Swietenia Puspa Lestari Menyelam untuk Menyelamatkan Laut dari Sampah

Reading time: 5 menit
swietenia

Swietenia Puspa Lestari. Foto: dok. pribadi

Mendirikan Divers Clean Action

Sepulangnya dari Amerika, Tenia bersama dua temannya yang juga memiliki keresahan akan sampah laut, Nesha Ichida dan Adi Septiono, mendirikan Yayasan Penyelam Lestari Indonesia dan membentuk Divers Clean Actions (DCA). Saat itu baik Tenia maupun kedua temannya masih bertatus mahasiswa tingkat tiga ITB.

Tenia mengaku bahwa keputusannya membentuk DCA dan menjadi aktivis lingkungan sempat ditentang oleh kedua orang tuanya yang menginginkan dirinya membangun karir sebagai Pegawai Negeri Sipil. Namun dengan keseriusan dan totalitasnya menjalankan DCA, kedua orang tua Tenia akhirnya mendukung penuh pilihan Tenia ini.

Saat ini DCA beranggotakan dua belas pemuda yang mempunyai tujuan bersama untuk mengembangkan peran pemuda dalam memerangi masalah sampah laut terutama di pulau-pulau kecil di Indonesia. Untuk mewujudkan hal ini, DCA bermitra dengan beberapa universitas, badan pemerintah maupun pelaku industri untuk melakukan penelitian.

DCA juga memadukan program lingkungan dengan penyelaman, mengambil peran sebagai fasilitator untuk mengembangkan masyarakat pesisir dan melakukan berbagai kampanye dan pelatihan terkait sampah laut. Semua kegiatan tersebut dilakukannya sepanjang tiga tahun terakhir dengan lebih dari 1.000 sukarelawan di seluruh Indonesia.

“Alasan aku, Nescha dan Adi membuat DCA karena belum banyak kegiatan, komunitas, atau NGO yang bergerak di masalah sampah laut dan gerakan bersih-bersih laut dan pantai. Seiring berjalannya waktu aku sadar kok kalau kita bersih-bersih mendata sampahnya bagaimana ya dan dilaporkan kemana? Dari situ akhirnya baru sadar kalau di Indonesia belum banyak yang mengurus tentang data sampah laut, makanya fokus DCA saat ini adalah pendataan sampah laut,” kata Tenia.

Ia berpendapat bahwa data merupakan catatan atas kumpulan fakta. Jadi kalau tidak ada data akan sulit melakukan perubahan yang diinginkan.

Disamping melakukan pendataan di Kepulauan Seribu, DCA juga mengampanyekan ke masyarakat dan wisatawan untuk tetap menjaga Pulau Seribu tetap bersih, serta tidak menggunakan plastik dan styrofoam. Mereka juga mengajarkan masyarakat di Kepulauan Seribu untuk mendaur ulang sampah di bank sampah.

“Saat ini permasalahan yang ada di pulau-pulau kecil di Indonesia selain soal ketaatan dan perilaku menjaga lingkungan, juga mengenai sistem pengumpulan sampah. Banyak perusahaan yang sekarang sudah menerima daur ulang sampah hingga 2.000 ton bahkan bisa dicampur jenis plastiknya, tapi sampah tersebut harus bersih (saat diterima) yang artinya sudah di pilah di sumber. Jadi, program DCA yang berada di pulau-pulau kecil atau daerah fokus ke masalah pengumpulan sampah,” ujar Tenia.

Upaya Tenia bersama DCA mengedukasi mayarakat pesisir untuk memilah sampah akhirnya membuahkan hasil. Sampah yang sudah terpilah ini dibeli oleh salah satu perusahaan ritel pakaian ternama H&M (Hennes & Mauritz AB) dan dijadikan sarung tangan dan kaus kaki.

Selain itu, DCA juga mengadakan pelatihan cara memerangi sampah laut yang bertujuan membangun kepedulian terhadap laut. “Pada tahun 2017 kami mengadakan Indonesian Youth Marine Debris Summit (IYMDS) dan pada tahun 2018 DCA menjadi tuan rumah workshop YSEALI bertema Sampah Laut,” kata Tenia.

Top