Emisi Cetak Rekor Tertinggi saat Pelonggaran di Masa Covid-19

Reading time: 3 menit
Pelonggaran aktivitas masyarakat di era pandemi Covid-19 menyumbang peningkatan emisi. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Para ilmuwan dari Global Carbon Project pada COP27 mengungkap, pemberlakukan pembatasan selama pandemi Covid-19 berdampak para penurunan emisi pada tahun 2020 sebesar -5,2 %. Namun tren itu tak bertahan lama seiring peningkatan emisi 5,6 % pada tahun 2021, saat ada pelonggaran pembatasan aktivitas masyarakat.

Ilmuwan iklim memperingatkan, emisi karbon dioksida berbahaya dari bahan fosil akan naik 1 % lebih banyak tahun ini. Angka tersebut mendorong emisi karbon naik ke titik tertinggi sepanjang masa.

Merespon hal itu, pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menyatakan, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan laporan sebelum COP27 berjudul “The Closing Window”.

Dalam laporan menyebut, ada tanda-tanda kenaikan kondisi tersebut tahun 2021. Setelah pengurangan emisi saat pandemi tahun 2020, kondisi tahun 2021 mengarah pada kenaikan suhu permukaan bumi di atas 1,5 derajat Celcius. “Ini yang dikhawatirkan para pihak,” katanya kepada Greeners, Selasa (15/11).

Para ilmuwan telah menyatakan, peluang menjaga 1,5 derajat Celcius telah tertutup dengan kenaikan suhu bumi yang sekarang terjadi. Dalam laporan PBB tersebut juga menyebut emisi global tidak boleh lebih dari 33 giga ton di tahun 2030.

“Tapi dengan kenaikan yang terus terjadi, PBB memprediksi di tahun 2030 emisinya akan mencapai 58 giga ton,” imbuhnya.

Lonjakan Emisi Sulitkan Tekan Kenaikan Suhu

Peningkatan emisi karbon ini memperburuk dampak perubahan iklim. Kondisi ini memicu banyak bencana, seperti gelombang panas, banjir, tanah longsor, hingga puting beliung. Di Indonesia, bencana-bencana hidrometeorologis tersebut meningkat dan berimbas pada sektor pertanian, nelayan hingga kehidupan di perkotaan dan memperburuk ekonomi.

“Sedangkan, jika hanya mengimplementasikan Paris Agreement maka hanya mengoreksi tiga hingga enam giga ton. Jadi sama sekali jauh dari cukup. Para ilmuwan mengatakan say goodbye dengan 1,5 derajat Celcius,” jelas dia.

Sementara itu, pembatasan pandemi yang merupakan bagian dari protokol Covid-19 di satu sisi berdampak positif terhadap penurunan emisi. Tapi berdampak buruk pada kondisi perekonomian. Mahawan menyebut, budaya gaya hidup digital dengan minim pertemuan fisik turut berkontribusi penurunan emisi sektor transportasi.

“Ini tentu harus diikuti dengan meningkatkan gaya hidup rendah emisi, seperti hemat konsumsi energi, dan memilih tak menggunakan transportasi BBM,” imbuhnya.

Mahawan juga mendorong pentingnya transisi listrik dari energi kotor ke energi terbarukan. Hal ini seiring dengan komitmen net zero emission Indonesia tahun 2060 atau lebih cepat.

Transportasi menyumbang faktor yang meningkatkan perubahan iklim. Foto: Freepik

Efektivitas Pembatasan Aktivitas

Ketua Kebijakan Keenergian dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Retno Gumilang Dewi berpendapat, pembatasan selama pandemi Covid-19 berdampak signifikan terhadap pengurangan emisi karena minimnya mobilitas transportasi masyarakat.

“Nanti bisa juga dipikirkan pentingnya work from home itu bisa mendukung untuk penurunan emisi. Karena begitu dilakukan pembatasan semua kerja dari rumah,” kata dia.

Namun, ia juga mendorong agar PLN yang saat ini memanfaatkan energi fosil batu bara transisi ke renewable energy secara menyeluruh. “Komitmen PLN menuju 2030 nanti akan perlahan-lahan menurunkan penggunaan fosil hingga tahun 2030, dan menuju tahun 2060 nanti akan nol,” ungkapnya.

Dalam konteks wilayah DKI Jakarta berdasarkan kajian, jenis energi paling banyak masyarakat konsumsi dari sektor energi yakni BBM sekitar 52 %. Sementara pascapembatasan, terjadi peningkatan energi sebesar 9 %.

Hingga saat ini emisi karbon global bahan bakar fosil telah tumbuh 0,6 % per tahun selama 10 tahun terakhir. Emisi batu bara berpotensi capai titik tertinggi baru. Studi Global Carbon Project dan temuan lainnya tersebut terbit dalam laporan pada, Jumat (11/11) lalu. Para peneliti Pusat Penelitian Iklim Internasional (CICERO) yang berbasis di Norwegia menerbitkan laporan tersebut.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top

You cannot copy content of this page