Ecoton Desak Pemerintah Jawa Timur Tindak Tegas Sampah Impor

Reading time: 3 menit
Sejumlah mahasiswa dan aktivis dari Ecoton menggelar aksi teatrikal untuk menuntut tanggung jawab pemerintah terhadap maraknya sampah impor plastik. Foto: Ecoton
Sejumlah mahasiswa dan aktivis dari Ecoton menggelar aksi teatrikal untuk menuntut tanggung jawab pemerintah terhadap maraknya sampah impor plastik. Foto: Ecoton

Jakarta (Greeners) – Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton Foundation) mendesak pemerintah Jawa Timur bertindak tegas terhadap sampah plastik impor. Sebab, hal itu dapat mengancam kerusakan lingkungan dan menimbulkan banyak risiko.

Pada dua minggu terakhir, Ecoton menginvestigasi eksistensi sampah impor di Jawa Timur. Dalam investigasi tersebut, terdapat fakta baru bahwa dua lokasi desa di kabupaten Sidoarjo, yakni Desa Gedangrowo dan Desa Wirobiting, menjadi dumpsite utama sampah impor.

Di sisi lain, lokasi kedua desa tersebut berdekatan dengan Desa Bangun, tempat perusahaan kertas di Jawa Timur yang kerap menimbun sampah plastik impor. Kini, kedua desa tersebut menjadi opsi utama untuk menimbun sampah impor.

Dengan kondisi tersebut, warga di dua desa tersebut terpaksa manjadi pemilah sampah. Mereka pun merasa beruntung dengan pekerjaan memilah sampah. Bahkan, para pemilah juga menjual sampah plastik impornya ke pabrik tahu sebagai bahan bakar.

BACA JUGA: Bank Sampah Tekan Impor Sampah Plastik dan Kertas

Juru bicara Ecoton, Muhammad Kholid Basyaiban mengungkapkan, warga desa yang hidup di lokasi dumpsite ini justru perlu mendapat alternatif pekerjaan.

“Warga desa yang hidup di lokasi dumpsite perlu mendapat alternatif pekerjaan pengganti memilah sampah yang tidak menimbulkan risiko. Baik risiko kesehatan dan risiko lingkungan yang timbul di kemudian hari,” ungkap Kholid Basyaiban.

Tim investigasi mencatat bahwa perusahaan kertas yang secara terang-terangan membuang sampah plastik impornya berasal dari kawasan Ngoro, Mojokerto.

Gunungan sampah setinggi lebih dari lima meter tampak menumpuk di lapangan terbuka di Dusun Gisik, Desa Wirobiting, dan juga di Dusun Karangkletak, Desa Gedangrowo.

Ecoton Gelar Aksi Tuntutan Sampah Impor

Sejumlah mahasiswa dan aktivis dari Ecoton menggelar aksi teatrikal di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya. Para aktivis menggelar aksi dengan memakai kostum “zombie” berlilitkan sampah impor.

Menurut Kholid, hal itu untuk menggambarkan pesan bahwa di penghujung kepemimpinan Gurbernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, masalah sampah impor di Jawa Timur masih belum tuntas.

Sejumlah mahasiswa dan aktivis dari Ecoton menggelar aksi teatrikal untuk menuntut tanggung jawab pemerintah terhadap maraknya sampah impor plastik. Foto: Ecoton

Sejumlah mahasiswa dan aktivis dari Ecoton menggelar aksi teatrikal untuk menuntut tanggung jawab pemerintah terhadap maraknya sampah impor plastik. Foto: Ecoton

Melalui aksi yang itu, Ecoton meminta gubernur Jawa Timur melakukan beberapa tindakan. Pertama, berkoordinasi dengan instansi terkait dalam melakukan penegakan hukum melalui pengetatan regulasi dan pengawasan terhadap aktivitas pabrik kertas di Jawa Timur.

Tuntutan tersebut bertujuan agar pihak pabrik tidak mengeluarkan sampah plastik impor dan menumpuknya di lingkungan terbuka. Kedua, mereka meminta gurbernur segera merealisasikan janji untuk memberikan bantuan subsidi bahan bakar ramah lingkungan, wood pellet, kepada pengusaha pabrik Tropodo.

BACA JUGA: Indonesia Tegaskan Impor Limbah B3 Tindakan Kriminal

Dioksin Racuni Masyarakat Tropodo

Pada investigasi lanjutan oleh Ecoton, beberapa sentra tahu Tropodo masih aktif menggunakan sampah plastik impor sebagai bahan bakar. Asap mengepul terlihat di beberapa tungku dan insenerator pabrik tahu Tropodo.

Pembakaran sampah untuk bahan bakar proses memasak tahu tersebut dapat menimbulkan tingginya polusi senyawa dioksin.

Bahkan, pada tahun 2019, aktivitas pembakaran plastik impor di sentra tahu Tropodo dan area dumpsite dapat menghasilkan racun dioxin dan mikroplastik. Kedua senyawa itu dapat mengganggu sistem hormon dan memicu penyakit kanker.

Salah satu pemilik pabrik tahu di Tropodo, Gufron menjelaskan bahwa Desa Wirotibing dan Desa Gedangrowo menjadi penyuplai sampah plastik impor.

“Plastik bahan bakar di sentra tahu kami berasal dari kawasan dumpsite Desa Gedangrowo dan Wirobiting. Alasannya, selain harganya lebih murah, nyala api dari pembakaran plastik lebih stabil yang berimbas pada hasil produksi tahu menjadi baik dan bagus,” ungkap Gufron.

Pada tahun 2019, pemerintah mengusulkan penggunaan wood pellet untuk bahan bakar. Bahkan, pemerintah bersedia memberikan dukungan berupa bantuan subsidi wood pellet bagi pengusaha tahu.

Namun, hingga saat ini janji tersebut belum juga terlaksana. Para pengusaha tahu di Tropodo masih menagih janji tersebut untuk segera diterapkan. Gufron yang mewakili teman-teman pengusaha tahu lain berharap agar pemberian subsidi wood pellet bisa terealisasi secara nyata.

Penulis: Dini Jembar Wardani

Editor: Indiana Malia

Top