Gurita, Fauna Cerdas dari Dasar Laut

Reading time: 3 menit
gurita
Gurita (Octopoda). Foto: wikimedia.org

Masih ingatkah Anda tentang ‘Paul’, si gurita ajaib dari Jerman yang selalu tepat memprediksi hasil ramalan pertandingan Piala Dunia 2010? Karena tebakannya, banyak orang awam menganggap bahwa hewan ini adalah hewan peramal.

Sebenarnya kekuatan menebak yang dimiliki gurita Paul bukan dari kekuatan magis atau supranatural. Kekuatan menebaknya berasal dari tingkat intelegensi yang tinggi dibandingkan hewan laut lainnya dan kepintarannya ini tercermin dari keunikan tingkah lakunya. Tidak heran kalau satwa ini menjadi hewan paling cerdas di antara semua hewan invertebrata.

Gurita (Octopoda) merupakan salah satu hewan laut yang termasuk ke golongan moluska atau yang bertubuh lunak dan tidak memiliki cangkang seperti cumi-cumi dan sotong. Pada umumnya, banyak orang yang menganggap satwa ini merupakan satu spesies dengan cumi-cumi, namun sebetulnya mereka sama sekali berbeda. Kemiripan hanya terlihat sekilas dari bentuk fisiknya saja.

Dibandingkan cumi-cumi, gurita memiliki ukuran tentakel yang paling panjang. Jumlah tentakel pada cumi-cumi dan sotong adalah sebanyak 10 buah, sedangkan jumlah tentakel gurita hanya 8 buah. Cumi-cumi memiliki sepasang sirip di ujung ekornya, dan gurita sama sekali tidak memiliki sepasang sirip. Cumi-cumi selalu bergerak dengan berenang, sedangkan gurita mampu berenang dan merayap.

Karena memiliki tulang yang lunak, tubuh gurita sangatlah fleksibel dan dapat menyelipkan diri pada celah batuan sempit di dasar laut, khususnya saat ingin melarikan diri dari serangan predator. Fauna laut ini memiliki tiga mekanisme pertahanan diri yaitu kantong tinta, kamuflase dan memutuskan lenagan. Uniknya kedelapan lengan gurita dapat diputuskan sewaktu-waktu, tujuannya adalah untuk melindungi diri dari musuh (metode ini serupa dengan metode perlindungan pada cicak).

gurita

Gurita (Octopoda). Foto: wikimedia.org

Gurita juga terkenal cukup besar dikelasnya. Beratnya hampir mencapai 40 kilogram. Warnanya pun dapat berubah sewaktu-waktu sesuai pola lingkungan sekitar. Umumnya mereka berwarna abu-abu pucat atau putih.

Mulut satwa ini terdapat dalam cincin lengan. Pada bagian dalam mulut terdapat sepasang rahang yang saling tumpang tindih berbentuk seperti paruh kakatua terbalik dan juga gigi parut atau radula. Dalam genom gurita juga ditemukan gen yang dapat membuatnya dapat mengecap rasa menggunakan penghisap. Penghisap ini juga berfungsi untuk menangkap mangsa.

Selain itu juga ditemukan gen yang dapat bergerak pada genom (dikenal sebagai transposon), yang mungkin berperan dalam meningkatkan pembelajaran dan memori, keistimewaan itu membuat hewan ini memiliki ingatan jangka pendek dan jangka panjang.

Menurut Wood et al (1997), gurita memiliki dua mata yang besar dan menonjol di sekitar pinggiran kepala. Ia punya medan penglihatan hampir 360˚ sehingga mampu mendeteksi mangsa dan musuh. Matanya memiliki kelopak mata, kornea, lensa dan retina yang mirip dengan mata hewan vertebrata. Mata dapat digerakkan, menutup, membuka, dikedipkan serta dapat memfokuskan dengan baik bayangan obyek yang terlihat.

Disamping itu, satwa ini juga sebagai gambaran monster legendaris penguasa lautan yang dikenal dengan nama ‘Kraken’. Kraken adalah seekor monster yang digambarkan sebagai makhluk raksasa yang berdiam di lautan wilayah Islandia dan Norwegia. Makhluk ini disebut sering menyerang kapal yang lewat dengan cara menggulungnya dengan tentakel raksasanya dan menariknya ke bawah laut.

Kata Kraken sendiri berasal dari kata “Krake” bahasa Skandinavia yang merujuk kepada hewan yang tidak sehat atau sesuatu yang aneh. Kata ini masih digunakan di dalam bahasa Jerman modern untuk merujuk kepada Gurita. Begitu populernya makhluk ini sampai-sampai ia muncul dalam film-film populer seperti Pirates of the Caribbean dan Clash of The Titans.

Mungkin banyak yang mengira Kraken adalah monster khayalan atau bagian dari dongeng, namun sebenarnya tidak demikian. Sebutan Kraken pertama kali muncul dalam buku Systema Naturae yang ditulis Carolus Linnaeus pada tahun 1735. Bapak Linnaeus adalah orang yang pertama kali mengklasifikasi makhluk hidup ke dalam golongan-golongannya. Dalam bukunya itu, ia mengklasifikasikan Kraken ke dalam golongan Chepalopoda dengan nama latin Microcosmus, sehingga kraken (gurita) menjadi sebuah cikal-bakal dalam perjalanan sains modern.

gurita

Penulis: Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page