Jakarta (Greeners) – Masyarakat Indonesia kembali terhimpit oleh kualitas udara yang buruk. Belum ada napas yang lega selagi udara masih tercemar. Kini, pencemaran udara juga diperparah oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski berasal dari berbagai sumber dengan kandungan polutan yang berbeda, polusi udara tetap berbahaya jika terhirup manusia.
Terjadinya pencemaran udara yang berulang ini bukan tanpa sebab. Buruknya kualitas udara disebabkan oleh berbagai sumber, seperti asap kendaraan, karhutla, pembakaran sampah, asap pembangkit listrik, asap industri, dan lain sebagainya.
Pada 2 September 2026, salah satu provinsi di Indonesia, DKI Jakarta tercatat menjadi salah satu kota yang masuk ke dalam lima besar kota dengan kualitas udara terburuk. Data IQAir mencatat, pada hari itu tepatnya pukul 13.00 WIB, indeks kualitas udara mencapai 137 yang masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Tak hanya di DKI Jakarta, wilayah yang terdampak karhutla juga mengalami kondisi serupa. Salah satunya Kalimantan yang tengah mengalami karhutla cukup besar.
Dampak dari peristiwa tersebut, Kementerian Kesehatan mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla sebanyak 50.891 kasus sejak Juli hingga Agustus 2026.
Udara tercemar yang tak bisa terlihat oleh kasat manusia ini ternyata di dalamnya mengandung banyak senyawa berbahaya. Udara yang tercemar akibat pembakaran apa pun, jika terhirup manusia bisa menimbulkan risiko penyakit.
Kandungan Polutan
Guru Besar Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Budi Haryanto mengungkapkan bahwa kandungan polusi udara di kota besar seperti DKI Jakarta dengan polusi udara akibat karhutla yang terjadi di Kalimantan memiliki kandungan yang berbeda. Namun, ia menegaskan bahwa keduanya tetap berbahaya terhadap kesehatan manusia.
“Berbeda karena beda sumber ya. Kalau polusi dari kendaraan bermotor, industri yang melayang di udara emisinya itu banyak mengandung bahan kimia kan, seperti bensin. Jadi ada sulfur, ada NOx, ada hidrokarbon macam-macam,” kata Budi kepada Greeners, Jumat (9/7).
Budi menambahkan bahwa hal itu serupa dengan industri yang memiliki aktivitas pembakaran. Terdapat senyawa berbahaya juga yang dapat terlepas ke udara dan mencemari lingkungan.
Sementara itu, asap yang ditimbulkan dari karhutla berasal dari berbagai emisi akibat terbakarnya daun, kayu, dan rumput. Sifatnya lebih biologis sehingga senyawa kimianya pun tidak terlalu banyak.
Namun, kondisi tersebut berbeda ketika karhutla terjadi di lahan gambut seperti di Kalimantan. Sebagian besar bagian gambut berada di bawah tanah dan mengandung berbagai logam berat. Dengan demikian, asap yang dihasilkan dari kebakaran gambut juga dapat membawa berbagai zat berbahaya.
Maka dari itu, baik polusi yang berasal dari kendaraan bermotor, industri, maupun karhutla, seluruhnya memiliki bahaya bagi kesehatan manusia jika asapnya terhirup.
“Jadi sebenarnya kalau mau mengatakan kan kandungan polusi udara yang di kota dan di kebakaran hutan ya jelas beda. Namun, selama orang masih bernapas dan menghirup udara tercemar ya sama saja bahayanya,” tambah Budi.
Di sisi lain, polusi udara yang disebabkan oleh pembakaran sampah juga berbahaya. Sebab, terdapat berbagai campuran bahan yang dibakar, seperti material organik, plastik, kaleng, dan sampah lainnya yang mengandung bahan kimia.
Dari bahan-bahan tersebut, kata Budi, akan dihasilkan emisi yang terlepas ke udara. Seluruhnya dapat memengaruhi kesehatan, baik pembakaran material organik maupun bahan yang mengandung zat kimia.
Sumber Pencemar
Pencemaran udara yang terus berulang ini akan terus terjadi jika sumber-sumber pencemar masih menyumbang emisi. Berdasarkan penelitian peneliti Institut Teknologi Bandung, salah satu sumber pencemaran udara terbesar berasal dari kendaraan bermotor, yakni sekitar 55 persen.
“Kemudian sisanya dari industri dan dari pembakaran terbuka, bahkan seperti sampah. Artinya kalau itu masih ada ya polusi udaranya terus menerus nggak akan berhenti,” ujar Budi.
Selain sumber pencemar, kondisi cuaca juga dapat memengaruhi kualitas udara. Budi mengungkapkan bahwa musim kemarau menjadi salah satu kondisi yang dapat menyebabkan pencemaran udara lebih tinggi. Sebab, berbagai material menjadi kering dan lebih mudah terbawa angin.
“Tapi musim kemarau semuanya kering kan, bisa terbawa angin dan partikel. Ya kalau kemarau ya mesti lebih tinggi, karena sumbernya ada ditambah dengan yang tadinya basah-basah ya menjadi kering yang terurai di udara,” kata Budi.
Sebaliknya, ketika hujan turun, polusi udara dapat berkurang. Air hujan dapat membawa sebagian polutan yang berada di udara turun ke permukaan.
“Nah, terus kemudian yang disebut polusi udara itu kan yang ada di udara. Nanti kalau efeknya pada manusia, polutan-polutan yang ada di udara tadi terhirup oleh orang kan. Kalau sudah tidak di udara, ya tidak terhirup orang lagi kan,” tambah Budi.
