Mengenal ‘Fast Fashion’ dan Imbasnya pada Lingkungan Hidup

Reading time: 2 menit
Mengenal 'Fast Fashion' dan Imbasnya pada Lingkungan Hidup
Mengenal 'fast fashion' dan imbasnya pada lingkungan hidup. Ilustrasi: Shutterstock.

Bila di masa lalu musim fesyen hanya terbagi dua yakni koleksi musim semi/panas dan koleksi musim gugur/dingin, pada 2014 peluncuran koleksi meningkat pesat. Industri yang tadinya menelurkan dua koleksi pertahun digenjot untuk mengeluarkan 52 koleksi. Banyaknya koleksi yang dikeluarkan dengan pesat membuat masyarakat mengejar ketertinggalan dengan terus berbelanja. Ini lah awal mula fenomena fast fashion. Fenomena yang berdampak buruk bagi lingkungan.

Dikutip dari Investopedia, fast fashion adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan desain pakaian yang berpindah cepat dari lantai panggung mode ke toko. Konsumen dapat segera membeli pakaian dengan tren mutakhir berharga murah.

“Fast fashion menjadi umum karena pakaian menjadi lebih murah. Hal ini diiringi keinginan konsumen untuk tampil trendi serta daya beli yang meningkat,” tulis pakar studi sosial keuangan dan teknologi Adam Hayes dalam Investopedia.

Baca juga: Rihanna Rambah Bisnis Perawatan Kulit Ramah Lingkungan

Lebih jauh, Hayes menjelaskan pergeseran budaya pada masyarakat. Sebelum industri fesyen mengeluarkan tren dengan begitu pesat, belanja pakaian merupakan sebuah kebiasaan tahunan. Biasanya, masyarakat berbelanja pakaian di akhir tahun untuk merayakan Natal dan Tahun Baru, atau pun untuk merayakan Idul Fitri.

Namun, budaya belanja yang tadinya untuk memenuhi kebutuhan sandang, lama kelamaan beralih menjadi bentuk hiburan masyarakat. Menurut Hayes, perubahaan kebiasaan ini lah yang memantik industri fesyen untuk mengeluarkan koleksi lebih cepat dan banyak.

Mengenal 'Fast Fashion' dan Imbasnya pada Lingkungan Hidup

Budaya belanja bergeser dari pemenuhan kebutuhan sandang menjadi bentuk hiburan masyarakat. Ilustrasi: Shutterstock.

Fast Fashion Rusak Lingkungan, Industri Fesyen Banting Stir Marketing

Produksi pakaian yang begitu meningkat berdampak buruk bagi lingkungan hidup. BBC menulis timbulan sampah tekstil tak kurang dari 92 juta ton per tahun. Di Amerika Serikat, rata-rata konsumen fesyen membuang 37 kg pakaian per tahun. Secara global, hanya 12 persen bahan pakaian yang akhirnya didaur ulang. Tidak berlebihan bila pada 2030, total tekstil yang berakhir di tempat sampah diramalkan mencapai 134 juta ton tekstil per tahun.

“Industri fesyen saat ini menggunakan sumber daya tak terbarukan dalam jumlah besar. Minyak bumi diekstraksi hanya untuk produksi pakaian yang digunakan dalam waktu yang singkat sebelum dibuang begitu saja ke tempat sampah,” ujar Chaetna Prajapati, peneliti tekstil berkelanjutan Loughborough University pada BBC.

Baca juga: Kelola Sampah Rumah Tangga dengan Belajar Komposting

Melihat dampak buruk fast fashion pada lingkungan hidup, pemain industri fesyen mulai memberi ruang pada fesyen berkelanjutan. Adidas, meluncurkan rangkaian sepatu kets yang terbuat dari plastik laut. Sementara itu, peritel Zara menargetkan penggunaan material berkelanjutan pada 2025.

“Dengan menggunakan bahan daur ulang, alih-alih material baru, membuka peluang untuk secara drastis mengurangi input sumber daya tak terbarukan. Begitu pula dengan penurunan dampak negatif industri seperti emisi karbon dioksida, penggunaan air yang begitu masif dan bahan kimia,” lanjut Prajapati.

Prajapati pun mengingatkan, meskipun daur ulang kain penting, konsumen harus segera mengubah perilaku belanja. World Bank mencatat 40 persen pakaian yang dibeli masyarakat tidak pernah digunakan. Untuk itu, menurut Prajapati, berbelanja dengan kesadaran tinggi dapat mengurangi dampak industri fesyen pada planet kita.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Ixora Devi

Top
You cannot copy content of this page