Kijang, Fauna Khas yang Patut Dijaga Kelangsungan Hidupnya

Reading time: 3 menit
fauna khas
Kijang. Foto: pixabay.com

Kijang adalah fauna yang paling banyak penyebarannya, namun terbanyak berada di wilayah Asia. Menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), status konservasi muncak (kecuali M. criniforns) adalah tergolong “least concern” (LC) atau berisiko rendah untuk punah (IUCN 2011). Meski demikian, seluruh sub spesies kijang yang tersebar di Indonesia telah dilindungi seperti yang tercantum dalam Daftar Lampiran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 sejak tanggal 27 Januari 1999 (PHKA 2004).

Beberapa sumber menyatakan bahwa mulanya kijang berasal dari ‘Dunia Lama’ dan telah ada sejak 15 – 35 juta tahun yang silam. Dunia lama adalah sebagian wilayah dunia yang terdiri dari Eropa, Asia, dan Afrika (secara kolektif disebut sebagai benua Afro-Eurasia) sebelum ditemukannya Dunia Baru (Benua Amerika) oleh Christopher Columbus.

Adapun sub spesies kijang menurut Ma et al. (1991) dalam tulisan ilmiah mereka yang berjudul “Taxonomy and Phylogenetic Studies on The Genus Muntiacus”, kijang yang tersebar di Indonesia adalah M. m. montanus, M. m. nainggolani, M. m. rubidus, M. m. pleicharicus, dan M. m. muntjak. Persebaran muncak di Indonesia meliputi Sumatera (M. m. montanus), Bali dan Lombok (M. m. nainggolani), Kalimantan Utara (M. m. rubidus), Kalimantan Selatan (M. m. pleicharicus), dan Jawa dan Sumatera bagian selatan (M. m. muntjak).

Secara umum tubuh seluruh spesies kijang ditutupi oleh rambut pendek, lembut, berwarna kuning hingga coklat tua serta abu-abu kecoklatan. Rata-rata umur kijang bisa mencapai 16 tahun. Rambut di bagian perut berwarna lebih terang. Pada kijang jantan memiliki ukuran lebih besar dari betina dengan berat badan 22 kg (jantan) dan 20 kg (betina).

Mereka juga memiliki ranggah, taring dan kelenjar preorbital di bagian frontal wajah. Kelenjar ini berfungsi sebagai penghasil sekreta yang berfungsi sebagai marker untuk menentukan daerah teritorialnya.

Tanduk, taring dan gonggongan

Kijang jantan menggunakan beberapa organ tubuhnya untuk mempertahankan diri, seperti tanduk, taring, maupun suaranya. Organ-organ ini juga digunakan dalam aktivitas reproduksi.

Ranggah atau tanduk merupakan organ asesoris reproduksi sekunder yang tumbuh apabila seekor rusa jantan telah mencapai pubertas (Wallace dan Birtles, 1985). Selain sebagai simbol keindahan, ranggah juga digunakan sebagai organ pertahanan saat terjadi perkelahian dengan jantan lainnya (Price et al. 2005).

Ciri khas lainnya pada kijang jantan adalah sepasang gigi taring atas yang tumbuh dari os maxillaris dengan ukuran sekitar 2 cm yang tetap terlihat saat mulutnya tertutup. Saat melakukan aktivitas reproduksi, taring lebih berperan sebagai alat pertahanan saat terjadi kompetisi dengan jantan lainnya dari pada ranggah (Chapman 1997).

Kijang juga memiliki vokalisasi spesifik berupa suara gonggongan sebagai panggilan atau peringatan kepada kijang lainnya agar menghindar dari predator. Namun vokalisasi tersebut tidak digunakan pada saat aktivitas reproduksi dan untuk penentuan teritorialnya.

Perilaku reproduksi kijang yaitu poligami pada jantan dan poliestrus pada betina. Aktivitas organ reproduksi jantan dan betina berlangsung setelah kijang berumur di atas satu tahun.

Kekhawatiran akan punahnya kijang di Indonesia menjadi sebuah alasan penting dilakukannya upaya-upaya penyelamatan ekosistem kijang. Penurunan populasi kijang antara lain disebabkan oleh perburuan liar dan penebangan pohon secara ilegal yang terus meningkat sehingga turut mengurangi habitat kijang di hutan yang kemudian dapat memicu kepunahan populasi kijang.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sri Wahyuni (2012), mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), untuk menjaga kestabilan ekosistem kijang, maka upaya konservasi dapat dilakukan dengan beberapa alternatif seperti kegiatan pengembangbiakan baik secara alamiah, maupun dengan penerapan teknologi reproduksi seperti inseminasi buatan.

fauna khas

 

Penulis: Sarah R. Megumi

Top
You cannot copy content of this page