Pemanfaatan Tanaman Obat dari Beragam Suku Nusantara

Reading time: 3 menit
Pemanfaatan Tanaman Obat dari Beragam Suku Nusantara
Pemanfaatan Tanaman Obat dari Beragam Suku Nusantara. Foto: Shutterstock.

Segudang flora beraneka macam jenis tersimpan di alam Nusantara. Di tanah Indonesia tumbuh sekitar 30.000 jenis tumbuhan; 7.000 jenis berpotensi dan berkhasiat sebagai obat. Keunggulan ini menjadikan Indonesia sebagai lumbung tanaman obat di kawasan Asia yang juga masyarakat suku lokal manfaatkan.

Tanaman obat di Indonesia juga terancam seiring dengan berkembangnya zaman. Hutan sebagai tempat tinggal tanaman obat semmakin berkurang karena masifnya deforestasi dan aksi pembalakan liar. Selain itu, sejalan dengan perkembangan pengetahuan bidang kedokteran yang melahirkan berbagai jenis obat modern. Obat modern tentu lebih cepat khasiatnya ketimbang obat herbal.

Ancaman tersebut berpotensi menyebabkan masyarakat melupakan keunggulan serta khasiat dalam satu jenis tanaman. Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan obat herbal pun semakin menurun. Untuk mengingatkan kembali tentang manfaat tanaman obat, Greeners merangkum keunggulan tanaman obat yang telah turun-temurun suku ataupun masyarakat adat di Indonesia manfaatkan. 

Pemanfaatan Tanaman Obat Berbagai Suku Nusantara

1. Tanaman Obat Suku Dayak

Hutan merupakan sumber pengetahuan. Dilansir pada laman perpustakaan.menlhk.go.id, Suku Dayak belajar fungsi tumbuhan sebelum mengenal ilmu pengetahuan barat dan obat-obatan massal. Pengetahuan itu masuk dalam sendi tradisi dan upacara adat. Secara historis, masyarakat Dayak menggunakan tumbuhan dalam kegiatan spiritual, obat-obatan, makanan, dan pembuatan perkakas.  

Beberapa tumbuhan obat yang Suku Dayak Iban Desa Tanjung Sari manfaatkan antara lain:

  1. umbut tepus kampung dan daun leban untuk obat sakit perut,
  2. pucuk daun resam untuk mengobati gigitan binatang berbisa,
  3. daun temali untuk obat luka,
  4. akar pasak bumi untuk obat demam,
  5. getah kayu pulai untuk obat koreng/luka, dan
  6. akar daun nangka blanda untuk obat kanker.

Pegolahan bagian tumbuhan obat tesebut masih sangat sederhana seperti dihaluskan dengan cara ditumbuk, direbus dan ada juga yang langsung digunakan pada bagian yang sakit (Jurnal Protobiont, 2013).

2. Masyarakat Sumatra

Sumatra merupakan pulau terbesar ke-enam di dunia. Di dalamnya terdapat sekitar 10.000 spesies tumbuhan dan sedikitnya 80 etnis masyarakat.  Etnis Batak merupakan salah satu etnis indigenous di pulau Sumatra yang sebagian besar bermukim di Sumatra Utara. Marina Silalahi, et al (2018) dalam “Etnomedisin Tumbuhan Obat oleh Subetnis Batak Phakpak di Desa Surung Mersada, Sumatra Utara”, menerangkan sub-etnis Batak Phakpak maupun etnis Batak Karo memanfaatkan tanaman sebagai tumbuhan obat.

Oukup merupakan sauna tradisional bagi etnis Batak Phakpak maupun etnis Batak Karo. Praktik ini untuk memulihkan stamina pasca melahirkan.  Oukup menggunakan tumbuhan yang menghasilkan aroma khas. Sebagaian besar bahan oukup berasal dari family Rutaceae (Citrus aurantiifolia, Citrus hystrix, dan Citrus spp.)  dan family Zingiberaceae (Alpinia galangal, Curcuma longa, Etlingera eliator, dan Zingiber officinale). Tumbuhan obat dari kedua suku tersebut menghasilkan aroma yang minyak asiri atau minyak volatile yang bersifat mudah menguap. 

Tanaman Obat Suku Nusantara

Rempah-rempah sebagai tanaman obat tradisional. Foto: Shutterstock.

3. Tanaman Obat Suku Baduy

Masyarakat adat Baduy hidup bersahaja di wilayah Provinsi Banten. Secara umum mereka masih mempertahankan adat tradisonalnya dengan ketat. Masyarakat Baduy sejatinya memiliki pengetahuan dan kearifan lokal tentang pengobatan tradisional, khususnya yang berbasis tanaman yang diwariskan secara turun-temurun lewat tradisi lisan.

Mengutip kebudayaan.kemdikbud.go.id, sebagai contoh pengobatan sakit gigi pada masyarakat Baduy Panamping menggunakan bahan tangkal kadu atau duren dan tangkal gintung. Sedangkan masyarakat Baduy Dangka mengunakan bahan daun cocok roman dan getah angsana. Begitu pula pengobatan sakit mata pada masyarakat Baduy Panamping menggunakan tuak akar randu, kayu kigeulis, daun sirih, dan bunga korejet sementara masyarakat Baduy Dangka menggunakan bahan tuak leuksa (areuy), tak harendong, dan kicimbang areuy.

4. Masyarakat Papua

Beralih ke paling ujung timur Indonesia, sudah beratus tahun lamanya, beberapa potensi hutan sudah dimanfaatkan oleh berbagai suku di Papua, salah satunya adalah sebagai bahan obat penyembuh berbagai penyakit. Berdasarkan sumber buku daring Buku Tumbuhan Kerarifan Lokal Papua (Papua traditional medicine herbs), tumbuhan obat di Papua merupakan salah satu pabrik biokimia yang menghasilkan senyawa bioaktif yang dapat mengatasi masalah kesehatan. Misalnya, buah merah, sarang lebah, sarang semut, jahe, matoa, daun gatal, kulit kayu susu dan masih banyak yang lain.  

Suku Dani merupakan salah satu kelompok masyarakat lokal yang mendiami Lembah Baliem yang terletak di wilayah yang berada di Tengah Papua, Indonesia. Kabupaten Jayawijaya, dan sebagian Kabupaten Puncak Jaya. Penelitian Yuliana Mabel et al, dalam Jurnal Mipa Unsrat Online (2016), masyarakat suku Dani banyak menggunakan tumbuhan secara turun temurun untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Penggunaan dan pengelolahan tumbuhan obat dengan cara yang sangat sederhana yaitu umumnya dengan merebus tumbuhan dan meminum air rebusannya. Masyarakat suku Dani memang lebih sering memanfaatkan dan mengolah tumbuhan obat dengan cara direbus, karena cara ini paling mudah.

Penulis: Sarah R. Megumi

Editor: Ixora Devi

Top
You cannot copy content of this page