Rubah Fennec, Si Kuping Panjang Penghuni Gurun Sahara

Reading time: 2 menit
Telinga panjangnya berfungsi untuk mendeteksi musuh dan mencari mangsa. Foto: Shutterstock

Fennec fox atau rubah fennec adalah spesies rubah paling kecil yang hidup di dunia. Selain karena rupanya yang menggemaskan, nama hewan ini juga cukup tersohor karena sering digambarkan dalam serial kartun, animasi, serta berbagai budaya populer lainnya.

Fennec ilmuwan gabungkan dalam famili Canidae dan genus Vulpes. Nama ilmiahnya pakar sebut sebagai Vulpes zerda, mereka tergolong sebagai jenis hewan mamalia dan omnivora.

Tidak cuma itu, hewan berwajah tirus ini juga dapat kita kenali dari kupingnya yang panjang. Itu sejatinya berguna untuk mendeteksi musuh ataupun mencari mangsa di sekitar mereka.

Walau bertubuh mungil, rubah fennec terbilang cukup tangguh. Mereka dapat beradaptasi di area beriklim panas seperti gurun, serta memiliki harapan hidup mulai dari 10-13 tahun.

Morfologi dan Ciri-Ciri Rubah Fennec

Bukan cuma paling kecil, warna bulu-bulu fennce memang terbilang paling pucat. Bila kita ukur dari kepala sampai ke ekor, panjang tubuh hewan tersebut berkisar 24,13-40,64 cm.

Panjang ekornya bisa mencapai 17,78-30,99 cm. Bobot tubuh mereka antara 0,99-1,50 kg dengan ukuran telinga 10-15,24 cm, atau dapat mencapai sepertiga dari ukuran tubuhnya.

Sama seperti spesies Canidae lainnya, tubuh rubah fennec juga tertutupi oleh bulu-bulu. Warna bulunya ini cukup variatif, mulai dari kemerahan, krem, putih, bahkan kecokelatan.

Sisi bawah tubuh mereka didominasi oleh warna putih, sedangkan ujung ekornya berwarna hitam. Mereka memiliki muka kecil dengan moncong lancip, seperti rubah pada umumnya.

Perlu Anda ketahui, bulu-bulu rubah fennec membantu mereka beradaptasi di area gurun. Ini berguna sebagai pengurai panas di siang hari dan penetral suhu dingin pada malam hari.

Habitat dan Distribusi Rubah Fennec

Fennec fox merupakan satwa asli Gunung Sahara dan area lain sekitar Afrika Utara. Mereka bisa kita jumpai pula di Semenanjung Sinai, Arab, serta berbagai daerah gurun di Asia Barat.

Gurun pasir dan daerah gersang dengan semak beluar, ialah tempat tinggal ideal bagi rubah fennec. Kelompoknya tinggal di dalam lubang, yang mereka gali sendiri sedalam 0,08 meter.

Uniknya, satu lubang dapat dihuni oleh 8-10 ekor fennec. Terkadang sarang-sarang mereka saling terhubung, sehingga jika kita gali maka akan terlihat seperti labirin di bawah gurun.

Belum diketahui berapa total populasi fennce di alam liar. Meski begitu pakar memastikan bahwa tren konservasi mereka cukup stabil, sehingga tidak tergolong sebagai hewan langka.

Bila merujuk IUCN Red List, status konservasi rubah fennec berada pada level ‘least concern’ atau berisiko rendah. Namun, mereka sering awam buru untuk dijadikan hewan peliharaan.

Perilaku dan Kebiasaan Rubah Fennec

Sebagai hewan nokturnal, fennec aktif pada malam hari untuk mencari mangsa seperti tikus, serangga, siput dan kadal. Mereka juga mengonsumi tanaman serta varietas buah-buahan.

Bulu di telinga fennec dapat menyalurkan gelombang suara. Ini membuat pendengarannya menjadi sangat tajam, sekaligus berguna sebagai “penglihatan” tambahan saat malam hari.

Tidak cuma bulu telinga, bulu kaki mereka juga sangat bermanfaat. Karena cukup tebal, bulu ini berguna sebagai “sepatu,” yang dapat membantu saat berjalan di atas pasir yang panas.

Kendati demikian, rubah fennec harus senantiasa waspada. Sebab mereka juga diburu oleh predator-predator gurun seperti burung hantu-elang, jakal, hiena, karakal dan anjing liar.

Perkawinan rubah fennec hanya terjadi sekali untuk seumur hidup. Musim kawinnya terjadi pada bulan Januari hingga Maret, dengan durasi mengandung betina mencapai 50 hari.

Taksonomi Spesies Vulpes Zerda

Penulis : Yuhan al Khairi

Top
You cannot copy content of this page