Peneliti Asal Prancis Daur Ulang Ban Bekas dengan Metode Kuno

Reading time: 2 menit
Jean-Michel Douarre melakukan daur ulang ban bekas dengan metode kuno. Foto: Techxplore
Jean-Michel Douarre melakukan daur ulang ban bekas dengan metode kuno. Foto: Techxplore

Selama ribuan tahun, manusia telah mengubah kayu menjadi arang melalui teknik pirolisis. Kali ini, Kepala Penelitian Bahan Berkelanjutan di Pabrik Ban Michelin Prancis, Jean-Michel Douarre melakukan daur ulang ban bekas dengan metode kuno.

Pirolisis adalah pemecahan bahan pada suhu tinggi tanpa oksigen. Penggunaan alat ini tidak seperti pembakaran, melainkan menggunakan dekomposisi termal untuk mengubahnya agar dapat digunakan kembali.

BACA JUGA: CornWall, Ubin Ramah Lingkungan dari Limbah Tongkol Jagung

Douarre berharap, pirolisis bisa menempatkan industrinya pada landasan yang lebih ramah lingkungan. Fungsi dari pirolisis ini bisa membantu mendaur ulang sebuah produk yang tidak meninggalkan jejak karbon. Terutama, dapat membantu mendaur ulang ban yang terbuat dari karet dan petrokimia yang mengandung banyak karbon. Sebab, saat ini proses produksi ban melibatkan pembakaran bahan bakar fosil yang melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer.

Eropa Menghasilkan Sekitar 3,5 Juta Ton Ban Bekas

Techxplore melansir bahwa para ilmuwan telah mempelajari cara memanfaatkan teknik ini untuk membuat bahan bakar, bahan kimia, dan material dari limbah kaya karbon serta biomassa terbarukan. Hal ini ini sangat sesuai dengan tujuan Uni Eropa (UE), yaitu ekonomi sirkuler yang melibatkan lebih banyak daur ulang dan lebih sedikit limbah.

“Di Eropa, sebagian besar ban yang sudah habis masa pakainya mereka kumpulkan. Ini merupakan hal yang baik, namun hampir tidak ada satu pun yang menggunakannya untuk membuat bahan baku ban baru,” kata Douarre.

Menurut Asosiasi Produsen Ban dan Karet Eropa, Eropa memproduksi sekitar 3,5 juta ton ban mobil bekas setiap tahun. Setidaknya, 90% ban yang sudah habis masa pakainya digunakan kembali dengan cara tertentu. Sekitar 40% dibakar untuk produksi energi dan sekitar setengahnya untuk daur ulang.

Sebagian besar sisa ban yang didaur ulang, hingga 70%, digiling untuk menghasilkan pelet karet dan bubuk karet, yang sebagian besar menjadi lapangan olah raga buatan dan lantai taman bermain. Sisanya masuk ke dalam semen atau untuk proyek teknik sipil. Misalnya, ban utuh bisa untuk membangun penahan erosi pantai, sedangkan ban bekas menjadi fondasi jalan dan rel kereta api.

Pirolisis Ubah Ban Bekas Menjadi Karbon Hitam

Sementara itu, Douarre telah menunjukkan bahwa pirolisis dapat mengubah ban bekas menjadi karbon hitam yang lebih bersih, yang merupakan komponen utama ban. Pirolisis menghasilkan tiga produk, yaitu cair, padat, dan gas. Dengan menyesuaikan kondisi di dalam ruang pirolisis, seperti suhu dan laju pemanasan, kuantitas dan komposisi kimia produk tersebut dapat terkontrol.

BACA JUGA: Startup TexFad di Uganda Buat Karpet dari Serat Pisang

Zat kaya karbon ini menyumbang 20 hingga 30 persen dari rata-rata ban dan biasanya berasal dari bahan bakar fosil, termasuk minyak bumi. Karbon hitam memberi warna pada ban, melindungi dari kerusakan akibat sinar UV, dan membantu memperpanjang umur ban.

Tim BlackCycle pimpinan Douarre telah memodifikasi proses untuk menghasilkan minyak dalam jumlah besar melalui pirolisis ban bekas. Para peneliti menggunakan minyak tersebut, yang memiliki sifat kimia mirip dengan bahan bakar fosil, untuk menghasilkan karbon hitam berkualitas tinggi.

Peneliti Buat Ban Bus dari Karbon Hitam

Selanjutnya, para peneliti menggunakan karbon hitam untuk membuat ban bus. Kemudian, melakukan pengujian penggunaan jalan. Prototipe tersebut ternyata memiliki hambatan gelinding, tingkat ketahanan, dan sifat lain yang sebanding dengan ban yang ada.

“Apa yang ingin kami lakukan dalam proses daur ulang adalah menggunakan semua yang kami hasilkan,” kata Douarre.

Misalnya, gas yang berasal dari pirolisis ban bisa mereka manfaatkan sebagai bahan bakar untuk keseluruhan proses. Sementara, minyak apa pun yang tidak diubah menjadi karbon hitam bisa mereka manfaatkan untuk membuat resin.

 

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top