Mengenal Keruing, Flora yang Mendominasi Pulau Kalimantan

Reading time: 3 menit
bunga keruing
Mengenal Keruing, Flora yang Mendominasi Pulau Kalimantan. Foto: Shutterstock.

Berikut adalah pemaparan tentang keruing, flora yang banyak tumbuh di hutan hujan tropis Kalimantan.

Hutan hujan tropika merupakan vegetasi yang paling kaya, baik dalam arti jumlah jenis makhluk hidup maupun dalam tingginya nilai sumber daya lahan (tanah, air, cahaya matahari) yang ia miliki.

Hutan hujan tropis juga berjuluk “farmasi terbesar dunia” karena hampir 1/4 obat modern berasal dari tumbuhan di hutan hujan ini (Rainforest Concern, 2008).

Tumbuhan jenis Dipterokarpa mendominasi hutan hujan tropis Kalimantan. Salah satu genusnya adalah Keruing (Dipterocarpus spp).

Persebaran dan Morfologi 

Tumbuhan ini menyebar dari India, Burma, Vietnam sampai Indonesia. Di Tanah Air, flora ini tumbuh di Aceh, Bali, Lombok, Sumbawa dan Jawa bagian barat.

Genus ini memiliki batang pohon besar dan cenderung menjadi pohon dominan di hutan. Secara morfologi, tanaman ini berupa pohon berukuran sedang sampai besar. Pohon dengan nama lokal Palahlar ini tumbuh dalam hutan primer ketinggian 800 – 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Ketinggian tajuknya dapat mencapai 65 meter. Sedangkan batang flora ini berbentuk lurus dan bulat gilig dengan gemang mencapai lebih dari 150 hingga 260 sentimeter. Apabila kita melukai batang dan rantingnya, ia akan mengeluarkan resin yang berlimpah.

Pemanfaatan Kayu Keruing

Kayu keruing terkenal pada industri pengolahan kayu. Kayu flora ini juga merupakan salah satu jenis kayu komersial yang telah secara luas menjadi bahan baku di industri pengolahan kayu.

Pada umumnya kayu dari jenis Dipterocarpus mudah dan cepat menyerap zat pengawet seperti kreosot atau campuran pengawet dasar tembaga kromium-arsen.

Biasanya industri tersebut membutuhkan kayu jenis ini sebagai bahan bangunan rumah, bahan bubur kayu untuk pembuatan kertas, perahu, ataupun perabotan rumah tangga. Alasannya tak lain karena sifatnya yang sangat awet.

Popularitas dan nilai jual kayu ini pun cukup baik di pasaran. Keruing yang melewati proses pengawetan bisa tahan hingga dua puluh tahun dalam penggunaannya. Kayu flora ini juga biasa masyarakat gunakan untuk membuat arang.

Namun untuk memperoleh kayu keruing, kita harus menebang pohon keruing, artinya pemanfaatan pohon keruing hanya bisa sekali saja.

kayu keruing

Kayu flora ini juga merupakan salah satu jenis kayu komersial yang telah secara luas menjadi bahan baku di industri pengolahan kayu. Foto: Shutterstock.

Baca juga: Burung Hantu, Satwa Malam dengan Jenis yang Beragam

Manfaat Minyak Keruing

Salah satu solusi pemanfaatan pohon ini secara berulang-ulang adalah mengambil hasil hutan bukan kayu, berupa minyak keruing. Minyak dari flora ini memiliki banyak manfaat, di antaranya sebagai biomedis dan biokosmetik. 

Minyaknya yang merupakan resin cair (oleoresin) juga pengrajin gunakan sebagai pernis bangunan interior.

Ada juga warga yang memanfaatkan minyak ini sebagai bahan obat-obatan (ugm.ac.id). Warga India telah menggunakan minyak tersebut secara turun-menurun dalam pengobatan.

Secara tradisional, warga menggunakan oleoresin tanaman ini sebagai obat pelancar kencing dan untuk menangani luka infeksi.

Oleoresin tersebut mengandung humulene, β-caryophyllene dan sesquiterpene alkohol.

Menurut ahli, minyak ini dapat warga gunakan sebagai bahan obat karena memiliki beberapa aktifitas farmakologi.

Sayangnya, tingginya permintaan minyak keruing mengakibatkan ancaman terhadap keberadaan pohon keruing liar yang masih tersisa di hutan atau alam.

Taksnomi Keruing

taksonomi keruing

Referensi: 

Andrian Fernandes, dkk., dalam Bunga Rampai Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu Indonesia untuk Mendukung Sustainable Development Goals

Penulis: Sarah R. Megumi

Editor: Ixora Devi

Top