Komodo, Kadal Purba Terbesar di Dunia dari Nusa Tenggara Timur

Reading time: 3 menit
Komodo di Pulau Rinca NTT. Foto : Shutterstock

Dibanding hewan langka lainnya, nama Ora atau Komodo (Varanus komodoensis) tentu menjadi salah satu yang paling populer di masyarakat. Spesies kadal terbesar yang ada di dunia ini adalah satwa endemik Indonesia, sebab hanya bisa kita temukan di sekitar Kepulauan Nusa Tenggara.

Di habitatnya, Varanus komodoensis dianggap sebagai predator puncak dengan tampilan yang menyeramkan. Mereka dapat berbiak hingga sepanjang 2 – 3 m dengan berat mencapai 100 kg.

Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Flores, Pulau Gili Motang dan Pulau Gili Dasami di Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan tempat tinggal atau habitat asli hewan berfamili Varanidae ini.

Meski didaulat sebagai satwa dilindungi oleh negara, nyatanya populasi komodo terus mengalami penurunan. Menurut IUCN Red List, status konservasi ora berada pada level rentan (vulnerable).

Morfologi dan Ciri-Ciri Hewan Komodo

Di alam liar, hewan komodo umumnya tumbuh hingga seberat 70 kg. Namun, spesies liar terbesar yang pernah ahli temukan mempunyai panjang sekitar 3,13 m dengan berat mencapai 166 kg.

Secara morfologi, ora jantan dan betina dapat kita bedakan dari ukuran tubuhnya. Sang pejantan biasanya berukuran lebih besar, dengan ciri warna kulit abu-abu gelap sampai merah batu bata.

Sedang betina memiliki warna kulit hijau kecokelatan, serta terdapat bercak kuning kecil di bagian tenggorokan. Warna kulit anakan lebih variatif, yakni kuning, hijau, putih dengan corak hitam.

Setidaknya ada 60 buah gigi di dalam mulut komodo. Panjang gigi tersebut mencapai 2,5 cm, dengan bentuk bergerigi dan tajam. Lidah hewan ini panjang dan bercabang, warnanya kuning kecokelatan.

Menurut pakar, spesies Varanus komodoensis mampu melihat hingga sejauh 300 m. Namun karena retinanya cuma memiliki sel kerucut, indera penglihatan mereka cenderung buruk saat malam hari.

Ora mampu membedakan warna, namun tidak begitu mahir membedakan objek yang tak bergerak. Mereka tergolong sebagai hewan yang tuli meskipun dianugerahi dua pasang lubang telinga.

Makanan dan Pola Reproduksi Biawak Komodo

Seperti yang kita ketahui, komodo merupakan hewan pemakan daging (karnivora). Mereka berburu mangsanya dengan cara mengendap-endap, lalu menyerang korbannya secara tiba-tiba.

Ketika mangsanya sudah dalam jarak yang terjangkau, mereka segera melakukan langkah penyerangan dengan cara menggigit sisi bawah tubuh atau tenggorokan lawan.

Jika ukuran korban tergolong kecil hingga sedang, ora mampu memakan hewan tersebut dalam sekali telan. Namun proses ini membutuhkan waktu 15 – 20 sampai makanan benar-benar tercerna.

Uniknya meski memiliki mata yang tajam, komodo menemukan korbannya dengan menggunakan lidah. Lidah mereka dapat mendeteksi bau mangsa, binatang mati atau sekarat hingga sejauh 9,5 km.

Musim kawin komodo sendiri berlangsung antara bulan Mei sampai dengan Agustus. Selama periode ini, para pejantan sering berkelahi untuk memperebutkan sang betina dan wilayah kekuasaannya.

Selama masa perkawinan, pejantan akan menggosokkan dagu mereka pada si betina. Langkah itu pun disertai dengan garukan keras di atas punggung, lalu dilanjutkan dengan gerakan menjilat.

Kopulasi terjadi ketika pejantan memasukan salah satu hemipenisnya ke kloaka betina. Namun karena sifatnya yang monogamous, memiliki pasangan bukanlah tujuan akhir spesies hewan ini.

Fakta-Fakta Menarik Seputar Komodo

Seiring banyaknya penelitian yang telah ahli lakukan terhadap komodo, semakin banyak pula fakta-fakta menarik yang dapat diketahui dari hewan tersebut. Berikut Greeners rangkum di antaranya:

1. Sang Betina Mampu Berbiak Tanpa Kawin

Di tahun 2006, sebuah penelitian menunjukkan bahwa biawak ora betina dapat bereproduksi secara aseksual melalui proses Partenogenesis. Karena itu, ia mampu menghasilkan telur meski tidak kawin.

2. Makanan Komodo Dapat Meracuni Mereka

Metabolisme pencernaan ora terbilang sangat lambat. Sehingga apabila santapan yang ia telan tidak cepat tercerna, makanan tersebut akan menjadi racun serta mampu membunuh mereka.

Setelah makan, ora berjalan menyeret tubuhnya yang kekenyangan ke area terbuka untuk berjemur. Proses berjemur sendiri pakar yakini adalah upaya mempercepat proses pencernaan.

3. Mulut Biawak Ora Mempunyai Bisa

Mereka memang tergolong sebagai pemakan bangkai, namun bukan berarti racun yang ada pada mulut mereka (sebagain besar) berasal dari bangkai yang hewan tersebut konsumsi.

Para peneliti dari Universitas Melbourne (2005) menyimpulkan, bahwa biawak Perentie (Varanus giganteus), kadal dari suku Agamidae, serta biawak lainnya kemungkinan memiliki semacam bisa.

Bakteri yang paling mematikan di air liur ora diperkirakan adalah bakteri Pasteurella multocida. Selain itu, sebanyak 28 bakteri Gram-negatif dan 29 Gram-positif telah diisolasi dari air liur mereka.

Penulis : Yuhan Al Khairi

sumber : greeners.co

Top
You cannot copy content of this page