BSF Hilangkan Sampah Organik Dalam Dua Hari

Reading time: 2 menit
BSF bisa menghilangkan sampah organik dengan cepat. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Langkah pengelolaan sampah organik melalui metode biokonversi menggunakan budi daya maggot atau lalat tentara hitam black soldier fly (BSF) merupakan terobosan yang penting dilakukan. Dalam dua hari, sampah sebanyak 10 kilogram bisa hilang, berbeda dengan kompos yang membutuhkan waktu hingga dua bulan.

Kasubdit Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) dan Non B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Edward Nixon Pakpakhan menyatakan, pengelolaan sampah organik di Indonesia belum signifikan.

Padahal, 40 % dari 70 juta ton sampah yang Indonesia hasilkan setiap tahun merupakan sampah organik. Jenis sampah ini menghasilkan gas metan sumber emisi.

“40 % sampah organik itu sebagian besar, yaitu 30 persennya berasal dari rumah tangga. Menurut kami angka sampah organik yang tertangani dengan BSF ini belum besar maka kami mendorong upaya konkret penanganan sampah ini,” katanya dalam Diskusi Kolaborasi Atasi Sampah Organik dan Penciptaan Ekonomi Sirkular dengan Metode BSF, di Jakarta, Kamis (31/3).

Menurut Edward, masyarakat tapak, di daerah-daerah berkontribusi besar terhadap penanganan sampah organik. Akan tetapi masih sangat sedikit yang memanfaatkan metode BSF. “Oleh karena itu kita harus memulainya dengan dari kecil, yaitu di daerah-daerah agar lebih berprogress,” imbuhnya.

KLHK, sambung dia dalam hal ini juga tengah menyiapkan rancangan untuk sampah spesifik dan memfokuskan ke biokonversi maggot. Sehingga nantinya akan terimplementasi ke masyarakat. Edward juga menyebut, pengelolaan sampah dengan BSF sangat berpeluang meningkatkan sirkular ekonomi.

Sampah Organik Sulit Menghasilkan Uang

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan Heru Farianto mengungkapkan, pengelolaan sampah organik masih menemui tantangan. Sampah anorganik bisa menghasilkan uang lebih cepat dibanding organik.

“Misalnya di daerah kita sudah ada tata kelola sampah anorganik mulai dari 200 unit bank sampah, 60 unit TPS 3R dan 2 lokasi TPST. Tapi untuk sampah organik belum ada, sehingga sampah terbuang ke TPA,” ucapnya.

Saat ini pemerintah Kabupaten Pasuruan, mendorong agar masyarakat mulai memilah sampah dari sumber. Baik itu sampah organik maupun anorganik. Heru juga memastikan nantinya akan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan sampah organik menjadi kompos hingga memanfaatkan metode BSF.

BSF Salah Satu Metode Penanganan Sampah 

Campaign Division Manager Waste4change Saka Dwi Hanggara menyatakan, ada dua penanganan sampah organik, yakni 20 % dijadikan kompos dan 80 % melalui BSF. Langkah ini bisa menciptakan ekonomi sirkular.

Bahkan menurutnya, pengelolaan sampah organik metode BFS lebih efektif dan efisien daripada kompos. Ini tak lain karena melalui BSF sampah lebih cepat hilang. “Dalam dua hari, sampah sebanyak 10 kilogram bisa hilang. Berbeda dengan kompos yang membutuhkan waktu hingga dua bulan dan memakan tempat,” katanya.

Penciptaan produk-produk dari sampah organik, sambung Saka akan berpeluang sama dengan sampah anorganik yakni menghasilkan tambahan pendapatan sebagai bagian dari ekonomi sirkular. Hanya, tantangannya lebih kepada permintaan pasar yang belum banyak melirik pada produk olahan dari sampah organik.

Ekosistem pangsa pasar produk-produk sampah organik belum terbentuk. “Kita udah mengolahnya menjadi kompos tapi ternyata pangsa pasar masih banyak yang melirik pupuk kimia. Sama juga dengan BSF sebagai pakan ternak, tapi permintaan pasar masih banyak ke pakan ternak lain,” ungkapnya.

Selain itu, tantangan pengelolaan sampah organik yakni pada pemilahan sampah dari sumber yang masih belum optimal. Pemilahan sampah dari sumber merupakan kunci agar sampah terkelola dengan baik.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top