Flora dan Fauna Indonesia, “Merdeka”kah dari Perubahan Iklim dan Deforestasi?

Reading time: 4 menit
perubahan iklim
Ilustrasi. Foto: wikemedia commons

Oleh: Sarah Rosemery Megumi

Sepanjang tahunnya, bumi kita selalu berjuang untuk melawan datangnya perubahan iklim yang semakin hari tidak dapat lagi diprediksi. Iklim bumi berubah menjadi sangat cepat dan menimbulkan pemanasan global. Secara sederhana, pemanasan global dapat diartikan sebagai peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi dari tahun ke tahun.

Menurut laporan terbaru dari NASA/GISS (2015), bahwa suhu global terus mengalami kenaikan sebesar 0,68°C hingga tahun 2014, seperti yang dikutip pada publikasi World Agroforestry Centre (ICRAF) dan Universitas Brawijaya (2016).

Bagi Indonesia yang sudah memasuki usia ke-72 tahun kemerdekaan, permasalahan perubahan iklim dan pemanasan global masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya, seperti persoalan kebakaran hutan. Kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia selalu menjadi polemik berkepanjangan yang terus-menerus dicari jalan keluarnya.

Intensitas curah hujan yang rendah serta cuaca panas menyebabkan tingginya kejadian kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia. Penebangan pohon di hutan rawa gambut membuat daya serap permukaan tanah berkurang, sehingga pada musim kemarau hutan menjadi lebih mudah terbakar dan menyumbangkan kabut asap yang signifikan.

Menurut data Posko Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), total hotspot berdasarkan satelit NOAA-19 per 1 Januari 2017 sampai dengan 7 Agustus 2017 dilaporkan sebanyak 1.341 hotspot. Jumlah ini naik sebanyak 108 titik (3,55%) dibandingkan dengan tahun 2016 periode yang sama, yaitu 1.295 hotspot (dikutip pada laman Greeners.co, edisi 9 Agustus 2017).

Lalu, jika kebakaran hutan sudah terjadi secara masif, maka siapakah yang akan menjadi korban dan terkena imbasnya langsung?

Dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati

Predikat Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi ‘Megabiodiversity country’, sudah menggema di seluruh dunia. Sayangnya, predikat ini dikhawatirkan tidak dapat bertahan lama. Dampak dari perubahan iklim pada keanekaragaman hayati diduga pengaruhnya cukup besar.

Hutan Indonesia menjadi “rumah alam” bagi hampir seluruh fauna dan flora khas. Berdasarkan data hasil analisis Wahana Riset Indonesia (WRI) yang dilansir pada laman wri-indonesia.org, bahwa dalam kurun waktu 2000-2015, hampir 1,6 juta hektar dan 1,5 juta hektar hutan primer atau setara dengan suatu wilayah yang lebih besar dari Swiss telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit dan serat kayu.

(Selanjutnya…)

Top
You cannot copy content of this page