Bank Sampah Tekan Impor Sampah Plastik dan Kertas

Reading time: 3 menit
Peranan bank sampah perlu penguatan agar bisa menekan sampah impor plastik dan scrap kertas. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong bank sampah berperan dalam peningkatan penyerapan sampah plastik dan kertas sebagai pemenuhan bahan baku daur ulang dalam negeri. Dengan begitu harapannya, target Indonesia bebas dari sampah impor scrap kertas dan plastik tahun 2030 dapat tercapai.

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), tahun 2022 Indonesia memiliki ketersediaan 15,6 % sampah plastik dan 12,2 % sampah kertas dari total keseluruhan sampah di Indonesia. Akan tetapi, penyerapan daur ulang baru di angka 45 % untuk sampah kertas dan 46 % untuk sampah plastik.

Direktur Jendral Pengelolaan Sampah Limbah Bahan Berbahaya Beracun KLHK Rosa Vivien Ratnawati menyatakan, bank sampah sangat berperan penting dalam memastikan ketersediaan bahan baku daur ulang. Ini dilakukan agar Indonesia tak bergantung pada pasokan sampah kertas dan plastik impor.

“Saya meminta betul, kalau kita naikkan lagi sebesar 10 % kita baru bisa mandiri tak impor bahan baku daur ulang pada tahun 2030. Di sinilah peranan bank sampah,” katanya dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bank Sampah Ke-7 secara virtual di Jakarta, Selasa (22/2).

Menurutnya, potensi sampah dari bank sampah sangat besar karena telah terjamin kebersihannya melalui proses pemilahan sebelumnya. Hanya saja, kendala utamanya terletak pada rantai distribusi sampah dari bank sampah unit, bank sampah induk serta stakeholder off taker (bulog persampahan) yang masih kurang.

Pelibatan stakeholder off taker sangat penting untuk memastikan keberlanjutan bank sampah. Mengacu pada Peraturan Menteri LHK Nomor 14 Tahun 2021, stakeholder off taker hanya akan mengambil sampah dari bank sampah induk.

“Kalau mengambil dari bank sampah unit pasti akan sulit. Oleh karena itu, kita dorong melalui Permen ini agar mereka (off taker) mengambil sampah melalui satu pintu, yaitu bank sampah induk,” ungkap Vivien.

Lepas Sampah Impor dan Bahan Daur Ulang 

Vivien kembali mengingatkan akan ketergantungan impor sampah bahan baku daur ulang Indonesia pada tahun 2019 terhadap luar negeri. Adapun sampah daur ulang yang Indonesia impor sejatinya hanya scrap kertas dan plastik. Tapi ternyata ada tambahan berupa limbah medis, limbah bahan berbahaya beracun (B3) yang jumlahnya besar dan justru mencemari lingkungan.

“Ini tentu mengganggu kedaulatan negara kita. Oleh karenanya kita berusaha memenuhi kebutuhan bahan baku daur ulang dari dalam negeri,” imbuhnya.

Di samping itu, Vivien meminta agar peranan bank sampah tak sekadar memastikan circular economy tapi juga turut serta berkontribusi dalam penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Hal ini juga untuk mencapai target Nationally Determined Contribution (NDC) pada tahun 2030 sebesar 29 %.

“Bank sampah memiliki peranan besar terutama untuk memastikan sampah tak terbuang ke TPA, tapi memang dikelola sehingga berkontribusi pada penurunan emisi,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Pengurangan Sampah KLHK Sinta Saptarina menilai, pelibatan bank sampah dengan stakeholder off taker saat ini masih sangat terbatas. Penting, sambung Sinta untuk memastikan rantai keberadaan bank sampah inti dan unit di masing-masing wilayah sebelum akhirnya menghubungkannya ke stakeholder off taker.

Kebutuhan Plastik Nasional Capai 7 Juta Ton Per Tahun

Sementara itu Ketua Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia Christine Halim menyatakan, kebutuhan penduduk Indonesia akan plastik secara nasional mencapai 7 juta ton per tahun. Adapun bahan baku daur ulangnya yaitu 46 % atau 3,8 juta ton masih impor.

Sementara kebutuhan bahan baku industri plastik nasional saat ini 2,3 juta ton. Total pasokan lokalnya  1,5 juta ton dan impor 767.000. “Harapan kami kebutuhan impor ini bisa turun terus seiring dengan pengumpulan sampah kita yang naik,” katanya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Liana Bratasida mengungkapkan, saat ini terdapat 53 perusahaan industri kertas berbahan baku kertas daur ulang (KDU) di Indonesia berkapasitas produksi 9,2 juta ton.

Pada tahun 2021, kebutuhan total kertas daur ulang mencapai 6,8 juta ton. Rinciannya total pasokan lokal sebesar 3,41 juta ton dan impor sebesar 3,44 juta ton.

Perkuat Pemanfaatan Sampah Lokal

Ketua Asosiasi Bank Sampah Indonesia Wilda Yanti menekankan pentingnya prioritas pemanfaatan sampah lokal sebelum impor dari luar negeri. Sampai saat ini pemenuhan sampah untuk daur ulang dari bank sampah masih sekitar 23 %. Penyebabnya banyak bank sampah yang belum terdaftar.

“Padahal target kita ada 514 untuk bank sampah induk. Sedangkan saat ini ada 200 bank sampah induk yang terdaftar,” imbuh Wilda.

Menurut Wilda saat ini masih belum ada kesatuan rantai distribusi antara sampah yang masyarakat hasilkan, bank sampah dan stakeholder off taker.

“Masih banyak masyarakat yang berpikir kalau bank sampah hanya mau mengambil sampah yang menghasilkan uang saja. Mindset seperti ini harus kita ubah,” ujar dia.

Bank sampah unit memiliki peran yang sangat strategis untuk mengedukasi agar masyarakat memilah sampah secara tepat. Untuk memotong rantai transportasi, pengumpulan bank sampah bisa bank sampah induk lakukan lalu menuju ke off taker.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top
You cannot copy content of this page