Norwegia Terbanyak Gunakan Mobil Listrik, Kejar Target Bebas Emisi 2025

Reading time: 3 menit
mobil listrik
Norwegia Terbanyak Gunakan Mobil Listrik. Foto: Shutterstock.

Penjualan mobil listrik di Norwegia melampaui penjualan mobil bertenaga bensin, diesel, dan mesin hybrid tahun 2020.

Data terbaru menunjukkan, pembuat mobil Jerman, Volkswagen, menggantikan Tesla sebagai produsen kendaraan berbasis baterai teratas. Ini memperkuat bukti bahwa Norwegia terbanyak gunakan mobil listrik. Padahal, satu dekade lalu, presentase mobil listrik yang terjual di Norwegia hanya satu persen.

Peningkatan Presentase Penjualan Mobil Listrik

Norwegian Road Federation (OFV) menyampaikan, 54,3% dari semua mobil baru yang terjual di negara Nordik pada tahun 2020 berupa Battery Electric Vehicles (BEV). Ini merupakan rekor global, naik dari 42,4% pada 2019.

Mendekati Target Mobil Bebas Emisi 2025, Norwegia Terbanyak Gunakan Mobil Listrik

Berusaha menjadi negara pertama yang mengakhiri penjualan mobil bensin dan diesel pada tahun 2025, Norwegia yang memproduksi minyak membebaskan kendaraan listrik sepenuhnya dari pajak yang dikenakan pada mereka yang mengandalkan bahan bakar fosil.

Kebijakan tersebut telah mengubah pasar mobil Norwegia menjadi laboratorium bagi para pembuat mobil yang mencari jalan menuju masa depan tanpa mesin pembakaran internal. Ini menempatkan merek dan model baru ke urutan teratas daftar mobil terlaris dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara penjualan BEV telah menembus angka 50% dalam beberapa bulan, tahun 2020 adalah pertama kalinya mobil listrik unggul daripada total model mobil yang memakai mesin pembakaran internal selama setahun secara keseluruhan.

“Kami pasti berada di jalur yang tepat untuk mencapai target 2025,” Chief Executive OFV Oeyvind Thorsen mengatakan pada konferensi pers.

mobil listrik

Berusaha menjadi negara pertama yang mengakhiri penjualan mobil bensin dan diesel pada tahun 2025, Norwegia yang memproduksi minyak membebaskan kendaraan listrik sepenuhnya dari pajak yang dikenakan pada mereka yang mengandalkan bahan bakar fosil. Foto: Shutterstock.

Desember Menjadi Level Tertinggi Pangsa Pasar Mobil Listrik

Penjualan BEV yang meningkat pada bulan-bulan terakhir tahun 2020, mencapai level tertinggi di bulan Desember, dengan 66,7% pangsa pasar mobil.

Merek Audi Volkswagen menduduki puncak peringkat 2020 dengan kendaraan e-tron sports dan sportsback sebagai mobil penumpang baru yang paling banyak terjual di Norwegia tahun lalu. Sementara Model 3 ukuran menengah Tesla, pemenang 2019, turun ke ke posisi kedua.

Analis industri dan distributor mobil mengatakan, penjualan kendaraan listrik akan terus melonjak pada 2021, karena semakin banyak model yang beredar di pasar.

“Perkiraan awal kami adalah mobil listrik akan melampaui 65% pasar pada tahun 2021,” kata Christina Bu yang mengepalai Asosiasi EV Norwegia, sebuah kelompok kepentingan. “Jika kita berhasil melakukannya, tujuan menjual mobil (hanya yang tanpa emisi) pada tahun 2025 akan tercapai.”

Kendaraan tipe sport ukuran menengah dari Tesla, yaitu Model Y, akan mencapai pasar Norwegia tahun ini. Seperti SUV listrik pertama dari Ford, BMW dan Volkswagen.

Sebaliknya, presentase penjualan mobil dengan mesin diesel saja telah jatuh dari puncak. Berawal dengan 75,7% dari keseluruhan pasar Norwegia pada tahun 2011, menjadi hanya 8,6% pada tahun lalu.

Baca juga: Immortus, Mobil Listrik Bertenaga Surya

Norwegia Terbanyak Gunakan Mobil Listrik dengan Ratusan Ribu Penjualan

Penjualan mobil baru di negara itu tahun lalu adalah 141.412. Di mana 76.789 di antaranya adalah mobil yang sepenuhnya menggunakan listrik.

“Sementara pangsa pasar listrik akan terus meningkat, ada ketidakpastian mengenai berapa banyak produsen mobil yang akan dialokasikan ke Norwegia karena permintaan Eropa meningkat,” tutur Harald Frigstad, kepala eksekutif importir mobil Norwegia Bertel O. Steen.

Penjual Mercedes-Benz Daimler serta merek Kia, Peugeot, Opel, Citroen, DS dan Smart, memperkirakan sekitar 70% penjualannya akan menggunakan model listrik sepenuhnya pada tahun 2021.

Penulis: Agnes Marpaung.

Sumber:

World Economic Forum

Top
You cannot copy content of this page