Melestarikan Budaya Lokal Bersama Sobat Budaya

Reading time: 3 menit
Foto: dok. Sobat Budaya

Bandung (Greeners) – Keanekaragaman budaya di Indonesia menyimpan banyak hal menarik yang bisa ditelusuri. Mulai dari peninggalan sejarah berupa artefak, makanan, hingga kearifan lokal. Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Sobat Budaya pun tidak ingin ketinggalan untuk mengenal lebih dekat berbagai kebudayaan yang ada di Tanah Air.

Komunitas Sobat Budaya muncul setelah dideklarasikannya Gerakan Sejuta Data Budaya pada tahun 2009 silam. Untuk mendukung secara penuh gerakan tersebut, beberapa penggiat aktif di dalamnya mendirikan komunitas Sobat Budaya pada 2 Juli 2014.

“Anggota yang resmi tercatat sekarang ada 63 orang, kebanyakan mahasiswa, itu belum termasuk anggota kami di daerah lain,” ungkap Agung Graha Nur Adha, Ketua Sobat Budaya kepada Greeners di Taman Film Bandung beberapa waktu lalu.

Dalam kegiatannya, Sobat Budaya secara rutin melakukan ekspedisi budaya ke berbagai daerah di Indonesia. Ekspedisi dilakukan untuk pendataan terhadap budaya setempat melalui tokoh adat sekitar. Pendataan meliputi berbagai hal, seperti kesenian, perilaku, hingga kuliner. Hasil pendataan tersebut nantinya akan ditampilkan dalam laman www.budaya-indonesia.org.

“Ekspedisi ini kami lakukan untuk pendataan budaya, terutama yang berhubungan dengan alam. Nanti hasilnya bisa diakses di website secara gratis. Bisa membantu siapa saja yang tertarik dengan budaya Indonesia,” ujar Agung.

Foto: dok. Sobat Budaya

Foto: dok. Sobat Budaya

Selain ekspedisi budaya, roadshow budaya di universitas dan sekolah maupun sosialisasi di panti asuhan dan panti jompo dilakukan komunitas Sobat Budaya secara berkala. Menurut Agung, hal tersebut dilakukan untuk memperkenalkan suatu budaya dengan lebih detail namun menyenangkan, terutama budaya yang sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat saat ini.

“Dua kegiatan ini jadi cara untuk memperkenalkan apa saja budaya yang ada di sekitar kita, terutama yang sudah lama ditinggalkan orang saat ini. Contohnya, saat kami memperkenalkan kembali dongeng zaman dulu. Yang mendongeng dari panti jompo, terus dongengnya didengerin sama anak-anak dari panti asuhan,” katanya.

Dari penuturan Agung, komunitas yang akan menginjak usia satu tahun ini menerapkan empat pilar utama untuk mendukung Gerakan Sejuta Data Budaya. Empat pilar tersebut adalah perlindungan hukum, ekonomi kreatif, perpustakaan data, dan pendataan terhadap budaya.

“Dalam satu tahun, UNESCO hanya menerima dua budaya dari satu negara dalam pendataannya. Jadi, empat pilar tersebut nantinya akan mendukung, memberdayakan, melestarikan dan melindungi budaya tersebut hingga mendapat pengakuan resmi,” imbuhnya.

Meski masih “berusia” muda, namun Komunitas Sobat Budaya sudah dipercaya untuk ambil bagian dalam acara Franfurt Book Fair yang akan dilangsungkan pada bulan Oktober 2015 di Jerman.

“Kami ambil bagian sebagai data corner berkerjasama dengan Tikar dan PSN. Nantinya kami menampilkan search engine khusus yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk mengetahui budaya yang ada di Indonesia,” ungkap Agung.

Menurut Agung, pendataan budaya penting dilakukan untuk mengetahui perkembangan budaya secara rinci dan membantu meminimalisir klaim budaya. Melestarikan budaya dan kearifan lokal, lanjut Agung, adalah upaya yang patut diapresiasi karena budaya di masa lalu sangat menghargai alam di sekitarnya.

“Masyarakat harus sadar akan pendataan budaya, minimal dengan foto atau video. Walaupun hari ini hasil budaya tersebut enggak penting, 10 hingga 20 tahun ke depan akan sangat penting dengan melihat perkembangannya melalui foto dan video itu,” katanya.

Sobat Budaya berbagi informasi melalui akun twitter @Sobatbudaya, facebook Budaya Indonesia, instagram Sobatbudaya dan website www.sobatbudaya.or.id

Penulis: ANP/G32

Foto: dok. Sobat Budaya

Top
You cannot copy content of this page