Eva Bande, Pejuang Agraria yang Keras Kepala

Reading time: 5 menit
Eva Bande saat mengajukan Peninjauan Kembali (PK) di persidangan. Foto: Ist.

Eva Bande saat mengajukan Peninjauan Kembali (PK) di persidangan. Foto: Ist.

Dukungan Ayah

Perbincangan semakin menghangat ketika kami mulai berbicara masa kecil Eva. “Saya ini anaknya bandel ya. Saya ini keras kepala dan tidak suka diintimidasi,” ujarnya.

Saat Eva kecil, ia mengaku sudah sering keluar rumah dan memberontak terhadap aturan sang Ayah, Hanafi Bande yang kala itu berprofesi sebagai polisi.

“Waktu SMA saya sering banget keluar ke rumah teman karena saya merasa kok kakak saya laki-laki boleh keluar malam tapi saya tidak. Akhirnya saya berontak. Tapi ya begitu tadi, saya keluar rumah tapi ya malam pulang dijemput lagi. Begitulah saya bandelnya,” kata Eva semangat.

Ia juga pernah marah karena tidak diperbolehkan oleh ayahnya untuk kuliah. Akhirnya ia pun pergi ke Palu dengan maksud untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Tadulako. Karena saat itu ia sedang kabur dari rumah, maka ia tidak mendapatkan uang sama sekali dari Sang Ayah. Hingga ia pun akhirnya tidur di asrama dan menjadi penyiar radio swasta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Tidak berapa lama, Sang Ayah yang telah pensiun dari kepolisian pun mulai luluh dan sering mengirimkan uang bulanan serta makanan-makanan yang sifatnya tahan lama untuk Eva.

Pada suatu hari, saat Eva sedang melakukan demontrasi, ayahnya datang dan memarahi Eva. “Mana kawan-kawanku menyanyi-nya lagu darah juang pula kan,” candanya. “Terus, entah kenapa aku berani saja bilang gini: ‘Maaf bapak, betul secara darah saya anak bapak tapi secara ideologi saya bukan anak bapak’. Sudahlah marah dia. Pulang dia dan akhirnya embargo ekonomi lagi aku,” jelas Eva berseloroh.

Hingga akhirnya Sang Ayah kembali luluh dan menjadi sosok penyemangat dirinya setiap kali menjalani proses persidangan. Saat di dalam penjara pun, Sang Ayah selalu membawakan makanan nikmat khas daerahnya karena ia tahu bagaimana kondisi makanan di dalam penjara.

“Bapakku itu di kampung terkenal orang yang sangat keras. Tapi, disaat-saat tertentu, ia bisa berubah menjadi sangat lembut dan memahami perjuangan saya. Dan saya tidak pernah menyangka bahwa ia pernah mengatakan bahwa ‘Tujuh turunanku tidak akan pernah malu dengan kau dipenjara karena kau membantu orang banyak’,” ceritanya.

Top

You cannot copy content of this page