Bahaya Paparan Polusi pada Anak
Budi juga mengingatkan bahaya paparan polusi udara pada anak-anak, termasuk ketika mereka diajak bepergian menggunakan sepeda motor tanpa perlindungan yang memadai. Salah satu contohnya adalah kebiasaan orang tua membiarkan anak berdiri di bagian tengah motor dan memeganginya selama perjalanan tanpa menggunakan masker.
“Jadi, sekali tarik napas tuh 500 ml udara yang masuk, jadi dia mau berdiri, mau duduk di motor sama aja tetap terpapar polusi. Berbeda dengan kalau kita naik sepeda, kita lari yang bernapasnya itu lebih, frekuensinya jadi lebih sering kan,” ungkap Budi.
Normalnya manusia bernapas 20 kali dalam semenit. Tapi kalau sedang lari atau naik sepeda, itu bisa 50 kali, 60 kali, 70 kali bernapas dalam semenit. Untuk itu, setiap kali nafas memasukkan 500 ml udara yang tidak diketahui kandungan dari polusi ini berapa yang masuk. Dengan demikian, menurut Budi hal itulah yang lebih berbahaya.
Kelompok Rentan Lebih Berisiko
Dampak dari pencemaran udara yang disebabkan oleh berbagai faktor tersebut juga dapat menimbulkan masalah kesehatan serius pada manusia, terutama kelompok rentan.
Sekretaris Kelompok Kerja Penyakit Paru akibat Pekerjaan dan Lingkungan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Efriadi Ismail mengungkapkan bahwa kelompok yang paling rentan terdampak pencemaran udara adalah balita, anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Balita menjadi kelompok rentan karena saluran pernapasan mereka masih belum berkembang sempurna dan ukurannya lebih kecil. Sistem imunitasnya juga lebih rentan dibandingkan orang dewasa.
“Bahkan kerusakannya bisa menjadi permanen, tapi itu tergantung berapa lama frekuensi pajanannya, kemudian usianya berapa, apakah dia punya penyakit dasar terkait penyakit paru dan pernapasan,” ujar Efriadi.
Selanjutnya, ibu hamil juga menjadi kelompok rentan karena di dalam tubuhnya terdapat janin yang masih berkembang. Jika ibu hamil terpapar polusi udara, janin juga dapat ikut terdampak karena masih sangat rentan terhadap berbagai zat pencemar.
Lansia juga termasuk kelompok rentan karena fungsi paru-paru dan jantungnya telah mengalami penurunan. “Ini rentan apabila terpajan dengan zat-zat yang banyak tadi,” kata Efriadi.
Selain kelompok tersebut, masyarakat yang memiliki penyakit paru atau penyakit penyerta sebelumnya, seperti asma, penyakit paru kronis, penyakit jantung, atau pernah menderita tuberkulosis dengan komplikasi, juga lebih mudah mengalami gangguan kesehatan akibat paparan polusi udara.
“Tentunya masyarakat sekitar yang terdampak dengan karhutla misalnya pekerja yang memadamkan api, atau pekerja pabrik yang terkait dengan polusi industri juga sangat rentan,” tambahnya.
Pencemaran Udara Ganggu Kesehatan
Polusi udara yang terus-menerus mengepung langit dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit bagi masyarakat. Dalam jangka pendek, paparan polusi udara dapat menimbulkan gejala seperti mata perih, hidung berair, serta tenggorokan kering dan terasa terbakar.
“Efeknya juga bisa batuk berdahak, sesak, rasa nyeri di dada jika memiliki riwayat penyakit asma. Bisa saja nanti kuman-kuman menempel jadinya ISPA atau pneumonia. Nah, kalau tinggi banget sekali, bisa kayak gejala keracunan gitu ya, bisa sakit kepala, bisa mual, bahkan bisa saja mengalami gangguan kesadaran kalau zat-zatnya cukup tinggi,” ujar Efriadi.
Asap kebakaran seperti karhutla juga banyak mengandung partikel halus PM2,5 yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Selain itu, terdapat pula partikel dan berbagai gas yang berasal dari proses pembakaran. Seluruhnya dapat menyebabkan permasalahan pada sistem pernapasan manusia.
Untuk itu, Efriadi mengimbau masyarakat mencegah polusi udara masuk ke dalam tubuh, salah satunya dengan menggunakan masker. “Kalau untuk keluar rumah, kami menyarankan menggunakan masker seperti N95, KN95, atau masyarakat bisa menggunakan masker lain secara double sehingga bisa melindungi, paling tidak masuknya asap dan debu-debunya tidak terlalu tinggi,” ujarnya.
Sementara itu, ketika berada di dalam rumah, masyarakat yang memiliki air purifier dapat menggunakannya untuk membantu menjaga kualitas udara. Masyarakat juga sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan, termasuk olahraga, ketika kualitas udara sedang buruk. Jika harus keluar rumah, penggunaan masker menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi paparan polusi.
Melihat tingginya pencemaran udara di sejumlah wilayah Indonesia, hak masyarakat untuk mendapatkan udara bersih masih belum sepenuhnya terpenuhi. Berbagai polutan yang berasal dari kendaraan, industri, pembakaran sampah, hingga karhutla dapat membawa zat berbahaya bagi tubuh. Jika paparan terjadi terus-menerus, dampaknya tidak hanya manusia rasakan dalam jangka pendek, tetapi juga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan berkepanjangan di masa mendatang.
Penulis: Dini Jembar Wardani








































