Styrofoam, Bukan untuk Kemasan Makanan!

Reading time: 2 menit
styrofoam
Ilustrasi: pixabay.com

(Greeners) – Walikota Bandung Ridwan Kamil memang sudah mendeklarasikan larangan penggunaan styrofoam sebagai bahan kemasan makanan di Bandung sejak Oktober 2016. Namun pada Minggu (9/4/2017), pria yang akrab disapa Kang Emil ini kembali mengunggah foto berikut secuil berita lama di akun instagram (@ridwankamil) terkait pelarangan penggunaan styrofoam. Dalam postingan tersebut, Kang Emil mengucapkan terimakasih kepada salah satu perusahaan consumer goods besar yang telah mengganti kemasan produknya dengan material berbasis kertas.

Styrofoam atau polistirena (PS) merupakan bahan kemasan yang sangat populer di kalangan penyedia produk makanan. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), bahan kemasan polistirena dipilih karena dapat menjaga makanan agar nyaman dipegang, tidak mudah bocor dan menjaga makanan agar tetap panas. Karena kelebihannya tersebut, kemasan polistirena sering digunakan untuk membungkus pangan siap saji, segar, maupun yang memerlukan proses lebih lanjut.

Namun sebenarnya pembuatan styrofoam tidak diperuntukkan di dalam industri pangan. Awalnya, styrofoam merupakan nama dagang yang telah dipatenkan oleh perusahaan Dow Chemical, Amerika Serikat. Perusahaan yang memproduksi plastik, kimia dan produk pertanian ini membuat styrofoam sebagai alat penyekat atau insulator untuk konstruksi bangunan.

styrofoam

Sumber: Instagram Ridwan Kamil (@ridwankamil)

Dalam InfoPOM (Vol. 9, No. 5, September 2008), dijelaskan bahwa polistirena merupakan plastik yang tidak reaktif (inert) sehingga relatif tidak berbahaya bagi tubuh. JECFA-FAO/WHO menyatakan bahwa monomer stirena (zat penyusun styrofoam) tidak mengakibatkan gangguan kesehatan jika residunya tidak melebihi 5.000 parts per million (ppm). Meski demikian, perlu diwaspadai akan adanya perpindahan zat kimia ini ke dalam makanan.

Menurut Adrienne dkk. (2009), paparan monomer stirena juga dapat menimbulkan dampak kesehatan yang akut seperti iritasi pada kulit, mata, infeksi pernapasan saluran atas, gangguan pencernaan, hingga gangguan siklus menstruasi pada wanita.

Studi yang dilakukan di New Jersey juga menunjukkan sebanyak 9 dari 12 sampel ASI yang diteliti mengandung monomer stirena bersama dengan bahan kimia berbahaya lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa stirena tidak sengaja dikonsumsi dapat bertahan dalam jaringan tubuh manusia.

Selain itu, berdasarkan penelitian dari Universitas Illinois, monomer stirena dalam styrofoam dapat berpindah ke makanan atau minuman yang bersuhu panas. Zat ini akan lebih banyak terlepas dari styrofoam jika makanan panas yang dikemas dengan bahan ini mengandung vitamin A. Pangan tersebut misalnya pizza dengan keju, atau sereal dan oatmeal instan yang membutuhkan air panas untuk menghidangkannya.

Penulis: Ayu Ratna Mutia

Top