Boyan Slat: Jumlah Sampah di Laut Lebih dari yang Orang Perkirakan!

Reading time: 2 menit
boyan slat
Boyan Slat. Foto: greeners.co/Syaiful Rochman

Bali (Greeners) – Di usianya yang masih 22 tahun, Boyan Slat sudah sibuk memikirkan cara untuk membersihkan laut. Ya, membersihkan laut yang maha luas ini dari sampah! Ia tidak main-main. Slat meninggalkan kuliahnya sebagai mahasiswa Teknik Penerbangan untuk mendirikan The Ocean Cleanup, sebuah perusahaan yang mengembangkan sistem untuk membersihkan sampah di laut. Ia pun menjabat sebagai CEO di perusahaan tersebut. Rencananya, sistem pembersih laut rancangan Slat akan diluncurkan pada akhir tahun 2017.

Pria asal Belanda kelahiran tahun 1994 ini mendapat ide untuk membersihkan laut dari sampah ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Berawal dari sebuah proyek sekolah, ide Slat ini kemudian menuai banyak perhatian dari berbagai kalangan. Ia bahkan berhasil menggalang dana hingga jutaan dolar untuk mewujudkan ambisinya.

Secara khusus Slat datang ke Indonesia untuk berbagi pengalaman dalam World Ocean Summit 2017 yang diselenggarakan oleh media The Economist. Dalam acara yang berlangsung pada 23-24 Februari di Nusa Dua, Bali, tersebut, ia menjadi salah satu pembicara dalam diskusi bertema “Plastic and solid waste: local solutions to a global problem”.

Berikut wawancara singkat Greeners dengan Boyan Slat disela-sela penyelenggaraan World Ocean Summit 2017.

Greeners (G): Bagaimana kamu memulai The Ocean Clean Up?
Boyan Slat (BS): Saat saya berumur 16 tahun, saya sedang di Yunani dan menemukan sampah plastik dalam perut ikan. Saat itu saya masih di Sekolah Menengah Atas. Saya sedang mengerjakan proyek ilmiah dan menggunakan proyek itu untuk meneliti lebih lanjut mengenai masalah (sampah di laut) tersebut. Dan saya menemukan “Ocean Clean Up” hingga akhirnya berkembang menjadi seperti sekarang ini.

G: Awalnya kamu bekerja dengan anak-anak muda kan?
BS: Ya. Awalnya memang demikian, dan sekarang pun saya masih yang paling muda di antara orang-orang di perusahaan saya.

G: Bagaimana awalnya kamu mendapatkan dana?
BS: Saya menggalang dana publik (crowd funding) dan mendapatkan dua juta dolar. Kemudian kami mendapatkan lagi dana sebesar 10 juta dolar dari donatur filantropis privat seperti Marc Benioff, Peter Thiel, Paypall, dan dari orang- orang tempat saya tinggal (Belanda). Donatur ini memang benar-benar kelompok yang beragam. Sekarang ini kami sedang melakukan pengembangan seiring dengan bertambahnya pendanaan.

G: Setelah menjalankan proyek selama ini, hal mengerikan apa yang kamu temukan dari laut?
BS: Mengerikan? Ada banyak hal yang mengerikan dan kita bisa melihatnya di museum. Kami mengisi museum ini dengan benda-benda yang kami temukan di laut. Yeah, kelihatannya hampir mengerikan.

G: Apa yang bisa kamu simpulkan dari kondisi ini?
BS: Jumlah sampah di lautan lebih dari orang yang pikirkan. Ini 10 kali lipat lebih banyak!

G: Kamu juga menemukan sampah dari tahun 1980an dan 1990an, dari mana kamu menemukan sampah-sampah itu?
BS: Semua sampah-sampah itu diambil dari laut antara Hawaii dan Kalifornia, disanalah akumulasi sampah plastik terbanyak. Tentu saja sampah-sampah itu datang dari berbagai tempat, seperti Indonesia atau Cina. Sampah-sampah itu tidak hanya berakhir di sini (laut maupun pantai Indonesia), tapi juga terbawa ke lautan luas.

G: Bagi mereka yang bekerja demi keberlangsungan laut dan lingkungan, apa pesan kamu untuk mereka?
BS: Ada orang yang fokus pada pekerjaan dengan risiko yang tinggi dan mendapat penghargaan yang tinggi pula. Tentu saja yang kami lakukan berisiko tinggi dan pastinya ada peluang untuk gagal tapi ini adalah proyek yang ingin kami lakukan. Dan ketika ini berhasil, kami turut mengubah dunia.

Jadi, jika kamu memiliki sepuluh proyek kecil namun dengan peluang sukses lebih besar dan memiliki dampak bagi sekitar, itu jauh lebih baik ketimbang satu proyek yang besar namun hanya berdampak bagi satu orang saja.

Penulis: Syaiful/Renty Hutahaean

Top