Batu Bata Museum Gent Berasal dari Limbah

Reading time: 2 menit
Bata bata iini berasal dari limbah. Foto: Dezeen

Studio arsitektur Carmody Groarke dan TRANS Architectuur Stedenbouw berkolaborasi dengan peneliti material untuk mengembangkan batu bata bersumber dari limbah konstruksi lokal. Bahan ini untuk membangun sayap baru Design Museum Gent.

Bata limbah Gent ini bersifat “rendah karbon”. Hanya sepertiga dari karbon yang terkandung di dalamnya sebagai bata tanah liat khas Belgia.

Batu bata ini terbuat dari 63 % limbah kota daur ulang yang bersumber dari Ghent. Limbah ini terpusat di daur ulang lokal untuk penghancuran beton dan kaca.

Bahan daur ulang ini dicampur dengan pasir lommelzand dari Kotamadya Lommel Belgia. Selanjutnya diikat bersama dengan kapur hidrolik dan kalsium karbonat tanah.

Pembuatan Batu Bata Rendah Energi

Dalam proses pembuatannya, bata tersebut dibiarkan dalam lingkungan lembab selama dua minggu hingga menjadi kering. Proses ini berbeda dengan pengerjaan batu bata biasanya yang melalui pembakaran. Ini sekaligus mengurangi jumlah energi.

Agar kokoh, bata ini harus melalui proses karbonasi mineral. Proses ini melibatkan kalsium karbonat yang bereaksi dengan karbon dioksida di udara sekitarnya.

“Karbonasi akan berlanjut selamanya pada fasad, membuat balok semakin kuat selama bertahun-tahun,” kata TRANS Architectuur Stedenbouw.

Proses fabrikasi ini lanjutnya, dengan penggunaan komposit daur ulang, menghasilkan bata dengan 0,17 kilogram CO2e per kilogram – hanya sepertiga dari karbon yang terkandung dari bata berbahan bakar tanah liat Belgia.

Menurutnya, bahan ini untuk fasad eksternal sayap baru Design Museum Gent. Gent Waste Brick memiliki warna abu-abu pucat yang merujuk pada warna bangunan sipil lainnya di kota.

Foto: Dezeen

Manfaatkan Limbah

Design Museum Gent menyelenggarakan lokakarya bagi penduduk setempat untuk ikut serta membuat beberapa batu bata dalam pembangunan ekstensi.

“Batu bata akan kita produksi di lokasi brownfield di Ghent menggunakan proses produksi sederhana yang bersih. Sehingga dapat dengan mudah mereplika ke lingkungan perkotaan lainnya,” kata Carmody Groarke. “Tidak ada emisi, produk sampingan atau limbah.”

Alternatif batu bata lain yang di Dezeen termasuk K-Briq Kenoteq tidak melalui proses pembakaran. Sementara bahannya 90 persen dari limbah konstruksi, dan balok batu yang terbuat dari semen berbahan alga oleh Prometheus Materials.

Penulis: Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Sumber: Dezeen

Top

You cannot copy content of this page