Masyarakat Adat Papua Jaga Hutan sebagai “Mama”

Reading time: 2 menit
Masyarakat Papua menyebut hutan sebagai "mama". Mereka menjaga dan melindungi hutan tempatnya menggantungkan kehidupan. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Masyarakat Papua punya cara tersendiri untuk melindungi dan dekat dengan alamnya. Hubungan erat antara keunikan ekosistem alam dan masyarakat adat Papua menghasilkan harmonisasi di dalamnya. Keduanya saling melengkapi dan menguatkan di tengah gempuran industrialisasi di berbagai daerah Indonesia.

Manager Kebijakan dan Advokasi Yayasan EcoNusa Cindy J. Simangunsong mengatakan, keindahan alam flora dan fauna di hutan Papua menjadi daya tarik tersendiri. Papua memiliki ekosistem terkaya di dunia.

Keragaman flora dan fauna ini tak lepas dari penjagaan peran masyarakat adat yang masih kental. Bahkan, sambung dia masyarakat Papua memiliki sebutan tersendiri untuk hutan yang mereka sayangi dan hormati, yakni “mama”.

“Mungkin di daerah lain sudah banyak deforestasi hingga masyarakat adatnya bergeser. Berbeda halnya dengan Papua yang masih menjaga ekosistem di dalamnya,” katanya dalam live Instagram Catchmeupid bertajuk “Peran Masyarakat Adat dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan, baru-baru ini.

Menariknya, berbagai aturan dalam masyarakat adat Papua juga seolah mendukung pelestarian lingkungan. Nilai-nilai adat tersebut seperti konservasi berbasis kearifan lokal tersebut mereka terapkan selama ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Misalnya, tradisi Sasi yang mereka lakukan saat ekosistem di dalam hutan maupun pesisir telah berkurang selama periode waktu tertentu.

Sasi merupakan proses pembiaran wilayah hutan maupun pesisir (tanpa dimanfaatkan) dalam waktu-waktu (enam bulan hingga lima tahun). Tujuannya untuk memulihkan ekosistem di dalamnya.

Masyarakat Adat Papua Memanfaatkan Alam sesuai Kebutuhan

Selain itu, masyarakat adat juga telah terbiasa dengan memanfaatkan potensi hutan dan lahan dalam jumlah sesuai kebutuhan. “Sebab mereka juga tahu jika mengambil terlalu banyak maka akan berimbas mengancam alam dan kehidupan mereka sendiri, seperti halnya bencana alam,” ucap Cindy.

Meski begitu, Cindy menyebut, alih fungsi lahan hingga saat ini masih kerap mengancam masyarakat adat Papua, mulai dari tambang hingga kelapa sawit. “Di Papua Barat misalnya dengan wilayah sekitar 10 juta hektare (ha), dengan konsesi sebesar 4,6 juta ha. Hampir setengahnya digunakan untuk sektor tambang hingga sawit,” imbuhnya.

Dengan adanya konsesi tersebut maka akan berimbas tersingkirnya keberlanjutan kehidupan masyarakat adat Papua. Padahal selama ini mereka banyak bergantung dengan hasil hutan dan lahan untuk memenuhi kebutuhan, seperti sumber makanan hingga obat-obatan.

Menanggapi hal itu, pemuda adat sekaligus Founder Pace Kreatif Billy Tokoro menyatakan, masyarakat adat Papua kini telah membuka diri. Mereka mulai mengembangkan berbagai macam peluang dengan basis wisata konservasi dan budaya. Dengan cara itu, masyarakat dapat mengembangkan nilai-nilai adat sambil menjaga lingkungannya.

Ia juga menyebut, masyarakat Papua kini terbuka dan menjadi pelaku utama untuk mempromosikan konservasi alam dan budaya. “Misalnya bagaimana kita menciptakan ekowisata sehingga tak sekadar membuka lapangan kerja yang menghasilkan uang, tapi menjaga alam dengan nilai-nilai kearifan lokal,” tandasnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top
You cannot copy content of this page