Be Seen Be Heard, Aksi Anak Muda untuk Tekan Perubahan Iklim

Reading time: 2 menit
The Body Shop mendorong anak muda berperan aktif menekan dampak perubahan iklim. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Perubahan iklim di Indonesia menjadi isu paling mengkhawatirkan dan telah mempengaruhi kehidupan masyarakat. Efek dari perubahan iklim sangat nyata masyarakat rasakan. Kenaikan suhu, perubahan suhu ekstrem, musim kering dan hujan yang tidak konsisten, hingga bencana alam semakin sering terjadi.

Bahkan menurut data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam kurun waktu 100 tahun, Jakarta telah mengalami kenaikan suhu sebesar 1,5 derajat. BMKG mengungkapkan bahwa hal ini harusnya baru terjadi di tahun 2030.

Melihat kenyataan tersebut, The Body Shop Indonesia meluncurkan kampanye Be Seen Be Heard. Kampanye ini fokus mendorong peran dan suara pemuda untuk lebih aktif lagi memerangi perubahan iklim.

Head of Values Community & PR The Body Shop Indonesia Ratu Ommaya menyatakan, generasi muda penting dalam menekan dampak perubahan iklim.

“The Body Shop Indonesia ingin mengajak kaum muda untuk lebih dilihat dan didengar (Be Seen Be Heard) sehingga bisa berperan aktif sebagai “change maker”. Kami mengajak anda untuk lebih lantang bersuara. Jadilah pionir dalam menanggulangi isu ini,” katanya dalam konferensi pers Be Seen Be Heard, baru-baru ini.

Jutaan Anak Muda Belum Berperan Total di Sektor Publik

Secara global, kampanye Be Seen Be Heard ini telah The Body Shop luncurkan awal bulan Mei bersamaan dengan penerbitan laporan ‘Be Seen Be Heard, Memahami Partisipasi Politik Anak Muda’. Laporan ini The Body Shop lakukan bersama Kantor Utusan Pemuda Sekretaris Jenderal PBB.

Laporan ini juga menunjukkan bahwa saat ini jutaan kaum muda di seluruh dunia tidak mendapat peran dalam sektor publik. Utamanya, dengan adanya isu krisis iklim, konflik global dan ketidaksetaraan generasi.

Chief Commercial Officer Carbon Ethics menyebut, mengacu laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) di tahun 2018, para ilmuwan iklim berkesimpulan bahwa manusia hanya punya 8 tahun lagi sebelum bumi tidak dapat kembali seperti semula. Bumi semakin panas. Karbon yang terlalu banyak membuat bumi menjadi terlalu panas dan terjadilah krisis iklim.

“Kita sudah mengalami tujuh tahun terpanas berturut-turut sepanjang sejarah yaitu dalam rentang tahun 2015 hingga 2021. Sebagai kaum muda, kita harus mulai mengubah gaya hidup kita dengan memperhatikan usaha mengurangi jejak karbon dan menyerap karbon yang tidak bisa kita kurangi,” paparnya.

Indonesia Berpotensi Terkena Dampak Luar Biasa dari Perubahan Iklim

Sementara itu, Co-Founder & Chairman Teens Go Green Indonesia Bambang Sutrisno menyatakan, ada prediksi Indonesia menjadi negara di Asia Tenggara yang terkena dampak luar biasa dari perubahan iklim.

Jakarta menjadi kota paling rentan yang akan mengalami dampak krisis iklim. Hal ini karena berbagai kompleksitas masalahnya, seperti penurunan permukaan tanah dan minimnya infrastruktur pendukung. Saat ini sekitar 40 % wilayah ibu kota berada di bawah permukaan laut.

Dengan jumlah kaum muda yang besar, sambung dia seharusnya kaum muda bisa menjadi bagian dari solusi atas permasalahan akibat krisis iklim yang terjadi.

Berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, jumlah generasi Z mencapai 75,49 juta jiwa (27,94 persen). Sementara jumlah generasi milenial mencapai 69,90 juta jiwa (25,87 persen).

“Kaum muda sejak dulu merupakan agen utama yang dapat melakukan perubahan. Dengan energi dan semangat yang tinggi, serta pola pikir dan ide-ide yang kreatif dan inovatif, kaum muda bisa menjadi solusi atas krisis iklim yang akan mengancam masa depan mereka,” katanya.

Angela Gilsha Panari perwakilan kaum muda yang telah menerapkan gaya hidup berkelanjutan dalam kesehariannya menyatakan tanpa peranan aktif dari para kaum muda, perubahan iklim bukan lagi sebuah fenomena. Melainkan sebuah krisis yang mengancam manusia.

Peran yang dapat generasi muda lakukan dalam mencegah efek perubahan iklim misalnya menggunakan barang-barang yang bisa terdaur ulang, mengurangi konsumsi plastik sekali pakai dan hemat energi.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top
You cannot copy content of this page