Riset: Membiarkan Ikan Besar di Laut Bantu Kurangi CO2

Reading time: 2 menit
Riset: Membiarkan Ikan Besar di Laut Bantu Kurangi CO2
Penelitian terbaru menemukan membiatkan di laut hingga mereka dewasa, bantu menekan emisi karbon. Foto: Shutterstock.

Mungkin kita sudah sering mendengar tentang betapa berbahayanya overfishing, memancing ikan berlebihan. Tidak hanya menghindari memancing berlebihan, temuan terbaru juga menunjukkan nelayan maupun pengusaha perikanan baiknya selektif menangkap ikan. Penelitian menemukan meninggalkan lebih banyak ikan besar di laut mengurangi jumlah karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan ke atmosfer bumi. Ketika seekor ikan mati di lautan, dia tenggelam ke kedalaman lautan dan menyerap semua karbon yang mereka kandung. Inilah bentuk ‘karbon biru’. Karbon biru yakni karbon yang ditangkap dan disimpan oleh ekosistem laut dan pesisir dunia.

“Tapi ketika nelayan menangkap ikan, ikan mengeluarkan karbon yang mereka kandung. Sebagian lepas ke atmosfer sebagai CO2 beberapa hari atau minggu setelahnya,” kata salah satu peneliti, Gaël Mariani.

Tak hanya karbon yang lepas ketika nelayan menangkap ikan, kapal penangkap ikan juga menghasilkan gas rumah kaca dengan mengonsumsi bahan bakar.

“Sekarang kita tahu bahwa mengekstraksi ikan melepaskan CO2 tambahan, yang jika tidak ada pendaratan, CO2 itu akan tetap tertahan di laut,” tutur David Mouillot selaku peneliti lainnya.

Mouillot menjelaskan, ikan besar seperti tuna, hiu, dan mackerel mengandung sekitar 10 hingga 15 persen karbon dalam tubuhnya. Saat mereka mati, mereka tenggelam dengan cepat. Hal ini mengakibatkan sebagian besar karbon yang ada dalam tubuh mereka tersimpan di dasar laut selama ribuan atau bahkan jutaan tahun. Ikan-ikan besar ini merupakan salah satu penyerap karbon yang skala penyerapannya tidak terperkirakan sebelumnya.

Baca juga: Paus Pilot, Si Ahli Navigasi yang Setia Kawan

Ikan Laut dan Fenomena Blue Carbon Pump 

Selain itu, Mouillot juga mengatakan bahwa fenomena ‘blue carbon pump’ ini semakin terganggu oleh industri perikanan. Para peneliti lainnya juga mengungkapkan bahwa fenomena ini tak hanya terabaikan sampai sekarang, namun juga terjadi di daerah di mana penangkapan ikan tidak menguntungkan secara ekonomi, contohnya di Pacific Tengah, Atlantic Selatan, dan Utara Samudra Hindia.

“Penghancuran fenomena pompa karbon biru yang terwakilkan oleh ikan besar ini membutuhkan tindakan perlindungan dan pengelolaan baru. Hal ini bertujuan lebih banyak ikan besar dapat tetap menjadi penyerap karbon dan tidak lagi menjadi sumber CO2 tambahan,” tutur Mariani.

Penelitian ini merupakan penelitian pertama di dunia yang menunjukkan bagaimana perikanan laut telah melepaskan setidaknya 730 juta metrik ton CO2 ke atmosfer sejak 1950. Pada 2004, peneliti memperkirakan 20,4 juta metrik ton CO2 lepas dari sektor perikanan. Jumlah ini setara dengan emisi tahunan 4,5 juta mobil.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Ixora Devi

Top
You cannot copy content of this page