Plastik Detox, Aksi Kreatif Dorong Pengusaha Kurangi Sampah

Reading time: 3 menit
plastik detox
Foto: Plastik Detox

Plastik Detox adalah organisasi nonprofit yang bergerak untuk mengampanyekan pengurangan kemasan plastik sekali pakai yang dikhususkan bagi pengunjung dan para pebisnis lokal, seperti toko, kafe dan restoran.

Koordinator Plastik Detox Dwi Jayanthi menjelaskan bahwa kampanye ini telah dilakukan sejak tahun 2013 yang berfokus di wilayah Sanur, Bali dengan tujuan untuk mengurangi sampah mulai dari hulu.

Kampanye ini terbentuk melalui inisiatif empat orang yaitu Marc Antoine Dunais, Anna Sutanto, Natali Gusti dan Ani Yulinda. Dahulunya keempat orang ini bertemu dalam satu konferensi kemudian tergerak untuk membuat suatu kampanye pengurangan sampah plastik di Bali.

“Kita percaya sekali pencegahan itu lebih baik daripada pengelolaan karena di Bali sendiri belum siap proses recycle-nya. Pencegahan itu berhubungan dengan kebiasaan, nah dari kebiasaannya ini kita mulai untuk melakukan pendekatan ke pedagang-pedagang lokal yang ada di hulu,” ujar Dwi saat diwawancara Greeners dalam acara Our Ocean Conference di Nusa Dua Bali, Oktober 2018 lalu.

Yang menarik adalah, bagi pebisnis atau pedagang lokal yang berkomitmen untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai seperti kantong kresek plastik, sedotan plastik dan styrofoam, berhak mendapatkan insentif dari Plastik Detox berupa pelatihan manajemen sampah dan layanan desain.

Selain itu mereka juga membantu para pelaku bisnis tersebut dalam membuat keperluan promo terkait lingkungan. “Jadi intensif yang di dapat juga berupa media promosi dan peliputan video yang berkaitan dengan komitmen mereka (pebisnis), bukan dengan bisnisnya,” ujar Dwi.

plastik detox

Plastik Detox melakukan pemilihan sampah pengunjung Sunday Market Sanur. Foto: Plastik Detox

Sampai saat ini Plastik Detox telah bekerjasama dengan 19 rekan bisnis dari 27 lokasi yang berbeda di Bali dan memiliki cabang. Plastik Detox juga melakukan kerjasama secara rutin dengan Sunday Market Sanur dengan membuat zero waste event setiap bulannya.

Plastik detox menyediakan tiga tong sampah yaitu compostable, recyclable, dan trash dalam acara tersebut. Selain itu mereka juga mencoba menerapkan program pengurangan pemakaian alat makan sekali pakai melalui sistem deposit.

“Jadi maksudnya sistem deposit itu seandainya dalam acara tersebut ada pengunjung yang jajan dan tidak membawa alat makan pribadi, maka Plastik Detox sudah menyediakan peralatan makan ramah lingkungan. Pengunjung hanya membayar biaya sewa sebesar 10.000 rupiah. Setelah selesai dipakai, pengunjung mengembalikan lagi peralatan makan tersebut. Peralatan makan yang sudah dipakai oleh pengunjung kami cuci hingga bersih sehingga dapat digunakan ulang,” ungkap Dwi.

 

plastik detox

Plastik Detox menyewakan peralatan makan ramah lingkungan di lokasi acara. Foto: Plastik Detox

Meskipun aksi ini mendapat respon positif dari pebisnis lokal, namun hambatan masih sering dialami oleh mereka. Salah satunya ketika mencari calon anggota yang mau ikut tergabung dalam kampanye ini.

Beberapa dari calon anggota tersebut masih belum memiliki kemauan untuk mengurangi pemakaian kemasan plastik sekali pakai, karena enggan mengeluarkan modal untuk membeli produk-produk eco alternative.

“Produk-produk eco alternative itu biayanya lumayan besar, misalkan sedotan plastik harganya 100 rupiah terus mereka ganti dengan sedotan kertas yang harganya 600 rupiah, itu benar-benar meningkatkan cost mereka. Maka dari itu kita menyarankan untuk tidak pakai sedotan atau menyediakannya ketika diperlukan saja. Perubahan perilaku itu harus penuh dengan kesabaran, oleh karenanya kita kurangi dulu secara pelan-pelan,” ujar Dwi.

Perjalanan Plastik Detox dari awal terbentuk hingga sekarang adalah berhasil untuk membuat lokasi Sunday Market bebas styrofoam, tidak ada botol minuman plastik dan adanya tempat pengisian air minum.

“Jadi 100% pencapaiannya adalah kita telah bebas dari air botol dalam kemasan. Dulu hampir di setiap stand ada botol minum plastik, sekarang sudah dilarang. Sudah disediakan water filler namun berbayar sebesar 2000 rupiah sebagai bentuk donasi. Kemudian pengunjung menggunakan paper packaging sebagai pengganti kantong plastik,” tegas Dwi.

“Pengunjung juga menggunakan paper packaging sebagai pengganti kantong plastik. Ditambah lagi pengunjung sudah memilah sampahnya dengan baik. Sejauh ini rekan-rekan pelaku bisnis restoran dan kafe disekitar Sanur berkomitmen bersama Plastik Detox menuju zero waste. Usaha ini juga tidak terlepas dari bantuan relawan yang standby mengawasi pengunjung buang sampah seharian, mulai dari jam 10 pagi sampai jam 6 sore,” ujar Dwi menambahkan.

Kedepannya target yang ingin diraih oleh Plastik Detox adalah dengan membuat Sanur bebas dari pemakaian plastik sekali pakai di tahun 2020. “Meskipun kita tidak terlalu ketat dengan angka atau presentase pengurangannya, tetapi kita percaya bahwa target tersebut dapat tercapai dan prosesnya itu benar-benar harus dijaga,” pungkas Dwi.

Penulis: Sarah R. Megumi

Top