Menjaga Rimba Terakhir, Teladan Masyarakat Adat dalam Pelestarian Hutan

Reading time: 2 menit
Menjaga Rimba Terakhir, Teladan Masyarakat Adat dalam Pelestarian Hutan
Menjaga Rimba Terakhir, teladan masyarakat adat dalam pelestarian hutan. Foto: Forest Digest.

Judul: Menjaga Rimba Terakhir

Pengarang: Mardiyah Chamim (bekerja sama dengan KKI WARSI)

Tahun Terbit: 2020

Jumlah Halaman: 570

Mardiyah Chamim bersama Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi menerbitkan buku Menjaga Rimba Terakhir. Secara keseluruhan, buku ini mengangkat tentang kebijaksanaan masyarakat adat. Pun juga permasalahan kehidupan masyarakat adat dalam menjaga lingkungan dan identitas hutan.

“Hutan adalah ibu. Kemudian, pohon-pohonnya itu berjejaring seperti jantung yang membawa oksigen. Sungai dan urat Buminya mengalirkan darah dan nutrisi untuk kehidupan. Ini benar-benar filosofi yang mewakili masyarakat lokal dan masyarakat adat, di mana pun berada,” tutur Mardiyah selaku penulis buku ini dalam webinar Grand Launching Buku Menjaga Rimba Terakhir, Rabu (28/10/2020).

Perjalanan penulisan buku Mardiyah bersama KKI Warsi selama kurang lebih dua tahun. Termasuk dua puluh dua hari pertemuan intensif antara Mardiyah, perwakilan Warsi, dan masyarakat adat Jambi dan Sumatera Barat yang menjadi tokoh cerita ini. Perjalanan ini membuka mata Mardiyah terhadap ironi yang dialami masyarakat Adat.

“Nah ironinya adalah, masyarakat lokal, indigenous people, yang berjibaku menjaga hutan itu, seringkali justru menjadi pihak yang terpinggirkan. Bahkan terusir dari rumahnya sendiri. Jadi ketika di lapangan, saya menemukan hal-hal seperti itu. Rasanya sedih, juga kagum terhadap keteguhan masyarakat yang ada di lapangan,” cerita Mardiyah.

Selain itu, buku ini juga mengangkat kearifan lokal yang ada dalam lingkup masyarakat adat, salah satunya adalah bagaimana masyarakat adat memercayai bahwa pohon merupakan identitas dari anak-anak mereka.

“Dia waktu di bukit Taman Nasional Bukit Dua Belas, menceritakan di rimba punya pohon namanya pohon tenggeris. Jadi setiap anak yang lahir, itu diberi satu pohon tenggeris, atau pohon kelahiran. Pohon itulah yang mewakili jati diri orang rimba. Karenanya, menebang tenggeris sama dengan membunuh orang rimba. Dendanya sama dengan membunuh,” tutur Mardiyah.

Baca juga: Empat Langkah Awal Mendaur Ulang

Menjaga Rimba Terakhir, Inspirasi Evaluasi Kebijakan Pemerintah

Buku ini juga mengangkat keterikatan masyarakat adat dalam memercayai alam sebagai dewa. Hutan, pohon, sungai, bukit, dan lingkungan alam lainnya adalah dewa. Karenanya, tidak mungkin akan takluk pada manusia. Masyarakat adat menyoroti jalan hidup berdampingan dengan alam, berharmoni, sama-sama saling menghormati.

Buku ini mengemas pengetahuan lembaga dan kehidupan masyarakat adat dengan cara yang sistemik. Penulis menguak bahan  evaluasi bagi kebijakan pemerintah saat ini. Buku ini pun mengangkat tentang betapa pentingnya orang rimba dalam menjaga lingkungan.

“Buku ini luar biasa, kenapa saya bilang luar biasa? Karena buku ini menjadi satu inspirasi model evaluasi, menurut saya, dari lembaga. Jadi bagaimana perjalanan panjang satu lembaga bisa dievaluasi dan kemudian dibungkus secara cantik, secara menarik. Yang kedua dia menjadi bahan kampanye juga, jadi kampanye atas kehidupan, kondisi orang rimba, tentang persoalan yang masih mereka hadapi, dan juga beberapa ide solusi yang dibilang jalan tengah itu,” pendapat Komisioner Untuk Pengkajian Penelitian Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Indonesia Sandra Moniaga dalam webinar yang sama.

Selain itu, buku ini merupakan jembatan yang sesuai untuk menyadarkan masyarakat terkait dengan permasalahan masyarakat adat dan mengapa penting bagi kita untuk menjaga masyarakat adat. Penulis mengemas jembatan ini dengan bentuk storytelling, sebagai salah satu cara santai, tetapi melekat dalam pikiran masyarakat.

“Karena itulah, untuk mengajak sesama manusia, untuk mengetahui bahwa kita punya masalah yang sangat serius, ya itu adalah dengan bercerita. Dan ini sudah juga dilakukan oleh nenek moyang kita, di buku mbak Mardiyah ini tentu, dan di masyarakat adat ada yang namanya local wisdom, ada yang namanya hukum-hukum adat, dan itu memang biasanya diturunkan secara storytelling atau secara bercerita mendongeng kepada anak cucunya,” tutur Jurnalis Aditya Wardhana dalam webinar yang sama.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Ixora Devi

 

Top
You cannot copy content of this page