Terapi Hutan, Cara Relaksasi Warga Jepang yang Mendunia

Reading time: 2 menit
Terapi Hutan, Cara Relaksasi Warga Jepang
Terapi hutan, cara relaksasi warga Jepang kini juga diadaptasi oleh masyarakat dunia. Foto: Shutterstock.

Perkembagan teknologi disertai mobilitas yang tinggi berdampak buruk bagi kesehatan mental manusia. Awam pun menggali ragam pengobatan alternatif guna mendapatkan sensasi ketenangan dalam diri. Misalnya masyarakat Jepang yang mengilhami dunia dengan cara khidmat untuk segarkan pikiran: terapi hutan.

Terapi hutan telah menjadi program kesehatan nasional Jepang sejak 1982. Kini, masyarakat di berbagai belahan dunia mengadaptasi praktik peredam risau jiwa ini.

Menyadur dari blog Cleveland Clinic, terapi hutan atau shinrin-yoku secara harafiah berarti “mandi hutan”. Terapi ini tidak sekedar berjalan di hutan. Partisipan terapi hutan harus merelaksasi indera agar dia dapat menyerap sensasi dari alam dengan seutuhnya.

Baca juga: Menyorot Fenomena ‘Happy Hypoxia’ Pasien Covid-19

“Tujuannya membuat partisipan meresapi pengalamannya dengan sangat dalam. Pemandangan, suara, serta aroma hutan akan membawa kita dalam sebuah ‘ruang’. Otak kita akan berhenti mengantisipasi, berhenti mengingat, merenung dan mengkhawatiran,” tutur pakar psikologi klinis, Dr. Scott Bea.

Lebih jauh, terapi hutan tidak hanya baik untuk kesehatan mental, melainkan juga untuk kebugaran raga. Cleveland Clinic mengutip sebuah penelitian yang menunjukkan penurunan kadar kortisol, hormon stres, pada partisipan terapi hutan. Penelitian lainnya menandakan adanya dampak positif pada tekanan darah dan adiponektin, protein yang meregulasi kadar gula darah, ketika melakukan terapi hutan.

Terapi Hutan, Cara Relaksasi Warga Jepang

Pada dasarnya, terapi hutan sama dengan mindfulness. Dengan melatih mindfulness, Anda tidak perlu ke hutan untuk merasakan relaksasi ‘mandi hutan’. Foto: Shutterstock.

Baca juga: Menyorot Fenomena ‘Happy Hypoxia’ Pasien Covid-19

Terapi Hutan Jepang dan ‘Mindfulness’

Dr. Bea juga mengakui terapi hutan sama dengan praktik mindfulness. Mindfulness adalah kondisi mental yang diraih dengan fokus serta kesadaraan tinggi pada momen yang sedang berlangsung.

Walaupun terapi hutan membantu melepas penat, mengunjungi hutan setiap hari tentunya tidak realistis. Padahal, menurut Dr.Bea diperlukan latihan reguler untuk mendapatkan manfaat terapi hutan.

“Seperti mengambil kelas piano. Jika Anda tidak pernah bermain piano setelah kelas Anda usai, pelajarannya tidak akan membuat banyak perbedaan,” tutur Dr.Bea.

Untuk mengganti terapi hutan, Dr.Bea menyarankan pasiennya untuk menerapkan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari. Praktik ini dapat dilakukan dengan duduk nyaman sambil bersemedi, fokus pada pernapasan. Semakin dalam meditasi akan semakin tinggi kesadaran pada pernapasan.

“Anda harus menjadikan mindfulness sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari Anda dalam jangka waktu yang lama,” tambahnya.

Luangkan waktu untuk bernapas, ujar Dr. Brea, dengan fokus pada pernapasan Anda dapat berpindah ke hutan, berada di antara pepohonan.

Penulis : Zury Mulindari

Editor: Ixora Devi

Top