Sampah WSBK Mandalika Terpilah, Terdaur Ulang dan Turunkan Beban TPA

Reading time: 4 menit
WSBK Mandalika menerapkan pengelolaan, pilah dan daur ulang sampah. Foto: Dyandra&Co

Jakarta (Greeners) – Gelaran berkelas internasional World Superbike (WSBK) Mandalika, Nusa Tenggara Barat, mendapat sorotan netizen karena ulah penonton tak bertanggung jawab yang membuang sampah sembarangan di podium. Padahal penanggung jawab pengelolaan sampah dan Dinas Lingkungan Hidup setempat memaksimalkan pengelolaan sampah, memilah dan mendaur ulangnya.

Pascakegiatan, tim yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah langsung sigap membersihkan, memilah sampah hingga mengirimnya ke pusat daur ulang (PDU) hingga dini hari.

Dari catatan Dinas Lingkungan Hidup Lombok Tengah, total sampah yang terkumpul selama empat hari kegiatan berlangsung, pada 18-21 November 2021 mencapai 23.780,2 kilogram (kg) atau 23,7 ton.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, Limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) dan Sanitasi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Tengah Lalu Maksum Supardi mengungkapkan, manajemen pengelolaan sampah WSBK terkendala kepedulian masyarakat.

“Tidak banyak sebenarnya yang berserakan (sampah) di podium. Memang dalam rapat-rapat sebelumnya sudah ada komitmen dari panitia untuk tidak membawa minuman kemasan sekali pakai kecuali tumbler isi ulang. Tapi hal itu tidak berjalan sesuai harapan,” katanya kepada Greeners dari Lombok, Jumat (26/11).

Dinas Lingkungan Hidup Lombok Tengah Bersama Dyandra&Co memilah sampah di dua tempat pemilahan sampah (TPS) besar yang berada di lokasi WSBK. Dari pemilahan di dua TPS induk ini, tim memilah sampah WSBK, setelah itu jika layak daur ulang tim kirim ke PDU di Batunyala, Kota Praya, Lombok Tengah. Sedangkan sampah organik tim kirim ke black soldier fly (BSF) di Desa Sengkol.

“Itu rutin kami lakukan setiap harinya, sudah kita pilah semua dan pilah mana yang bisa daur ulang seperti plastik, koran, sisa makanan. Redisu paling dominan rata-rata plastik yang tidak bisa didaur ulang. Sampah yang sulit daur ulang baru tim kirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA),” ucapnya.

Tim Bergerak Cepat Tangani Sampah WSBK

Maksum menjelaskan, total sampah di ajang WSBK mencapai 23.780 kg atau 23,7 ton. Dari hasil pemilahan yang masuk ke TPA 15.894 kg atau 66 % dari total sampah yang ada. Sampah plastik ke PDU mencapai 3.512 kg atau 14 %, sampah kardus bekas bungkus nasi 3.105 kg atau 13 %, sampah organik 1.227 kg atau 5 % untuk pakan black soldier fly. Sedangkan sampah logam aluminium mencapai 40,8 kg 0,17 %.

Upaya cepat penanganan sampah ini bahkan telah tim lakukan sebelum kunjungan peninjauaan langsung Presiden Joko Widodo ke lokasi WSBK. Dinas Lingkungan Hidup Lombok Tengah menerjunkan 50 personel untuk bergerak cepat menangani sampah dan Dyandra&Co juga menambah 300 personel kelola sampah selama WSBK berlangsung.

Selain itu, sejumlah alat angkut seperti truk, pick up dan kendaraan pendukung lainnya bergerak mendukung pengelolaan sampah di lokasi ajang internasional itu.

Maksum menambahkan, dengan pengalaman pengelolaan sampah di ajang WSBK ini, menjadi evaluasi yang dapat memperkuat komitmen pengelolaan sampah saat MotoGP Maret 2022 mendatang.

“Adanya sampah di tribune kita harap maklum ini permulaan learning proses ke depannya lebih baik. Untuk MotoGP sudah diwanti-wanti bagaimana nantinya posisi TPS, minim sampah, aturan bawa tumbler dan sampah tidak berserakan di tribune,” paparnya.

Sampah yang terpilah di ajang WSBK masuk pusat daur ulang sehingga tak membebani TPA. Foto: Dyandra&Co

Tersedianya Pusat Daur Ulang Permudah Pemilahan Sampah WSBK

Penanggung Jawab Pengelolaan Sampah dan Limbah event WSBK dari Dyandra&Co Syaiful Rochman mengungkapkan, praktik penanganan dan pengelolaan sampah untuk sebuah event besar ini tergolong baik. Hal ini juga berkat adanya fasilitas pendukung PDU, BSF dari sampah organik dan insinerator milik Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah.

“Kita sudah siapkan sistem pengelolaan sampah di 155 titik berupa tempat sampah terpilah. Ke depan memang perlu evaluasi untuk menambah titiknya karena luasnya area. Bahkan kita juga menyediakan tempat khusus untuk limbah medis dan limbah B3,” katanya kepada Greeners di Jakarta, Sabtu (27/11).

Limbah medis dan limbah bahan berbahaya dan beracun dari swab test dan vaksinasi on the spot inilah yang masuk ke insinerator. Jumlahnya mencapai 30 kg. Kemudian untuk limbah B3 non medis, pihak pengelola sampah bekerja sama dengan pengolah limbah B3 berizin mengirimnya ke Surabaya.

Menurutnya, ketika akan ada perhelatan besar atau bahkan bertaraf internasional fasilitas pendukung pengelolaan sampah ini harus terbangun lebih dahulu. Hal ini akan mempermudah upaya pengelolaan sampah ketika event berlangsung. Bahkan untuk MotoGP 2022 mendatang, hal ini sangat membantu.

Dari pengelolaan sampah yang Dyandra &Co dan Dinas LH lakukan, pemilahan dan daur ulang yang baik mampu mengurangi beban TPA dari residu sampah yang ada.

Kampanye Peningkatan Kesadaran Publik untuk Kurangi Sampah

Namun ketersedian fasilitas pengelolaan sampah ini juga harus mendapat dukungan kesadaran masyarakat atas sampah yang mereka hasilkan. Oleh sebab itu, pendekatan eksternal dengan meningkatkan edukasi kepedulian terhadap sampah dan lingkungan harus pemerintah daerah dan penyelenggara acara lakukan sebelum gelaran berlangsung.

“Ke depannya kampanye pemilahan dari pengunjung yang datang itu harus lebih masif. Kemarin dari sisi kampanye belum maksimal. Tapi dari sisi penanganan baik, masuk dalam standar event yang baik,” ucapnya.

Kemudian di sisi internal lanjutnya, penyelenggara WSBK cukup beragam. Semua yang terlibat harus berelasi untuk mendukung gerakan minim dan peduli sampah ini.

“Kalau saat WSBK, dari sisi internal vendor katering harus menyadari penggunaan material yang mudah daur ulang jangan styrofoam. Jenis ini banyak beredar walaupun kita sudah larang,” imbuhnya.

Pengurangan material pembungkus makanan yang sulit terdaur ulang ini sangat penting. Di ajang WSBK, ribuan petugas yang bertugas menetap dan tiga kali makan sehari.

Penulis : Ari Rikin

Top