Babi Berjanggut, Penjelajah Hutan yang Hampir Punah

Reading time: 2 menit
Babi Berjanggut
Babi Berjanggut (Sus Barbatus). Foto: shutterstock.com

Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan tropis terluas dan beragam keanekaragaman hayati di dunia. Hutan ini menjadi habitat bagi banyak flora dan fauna, salah satunya babi berjanggut.

Babi berjanggut adalah salah satu dari 73 spesies mamalia yang telah diidentifikasi di daerah Restorasi Ekosistem Riau (RER) di Semenanjung Kampar. Babi ini memiliki rambut di sepanjang rahang bawah dan menyerupai janggut yang menjadi ciri khasnya  dibanding babi jenis lain.

Terdapat dua subspesies dari babi berjanggut, yaitu Sus barbatus barbatus yang ditemukan di Kalimantan, Indonesia dan Kepulauan Sulu di Filipina. Sedangkan Sus barbatus oi berada di Semenanjung Melayu, Bangka, Kepulauan Riau, dan Sumatera.

Baca juga: Babirusa, Fauna Endemik Sulawesi yang Semakin Langka

Babi berjanggut memiliki tubuh yang besar. Beratnya bisa mencapai 120 hingga 200 kilogram. Babi dengan jenis kelamin pria biasanya memiliki panjang tubuh dari 137 cm hingga 152 cm. Sedangkan, babi wanita lebih kecil, yaitu sekitar 122 cm hingga 148 cm.

Pada saat muda biasanya memiliki janggut berwarna kehitaman dan menjadi pucat seiring bertambahnya usia. Sedangkan babi berjanggut dewasa mempunyai janggut dengan perpaduan warna abu-abu, kuning atau putih. Babi berjanggut juga memiliki dua pasang benjolan mirip kutil di kedua sisi mulutnya yang ditutupi dengan rambut panjang, kaku, dan berwarna keputihan.

Habitat alami spesies ini adalah hutan dan nomaden. Kawanan babi berjanggut akan pindah ke rumah baru yang memiliki sumber makanan lebih banyak. Babi berjanggut termasuk hewan pemakan segala, ia mengonsumsi buah-buahan, biji-bijian, hingga binatang kecil yang jatuh di tanah seperti cacing dan serangga. Mereka juga mencari binatang mati yang sekaligus membersihkan hutan bangkai busuk.

Babi Berjanggut

Babi Berjanggut (Sus Barbatus). Foto: shutterstock.com

Secara umum, babi berjanggut bisa hidup hingga 13 tahun. Babi betina dapat menghasilkan anak setelah mereka berumur 10 hingga 20 bulan. Dalam hal membuat sarang, betina memiliki peran yang lebih dominan daripada babi jantan. Babi betina membuat sarang dengan daun dan semak untuk tempat melahirkan antara tiga hingga 11 bayi.

Anak-anak babi dilahirkan dengan garis-garis pucat di seluruh tubuhnya. Garis-garis ini mulai memudar dan menghilang saat babi berjanggut mencapai usia lima Minggu atau ketika bulu mulai tumbuh.

Hampir punah

Sus Barbatus dapat hidup di lingkungan yang paling terdegradasi. Kemampuannya  beradaptasi dan menjadi pemakan segala menjauhkannya dari ambang kepunahan. Meski demikian babi berjanggut tetap masuk daftar merah Serikat Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Ini mengindikasikan degradasi hutan Kalimantan sudah parah.

Spesies ini telah memegang status rentan sejak 2008. IUCN mencatat terjadi penurunan drastis pada tingkat populasi spesies. Penurunan terjadi hingga 30 persen hanya dalam waktu 21 tahun atau setara tiga generasi. Penyebab dari kondisi yang mengkhawatirkan ini adalah hilangnya habitat spesies akibat eksploitasi dan degradasi hutan.

Babi berjanggut juga diburu untuk dikonsumsi oleh banyak orang di wilayah Kalimantan. Masyarakat Kalimantan yang secara tradisional memburu babi hutan berada di garis depan dalam mendeteksi perubahan pada perilaku binatang yang penuh karisma ini. Mereka bahkan lebih efisien daripada ahli ekologi terkemuka. Mereka adalah penjaga lingkungan yang dapat menjadi mitra berharga bagi komunitas ilmiah internasional dalam memantau dan memahami berbagai penggerak perubahan, termasuk perubahan iklim yang mempengaruhi hutan.

Taksonomi Babi Berjanggut

Penulis: Krisda Tiofani

Top