Jamur Matsutake, Fungi Langka Bahan Dasar Kuliner Mewah

Reading time: 3 menit
Jamur Matsutake. Foto: Shutterstock

Jamur Matsutake adalah fungi edible yang populer di Negeri Sakura. Ia tergolong sebagai bahan makanan mewah, serta memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Melansir berbagai sumber, harga jamur tersebut bahkan bisa mencapai Rp14 jutaan per setengah kilogram.

Berdasarkan klasifikasinya, matsutake atau Mattake tergolong sebagai spesies fungi mikoriza. Mereka bersimbiosis dengan bantuan tumbuhan, tepatnya melalui sistem perakaran induknya.

Jamur Pinus adalah nama lain matsutake, sedang para ilmuwan menyebutnya sebagai Tricholoma matsutake. Fungi ini tergolong dalam genus Tricholoma, ia berasal dari famili Tricholomataceae.

Jamur matsutake tumbuh liar di negara Cina, Jepang, Korea, Finlandia, dan sebagainya. Sebab belum ada yang bisa membudidayakan fungi tersebut, populasinya terbilang langka dan semakin terancam.

Mengenal Karakteristik Jamur Matsutake

Tak bisa kita pungkiri, minimnya penelitian jamur matsutake mempersulit proses pelestarian jamur tersebut. Sejauh yang ahli ketahui, ia tumbuh di permukaan tanah hutan pinus pada musim gugur.

Beberapa varietas tanaman yang sering mattake jadikan sebagai tempat berkembang biak adalah Pinus Merah Jepang (Pinus densiflora), Tsuga diversifolia, hingga Pohon Runjung Tsuga.

Dalam beberapa waktu, ditemukan pula fungi T. matsutake yang tumbuh di sekitar Pinus Hitam Jepang (Pinus thunbergii) dan Pinus Kerdil Siberia (Pinus pumila) saat musim hujan Asia Timur.

Pertumbuhan miselium jamur matsutake terhitung sangat lambat. Ia bahkan memerlukan karakteristik habitatnya yang spesifik, untuk dapat berkembang biak secara sempurna.

Merujuk berbagai penelitian, rata-rata suhu yang mereka kehendaki adalah 5 – 30 Celsius. Pertumbuhan idealnya terjadi pada suhu 22 – 25 Celcius dengan pH tanah antara 4,5 – 5,5.

Jamur ini memiliki cita rasa unik dan aroma yang kuat. Orang-orang yang pernah mengonsumsinya berpendapat, aroma jamur tersebut layaknya perpaduan rasa buah, pedas, dan sedikit bau cengkeh.

Mengapa Harga Jamur Matsutake Sangat Mahal?

Selain kaya manfaat, salah satu penyebab mahalnya harga jamur matsutake adalah ketersediaannya. Seperti yang telah dijelaskan, spesies fungi ini tergolong sangat langka dan sulit awam budi dayakan.

Habitat jamur tersebut juga pakar nilai sangat rentan. Di Jepang, kawanan serangga tiba-tiba muncul dan merusak hektaran pohon cemara. Hal ini diperparah dengan masifnya aktivitas alih fungsi hutan.

Menurut IUCN Red List, status konservasi T. matsutake berada di level ‘Vulnerable’ atau rentan. Jika kita bandingkan dengan Asia, populasi terbanyak matsutake justru ahli temukan di benua Eropa.

Melalui penjabaran di atas, sudah terbayang ‘kan bagaimana sulitnya menemukan jamur matsutake? Kalaupun ada, ketersediaan jamur tersebut akan sangat terbatas dan publik hargai sangat mahal.

Lebih dari sekedar makanan, matsutake tak ubahnya seperti “doa panjang umur” bagi masyarakat Jepang. Ia sering khalayak sajikan untuk orang-orang terkasih, terutama saat perayaan musim semi.

Kandungan dan Manfaat Jamur Matsutake

Matsutake mengandung sejumlah nutrisi mikro dan makro yang baik bagi kesehatan. Di dalam 29 g jamur tersebut tersedia 7 kalori, 0,58 g protein, 0,17 g lemak, serta 2,38 g karbohidrat.

Tidak cuma itu, jamur ini ahli sinyalir juga kaya akan kandungan vitamin dan mineral, seperti vitamin B1, B2, B3, B5, B6, B9, vitamin C dan D, fosfor, kalium, magnesium, zat besi, hingga kandungan zinc.

Melihat nutrisi yang terdapat di dalamnya, jamur matsutake tergolong sebagai panganan rendah lemak. Karena itu, ia sangat cocok kita jadikan sebagai panganan penurun kolesterol darah.

Selain kolestorel, olahan matsutake ahli gadang-gadang efektif melawan radikal bebas. Ia berpotensi sebagai agen antiradang yang dapat membantu mencegah penyakit jantung, asma, dan sebagainya.

Pada tahun 2002, pakar mengetahui bahwa mattake berperan dalam mencegah kanker. Riset ini mereka lakukan kepada hewan tikus, jadi efektivitasnya terhadap manusia masih perlu ahli tinjau.

Taksonomi Fungi Tricholoma Matsutake

Penulis: Yuhan Al Khairi

Top
You cannot copy content of this page