Benarkah Mengonsumsi Daging Mentah Lebih Sehat?

Reading time: 2 menit
Ilustrasi: pixabay.com

Jakarta (Greeners) – Saat ini, mengonsumsi makanan mentah, makan yang tidak dimasak atau tidak diproses, atau dikenal dengan istilah raw food menjadi aliran baru dalam pola diet. Dalam pola ini, sebagian orang menganggap bahwa mengonsumsi makanan dalam keadaan mentah lebih “sehat” karena kadar gizi dalam makanan mentah lebih tinggi dibanding dengan makanan yang dimasak. Masalahnya, apakah mengonsumsi daging mentah baik pula untuk kesehatan?

Ahli Gizi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Via Talita Larasati, S.Gz., mengatakan, dari segi gizi, daging mentah memiliki kadar nutrisi yang lebih tinggi disebabkan tidak adanya proses pemasakan. Ini berarti pelarutan atau pengurangan gizi dalam daging tersebut nihil.

“Kadar gizi dalam daging mentah memang masih 100 persen, berbeda dengan daging matang yang kadar gizinya bisa cuma sekitar 50-60 persen saja,” jelas Via kepada Greeners di RSCM, Jakarta.

Meski demikian, Via menampik anggapan bahwa daging mentah lebih sehat ketimbang daging yang sudah dimasak atau diproses hingga matang. Menurutnya, kadar gizi yang tinggi pada daging mentah tidak menjadi alasan untuk mengonsumsi daging mentah setiap hari. Pasalnya, daging yang masih mentah masih mengandung beberapa bakteri yang dapat berbahaya bagi tubuh.

Daging ikan, misalnya, disebut Via masih mengandung bakteri Salmonella jika dikonsumsi dalam keadaan mentah. Salmonella merupakan bakteri yang lazim ditemui pada tubuh hewan. Bakteri ini dapat mengakibatkan diare, keram perut dan demam dalam waktu 8-72 jam setelah seseorang memakan makanan yang terkontaminasi bakteri tersebut.

“Bakteri Salmonella ini bisa membuat diare yang bisa berujung pada gastroenteritis akut atau diare yang berkepanjangan,” ungkap Via.

Selain bakteri, keberadaan larva cacing pada daging hewan juga perlu diwaspadai. Via menjelaskan, mengonsumsi daging mentah menjadi salah satu cara masuknya cacing ke dalam tubuh manusia. Di dalam tubuh, larva cacing dapat berkembang biak dan menjadi parasit. Salah satu contohnya adalah cacing pita yang terdapat dalam daging sapi, kerbau dan babi.

Mengonsumsi makanan setengah matang, seperti telur setengah matang, juga tidak disarankan oleh ahli gizi ini. “Dari segi kesehatan, harus tetap makan makanan yang matang,” tegasnya.

Via menyarankan untuk mengolah daging dengan cara di kukus atau tumis sebelum dikonsumsi. Dengan cara tersebut, keberadaan bakteri maupun parasit dalam daging dapat diminimalisir dan kadar gizinya masih dapat dipertahankan sekitar 70 hingga 80 persen. Sementara, mengolah daging dengan cara direbus akan membuat kadar gizinya hanya tersisa sekitar 50-60 persen. Hal ini dikarenakan proses merebus dapat melarutkan kandungan zat gizi ke dalam air. “Misal kita makan sup ayam atau sup daging, nah airnya itu punya kadar gizi dari daging yang ada di sup,” pungkasnya.

Penulis: TW/G37

Top