Eva Bande, Pejuang Agraria yang Keras Kepala

Reading time: 5 menit
Eva Bande. Foto: Ist.

Eva Bande. Foto: Ist.

Eva meminta waktu untuk mendiskusikannya bersama teman-teman aktivis sebelum memutuskan mengambil grasi tersebut. Namun, Eva meminta di dalam permohonan grasinya bahwa ada perlakuan yang sama terhadap teman-teman aktivis agraria yang masih dalam tahanan. Selain itu, ia juga meminta kepada Presiden untuk mengakui perjuangan mereka sebagai sebuah perjuangan untuk rakyat. Bahwa mereka telah dikriminalisasi sehingga mendekam di dalam tahanan.

“Tidak berapa lama saya membaca di sebuah portal berita. Pak Menteri Yasonna mengatakan bahwa apa yang terjadi pada Eva adalah kriminalisasi dan Presiden akan segera menggunakan hak prerogratifnya. Saya melihat bahwa ada langkah maju yang dilakukan oleh negara ini untuk pertamakalinya. Grasi ini juga seharusnya bisa menjadi pintu masuk dalam menyelesaikan permasalahan agraria ini,” katanya lagi.

Kehidupan di dalam penjara

“Berani punya cita-cita, harus berani menderita.” Itulah kalimat yang menjadi kekuatan Eva untuk bertahan di dalam tahanan. Menurutnya, bagi siapapun yang pernah merasakan “hotel prodeo”, pasti akan menghadapi banyak pergolakan di dalam hati. Pertempuran batin hebat hampir selalu akan terjadi.

Eva mengaku bahwa dirinya sangat tidak nyaman dengan suara pintu penjara saat memasuki waktu penguncian. Suaranya yang keras dan menggema membuat hatinya lirih dan menjerit. Namun prinsip hati yang mengatakan bahwa semangat yang dimiliki harus lebih besar dari segala tekanan yang datang membuatnya tetap terus bertahan.

“Itu kan bunyi-nya keras ya, BREK BREK BREK BREK. Sipirnya kasar benar dan saat seperti itu saya buru-buru saja memasang pemutar musik sekeras-kerasnya karena di dalam itu kan masih boleh menggunakan MP4 ya,” ceritanya sembari tertawa kecil.

Top

You cannot copy content of this page