Dari Sapi oleh Manusia untuk Lingkungan

Reading time: 4 menit
Dari Sapi oleh Manusia untuk Lingkungan

Berawal dari kotoran sapi yang diolah menjadi biogas membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Melalui teknologi terapan, pembuatan biogas berbahan dasar kotoran ternak (terutama kotoran sapi) berpeluang menjadi solusi alternatif untuk mengatasi masalah bahan bakar minyak (BBM), khususnya krisis minyak tanah dan pencemaran lingkungan.

Oleh Feri Ferdinan | Foto oleh Arya Fajar | Artikel ini diterbitkan pada edisi 04 Vol. 2 Tahun 2007

 

Tono bertanya kepada ibunya “bu, mengapa makanannya belum siap?” kemudian ibunya menjawab “sabar ya nak, ibu sedang menunggu minyak tanah dari kakakmu untuk menyalakan kompor”. Tapi Tono tidak mau tahu dan melanjutkan rengekannya “cepet dong bu, perutku sudah lapar”,  “tunggu sebentar lagi ya”, balasnya sabar.  Tak lama, Tini kakaknya Tono datang membawa minyak tanah seraya berkata “maaf agak lama bu, antriannya panjang”.  Namun, ibu heran dengan jerigen yang dibawa Tini kini lebih ringan. “kamu beli berapa liter Tin?” tanya ibu, Tini menjawab sambil memijat-mijat kakinya yang kelelahan berdiri saat antri “sekarang cuma bisa membawa tiga liter saja”, dan memberi alasan “harganya naik lagi bu, jadi uang yang ibu kasih tidak cukup untuk membeli minyak sebanyak empat liter”.

Kini peristiwa di atas biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari.  Masyarakat kerap mengeluhkan kelangkaan BBM dan harganya yang terus melambung. Namun karena kebutuhan harian manusia harus tetap terpenuhi, tak ayal masyarakat menjadi ketergantungan terhadapnya. Untuk mengatasi situasi seperti ini, pencarian, pengembangan, dan penyebaran teknologi energi non BBM yang ramah lingkungan menjadi penting. Terutama ditujukan pada kalangan miskin sebagai golongan yang paling terkena dampak kenaikan BBM.

Masalah BBM mungkin bisa teratasi dengan bantuan ternak sapi. Pasalnya, ada satu temuan ramah lingkungan yang dapat digunakan untuk menggantikan penggunaan minyak dalam kehidupan sehari-hari. Namanya adalah biogas. Pembuatan biogas di Indonesia menggunakan bahan dasar dari kotoran sapi. Seperti kita tahu, sudah sejak lama sapi memberikan kontribusi penting dalam memenuhi kebutuhan manusia hampir di seluruh dunia. Karena manfaatnya yang begitu besar, manusia kerap menjadikan sapi sebagai hewan ternak. Populasinya pun sangat luas. Bahkan penyebaran hewan ini lebih merata dibanding domba dan kambing. Pola pemeliharaannya juga bervariasi, mulai dari tingkat petani peternak yang memelihara beberapa induk, sampai peternakan besar yang memiliki beberapa ratus induk.

Secara umum, sapi dibedakan menjadi dua yaitu, sapi perah dan sapi potong. Tetapi, seperti yang dikatakan dalam makalah Sientje Daisy Rumetor, seorang mahasiswa pasca sarjana IPB, sapi perah memiliki sifat yang sama dengan sapi potong secara fisiologis. Sifat yang dimaksud adalah lama kehamilan, siklus birahi, prinsip-prinsip reproduksi, fungsi dan bagian saluran cerna serta kebutuhan dan pemanfaatan nutrien.

Sapi perah sangat efisien dalam mengubah pakan ternak berupa konsentrat dan hehijauan menjadi susu yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Oleh sebab itu sapi berhasil menjadi penghasil susu yang lebih dominan daripada ternak perah lainnya. Di negara-negara maju, sapi perah dipelihara dalam populasi yang tinggi karena diyakini sebagai salah satu sumber kekuatan ekonomi bangsa. Dalam bukunya yang bertajuk Bioindustrial Ecosystems, Cole and Brander mengestimasi rata-rata produksi susu induk sapi perah di dunia adalah 1955 kg per tahun, bahkan di Inggris, produksi susu per induk tidak kurang dari 5000 liter.

Top