Waspadai Jamur Super Ini! Setengah dari Korbannya Meninggal Dunia

Reading time: 6 menit
candida auris
Candida auris. Foto: wikimedia commons

NEW YORK (NYTIMES) – Petugas kesehatan dan peneliti kini tengah berpacu melawan waktu menghadapi kuman misterius. Kuman tersebut adalah jamur Candida auris, menyerang manusia dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dan kini diam-diam menyebar di seluruh dunia.

Selama lima tahun, kuman tersebut sudah menjangkiti sebuah unit neonatal di Venezuela, sebuah rumah sakit di Spanyol, menutup ICU di sebuah pusat kesehatan terkenal di Inggris, dan juga menyerang di India, Pakistan dan Afrika Selatan.

Hingga kini, kuman tersebut sudah mencapai New York, New Jersey, dan Illinois, yang membuat Pusat Kontrol dan Pengendalian Penyakit Pemerintah Federal (Centres for Disease Control and Prevention/CDC), mengkategorikannya ke dalam “ancaman darurat”.

Seorang pria yang dirawat di Mount Sinai, Brooklyn, akhirnya meninggal dunia 90 hari setelah menjalani operasi perut pada bulan Mei 2018 silam. Berdasarkan hasil pemeriksaan darah, pria tersebut terinfeksi oleh kuman yang mematikan namun misterius.

Beberapa tes menunjukkan bahwa jamur tersebut hidup di dalamnya, rumah sakit pun membutuhkan peralatan khusus untuk membersihkan jamur tersebut hingga membongkar atap dan ubin lantai sebagai cara pemusnahan.

“Semua positif terkena – dinding, tempat tidur, pintu, tirai, telepon, wastafel, papan putih, tiang dan pompa,” kata Dr Scott Lorin, presiden rumah sakit Mount Sinai. “Matras, pinggiran tempat tidur, lubang tabung, penutup jendela, atap, semua yang ada di kamar tersebut positif.”

Candida auris merupakan jamur yang tangguh karena tahan terhadap obat-obat anti jamur, menjadikannya contoh baru dari salah satu ancaman kesehatan di dunia: meningkatnya infeksi yang kebal obat.

Selama beberapa dekade, para ahli kesehatan publik telah memperingatkan tentang pemberian antibiotik berlebihan akan mengurangi efektivitas obat-obatan yang memperpanjang masa hidup dengan menyembuhkan infeksi bakteri yang umumnya mematikan.

Namun belakangan ini telah terjadi ledakan jamur yang resisten terhadap obat-obatan, yang memberikan dimensi baru dan menakutkan atas fenomena kedokteran modern.

“Ini merupakan masalah yang sangat besar,” jelas Dr. Matthew Fisher, profesor di bidang epidemologi jamur di Imperial College London, dan co-author atas ulasan saintifik terbaru tentang kebangkitan jamur yang resisten. “Kita menjadi sangat tergantung untuk mengobati pasien dengan anti-jamur,” katanya.

Singkat kata, jamur, sama halnya dengan bakteri, telah berevolusi untuk bisa bertahan dalam kedokteran modern.

Para peneliti mengatakan bahwa apabila obat-obatan baru yang lebih efektif tidak dikembangkan dan penggunaan anti-mikroba yang tidak perlu tidak diturunkan, maka risiko akan semakin besar menjangkiti populasi yang lebih sehat.

Antibiotik dan anti-jamur merupakan substansi yang penting untuk memerangi infeksi pada manusia, namun antibiotik juga digunakan untuk penyakit pada binatang, dan anti-jamur digunakan untuk mencegah tanaman pertanian membusuk.

Beberapa peneliti menyebutkan bukti-bukti yang banyak digunakan sebagai fungisida untuk tanaman berkontribusi terhadap kenaikan jamur yang resisten menjangkiti manusia.

Meski demikian, saat masalah tersebut timbul, tidak banyak diketahui oleh publik, sebagian karena keberadaan infeksi resisten dirahasiakan. Bahkan CDC, di bawah perjanjian dengan negara, tidak diperkenankan mengungkapkan ke publik terkait dengan lokasi atau nama rumah sakit yang terjangkiti.

Strain lainnya dari jamur Candida – yang menjadi salah satu penyebab infeksi aliran darah di rumah sakit – belum membangun ketahanan terhadap obat-obatan, namun lebih dari 90 persen infeksi Candida auris resisten terhadap setidaknya satu obat-obatan dan 30 persen resisten terhadap dua atau lebih obat-obatan, jelas CDC.

Dr Lynn Sosa, epidemologis di Connecticut, mengatakan bahwa ia melihat Candida auris sebagai ancaman teratas di antara infeksi resisten. “Ia sangat tidak mudah dikalahkan dan sulit untuk diidentifikasi.”

Sebagian dari pasien yang terjangkit oleh Candida auris meninggal dalam waktu 90 hari, jelas CDC. Meski demikian, para ahli di dunia belum dapat menentukan asalnya.

(Selanjutnya…)

Top
You cannot copy content of this page