Perpustakaan dari 2000 Kotak Es Krim Bekas

Reading time: 2 menit
perpustakaan
Perpustakaan dari 2000 kotak es krim bekas rancangan Shau. Foto: Shau via treehugger.com

Kita sudah tahu bahwa menggunakan bahan bangunan dari barang bekas tidak hanya menghemat uang namun juga bagus untuk kelestarian lingkungan. Bahan bekas untuk bangunan bukan berarti hanya kayu dan logam saja tapi ada juga material lain yang bisa dijadikan bahan bangunan seperti krat plastik, kaleng bir dan ban bekas.

Di kota Bandung, sebuah firma Indonesia-Belanda bernama Shau menghadirkan karya terbaru mereka berupa sebuah perpustakaan mikro di atas sebuah panggung kecil dengan menggunakan lebih dari 2000 kotak es krim bekas sebagai dinding eksteriornya. Bangunan ini adalah sebuah purwarupa untuk perpustakaan kecil yang rencananya akan dibuat oleh firma tersebut.

Foto: Shau via treehugger.com

Foto: Shau via treehugger.com

Menurut arsiteknya, bangunan perpustakaan mikro ini menambah identitas dan menjadi sumber kebanggaan masyarakat di sekitarnya. Misi mereka adalah mengembalikan ketertarikan terhadap buku dengan menciptakan tempat membaca dan belajar dengan dilengkapi buku-buku, media pembelajaran lain dan kursus-kursus.

Para perancang bangunan ini memilih bahan yang tersedia di sekitar bangunan dengan pertimbangan bahan tersebut tidak hanya memberikan perlindungan namun juga ringan dan bisa dilewati udara. Pengrajin lokal dipekerjakan untuk mengolah kotak es krim bekas ini mengingat banyak yang harus dipotong bagian bawahnya untuk berfungsi sebagai jendela. Hasilnya pada interior adalah ruang yang terasa tenang dan benderang karena sifat bahannya yang tembus cahaya.

Foto: Shau via treehugger.com

Foto: Shau via treehugger.com

Kotak es krim tersebut ditempelkan ke tulang baja vertikal kemudian diletakkan dengan kemiringan tertentu. Sementara di bagian dalam ditutup oleh partisi yang bening dan dapat digerakkan sehingga mencegah air hujan masuk. Beberapa kotak diletakkan terbalik sehingga memberikan kesan pixel dari luar dan membentuk tulisan “Buku Adalah Jendela Dunia”.

Dengan anggaran minimal, intervensi ide seperti ini bisa jadi berskala kecil namun dampaknya terhadap masyarakat sekitar ternyata sangat besar.

Penulis: NW/G15

Top
You cannot copy content of this page