Rambut Manusia Didaur Ulang Menjadi Pembersih Saluran Air

Reading time: 2 menit
Proses pembuatan rambut menjadi pembersih saluran air. Foto: Euronews

Negara-negara global tengah menggaungkan ekonomi sirkular. Namun, apa jadinya jika salah satu bahan ekonomi sirkular yaitu rambut manusia? Bahkan, rambut manusia berubah bentuk menjadi pembersih saluran air di Belgia.

Sebuah LSM Belgia menyulap rambut manusia menjadi ubin penyerap pencemaran lingkungan. Dung Dung, LSM Belgia, pemimpin proyek daur ulang rambut itu mengembangkan skema pemulihan limbah dan mendukung ekonomi sirkular.

Dalam proyek ini, penata rambut di seluruh negeri mengumpulkan rambut. Kemudian dimasukkan ke dalam mesin yang mengubahnya menjadi kotak kusut. Ubin Ini dapat menyerap minyak dan hidrokarbon lain yang mencemari lingkungan hingga kantong bio-komposit.

Alat ini dapat menyerap pencemaran dalam air sebelum mencapai sungai. Bahkan bisa mengatasi masalah polusi akibat banjir dan membersihkan tumpahan minyak.

Untuk bahan satu kilogram rambut dapat menyerap tujuh hingga delapan liter minyak dan hidrokarbon.

“Produk kami lebih etis karena diproduksi secara lokal. Tidak diimpor dari sisi lain planet ini,” kata salah satu pendiri proyek, Patrick Janssen.

Foto: Euronews

Bentuk Daur Ulang Lain

Selain menjadi pembersih saluran air, ternyata rambut mereka gunakan untuk berbagai manfaat. Misalnya, pupuk taman yang memanfaatkan kandungan nitrogen di dalam rambut. Berbagai perusahaan bahkan juga bereksperimen menggunakan rambut sebagai bahan bangunan.

Perusahaan biomanufaktur yang berbasis di London, Biohm, menggunakan limbah rambut manusia untuk menghasilkan alternatif bahan lembaran berbasis kayu dan objek 3D. Pada London Design Week tahun ini, Studio Sanne Visser meluncurkan peralatan rumah tangga yang menggabungkan tali rambut manusia.

Di situs webnya, Proyek Daur Ulang Rambut memuji sifat rambut yang kuat: satu helai dapat menopang hingga 10 juta kali beratnya sendiri. Serta menyerap lemak dan hidrokarbon, larut dalam air dan sangat elastis karena serat keratinnya.

Penulis : Ramadani Wahyu

Sumber: EuroNews

Top

You cannot copy content of this page