto: Shutterstock.

Kendala 

Beberapa kendala industri sawit antara lain sistem monokultur pada proses budi daya yang memacu hilangnya keragaman hayati. Sistem monokultur juga mengakibatkan kerentanan alam seperti turunnya kualitas lahan dan merebaknya hama dan penyakit tanaman. Selain itu, untuk budidaya tanaman ini memerlukan jumlah air yang sangat banyak mencapai 12 liter per pohon; dan aktivitas pembukaan kebun seringkali dengan membakar hutan dan menimbulkan polusi udara yang parah. Asap ini bahkan bisa terbawa angin sampai ke negeri tetangga.

Untuk meningkatkan daya saing industri palm oil Indonesia di pasar dunia dengan tetap menjaga kualitas lingkungan, pemerintah Indonesia telah memberlakukan kebijakan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Seperti dilansir Greeners.co, ISPO dibentuk pada tahun 2009 oleh pemerintah Indonesia untuk memastikan bahwa semua pengusaha kelapa sawit memenuhi standar pertanian yang diizinkan.

“Industri kelapa sawit terdiri dari perkebunan besar, pengolahan, dan konsumen yang memiliki berbagai kepentingan, sulit untuk mengambil kebijakan yang tepat. Oleh karena itu, sertifikasi ISPO sebagai instrumen tata kelola berkelanjutan menjadi fokus pemerintah untuk industri ini,” ujar Diah Y. Suradiredja, program director Yayasan Kehati sekaligus Tim Penguatan ISPO.

Kontroversi 

Selain penjabaran di atar, flora ini masih menyimpan kontroversi lainnya. Permintaan yang terus meningkat menjadikan komoditas ini sebagai sorotan. Sepanjang tahun 2000 sampai 2015, rata-rata global per individu mengonsumsi  minyak sawit sebanyak 7,7 kg. Para pakar memprediksi permintaan minyak sawit akan melonjak tiga kali lipat dari 2015 pada tahun 2050. Berikut beberapa poin kontroversi pemanfaatan flora ini.

Dampak Sosial

Produksi minyak sawit sering terkait dengan korupsi, penggusuran paksa, dan perampasan tanah. Hal tersebut memicu konflik dengan masyarakat lokal, termasuk masyarakat adat. Ada juga kekhawatiran serius tentang kerja paksa, pekerja anak dan pelanggaran hak pekerja di beberapa perkebunan.

Membahayakan Hutan dan Keanekaragaman Hayati

Perkebunan dan pabrik kelapa sawit sekarang menutupi area gabungan seukuran Suriah. Peneliti memperkirakan 60 persen dari lahan ini sebelumnya tertutup hutan. Banyak dari deforestasi ini terjadi di Indonesia dan Malaysia, menghancurkan habitat makhluk langka seperti orangutan, harimau, badak, dan gajah.

Dampak Iklim

Menurut penilitian, mengganti hutan hujan dengan perkebunan kelapa sawit melepaskan 61 persen karbon yang tersimpan di hutan, sebagian besar ke atmosfer. Setiap hektar hutan hujan yang pabrik sawit konversi melepaskan 174 ton karbon.

Taksonomi Kelapa Sawit

devisa

Sumber: 

Green Palm

World Agro Forestry

JSTOR

Eco-Business

Penulis: Sarah R. Megumi

Editor: Ixora Devi

Top
You cannot copy content of this page