Keripik dari Buah dan Sayur Organik, Ya atau Tidak?

Reading time: 3 menit
Keripik dari buah dan sayur. Ilustrasi: Ist.

Jakarta (Greeners) – Keripik sering kali diidentikkan dengan makanan ringan masyarakat Indonesia. Varian cemilan ini sangat banyak, tergantung dari bahan pembuatnya. Keripik juga mudah ditemui, mulai dari pasar tradisional hingga supermarket, jajanan keripik banyak dicari oleh berbagai kalangan.

Meski demikian, keripik belum mendapat predikat sebagai makanan yang sehat. Munculnya produk-produk keripik yang diproduksi pabrikan pun tidak menjamin makanan ini “sehat” karena adanya bahan pengawet yang terkandung dalam produk tersebut.

Namun, belakangan telah muncul beberapa produsen keripik yang mengklaim bahwa produknya sebagai cemilan sehat. The Kripps misalnya, brand ini mengambil langsung bahan baku keripik dari petani sebagai bahan baku dari 24 varian rasa pada produk keripiknya.

Sang pemilik, Jonathan Adi Prakasa, menyatakan bahwa ia tidak sembarang mengambil bahan baku. Ia mengaku mengambil langsung buah dan sayuran dari beberapa pasar seperti Pasar Induk Tanah Tinggi dan Pasar Induk Tangerang, serta dari petani yang ada di wilayah Lembang, Bandung.

“Jadi kita langsung seleksi, mana yang segar mana yang tidak segar,” ujar Jonathan kepada Greeners pada Rabu (25/11) lalu.

Produk The Kripps sendiri mengandalkan variasi lima jenis buah dan sayuran yang berbeda dalam setiap kemasan produknya. Variasi buah dan sayuran ini juga sebagai antisipasi jika terdapat salah satu bahan baku langka di pasaran.

Dalam produk keripik sayur misalnya, terdapat buncis, ubi, ubi ungu, timun zukini dan wortel. Namun jika salah satu bahan baku tersebut tidak tersedia di pasaran akan digantikan dengan bahan baku yang lain. Hal ini, menurut Jonathan, untuk menjaga keseimbangan dalam hal kuantitas dan kualitas produknya. “Kalau salah satu enggak ada, digantikan dengan labu,” ungkapnya.

Selain bahan baku, Jonathan juga memperhatikan kandungan pada produknya. Ia menyatakan bahwa produknya tidak mengandung bahan perasa buatan seperti monosodium glutamat yang berbahaya bagi tubuh. Monosodium glutamat merupakan bahan perasa yang lazim dipakai dalam produk makanan ringan.

“Produk saya yang mixed fruit itu tanpa bumbu sama sekali. Kalau yang bumbu mixed veggies itu pakai bumbu ekstrak jamur, tapi tanpa MSG,” jelas Jonathan.

Yuni Nur Bahagia, pemilik Organik Unik. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Yuni Nur Bahagia, pemilik Organik Unik. Foto: greeners.co/Teuku Wildan

Sementara itu, hal yang sedikit berbeda dilakukan oleh produsen Organik Unik dalam pengadaan bahan baku. Menurut Yuni Nur Bahagia, pemilik Organik Unik, bahan baku keripik tidak didatangkan langsung dari petani melainkan dari beberapa tempat sekaligus. Hal ini, menurut Yuni, dilakukan demi mengutamakan kualitas keripik yang akan dipasarkan.

“Begitu kita dapat bahan baku yang kurang baik kualitasnya, maka hasilnya juga akan kurang baik. Jadi istilahnya produksinya pakai hati, enggak sembarangan bikin,” ungkap Yuni saat ditemui Greeners pada Jumat (27/11) lalu di Jakarta.

Vacuum Fryer

Dosen Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung, Ronny Purwadi, menyatakan bahwa kualitas produk makanan seperti buah dan sayur kering tergantung pada kesegaran bahan baku. Hal ini dikarenakan tidak adanya kandungan tambahan seperti gula dan garam.

Produk makanan seperti keripik buah dan sayur organik sendiri diklaim oleh produsennya tidak mengandung bahan perasa, maka aroma dan rasa bahan baku menjadi kekuatan produk tersebut.

“Lain halnya jika produk dicampur dengan bahan tambahan seperti gula atau garam, rasa bahan tambahan cukup dominan dibandingkan dengan rasa buahnya (sebagai bahan baku),” jelasnya kepada Greeners melalui email.

Kandungan gizi pada buah dan sayur didominasi oleh serat serta gula. Menurut Ronny, kedua kandungan tersebut tidak mudah hilang jika dikeringkan. Namun, proses pengeringan justru akan mengurangi kadar vitamin dan aroma buah atau sayur tersebut. “Karena itu, pengeringan dianjurkan pada temperatur yang rendah,” ungkapnya.

Senada dengan Ronny, Jonathan dan Yuni pun sepakat untuk menggunakan temperatur rendah dalam pengolahan produk mereka. Keduanya menggunakan teknik pengeringan vacuum fryer yang menggunakan suhu rendah dalam proses pengeringan produk.

Vacuum fryer merupakan mesin penggoreng makanan yang mengeringkan makanan pada temperatur yang cukup rendah, sekitar 50-70 derajat Celcius. Dengan menggunakan temperatur yang rendah, mesin ini memang didesain untuk menghindari kerusakan atau berubahnya bahan baku makanan.

“Jadi enggak menghilangkan kadar gizi. Mungkin memang berkurang kandungan gizinya, tapi enggak hilang,” ujar Jonathan.

Dengan vacuum fryer, Jonathan mengklaim bahwa produknya sehat dan aman untuk dikonsumsi. Mengenai kandungan gizi, ia menyatakan bahwa produknya telah diperiksa oleh tim dari IPB.

“Kita enggak bisa klaim 100 persen sehat, tapi tertera di sini ada kandungan gizinya,” pungkasnya.

Penulis: TW/G37

Top
You cannot copy content of this page