Kadar Merkuri pada Perempuan di Pongkor dan Sekotong Melebihi Ambang Batas

Reading time: 3 menit
kadar merkuri
Ilustrasi. Foto: pixabay.com

Jakarta (Greeners) – Merkuri, logam neurotoksik, telah ditemukan dalam kadar yang tinggi di semua wilayah global pada perempuan usia subur. Menurut sebuah studi baru yang dilakukan oleh IPEN, sebuah jaringan organisasi non pemerintah yang bergerak di bidang kesehatan masyarakat dan lingkungan global bersama dengan Biodiversity Research Institute (BRI), menemukan kadar merkuri yang berkali lipat lebih tinggi dari ambang batas yang dianjurkan oleh US Environmental Protection Agency (EPA) pada perempuan di Kepulauan Pasifik di lokasi pertambangan emas di Indonesia, Kenya, dan Myanmar.

Mengutip dari keterangan resmi yang diterima oleh Greeners, Lee Bell, pimpinan investigasi dari IPEN mengatakan, studi ini berhasil mendapatkan temuan bahwa 55 persen dari sampel yang diperiksa memiliki kadar merkuri diatas 0.58ppm, nilai kadar yang dikaitkan dengan timbulnya kerusakan neurologis pada janin.

Di Indonesia, studi ini dilakukan dengan mengumpulkan sampel rambut dari 67 perempuan usia subur di dua lokasi Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) di Pongkor, Kabupaten Bogor, dan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Sebanyak 97 persen dari sampel rambut yang diambil di Indonesia memiliki kadar merkuri diatas ambang batas 1ppm yang dianjurkan oleh US EPA, dan keseluruhan sampel yang dikumpulkan di Indonesia memiliki kadar merkuri diatas 0.58ppm.

BACA JUGA: Setelah Ratifikasi, Pemerintah Siapkan Rencana Aksi Nasional Atasi Merkuri

Studi ini dilakukan dengan mengumpulkan sampel rambut dari 1.044 perempuan usia subur di 37 lokasi yang tersebar di 25 negara di 6 benua. Analisis yang dilakukan oleh BRI menemukan 36 persen dari perempuan yang diambil sampelnya memiliki kadar merkuri diatas ambang batas 1ppm yang dianjurkan oleh US EPA. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan otak, penurunan IQ, dan kerusakan ginjal dan jaringan kardiovaskular.

“Studi ini mengilustrasikan ancaman pencemaran merkuri global terhadap perempuan dan anak-anak di banyak negara di kepulauan Pasifik dan sebagian besar perempuan yang terlibat dalam pertambangan emas skala kecil,” katanya, Jakarta, Jumat (15/09).

Menurut Yuyun Ismawati, Senior Advisor BaliFokus dan IPEN Lead for ASGM/Mining, selama perdagangan merkuri tidak dihentikan, maka tragedi merkuri juga akan terus berlanjut. Beberapa temuan kunci dari studi ini menggambarkan bahwa pencemaran merkuri telah terjadi di mana-mana. Di Kepulauan Pasifik, misalnya, lokasi yang jauh dari semua sumber pencemaran merkuri dari industri, sebanyak 85,7 persen masyarakatnya melampaui ambang batas 1 ppm dengan sebagian besar perempuan memiliki kadar merkuri tiga kali lipat di atas standar US EPA.

Selain itu, lebih dari separuh sampel perempuan di Indonesia, Kenya, Myanmar dan Paraguay memiliki kadar merkuri lebih dari 1 ppm di mana masyarakat hidup dari pertambangan emas berskala kecil. Selain Paraguay, dimana ikan bukan merupakan sumber protein utama,
81 persen perempuan memiliki kadar di atas 1 ppm, dengan perempuan di dua lokasi di Indonesia memiliki kadar antara tiga sampai sembilan kali di atas ambang batas US EPA untuk merkuri.

BACA JUGA: Pertambangan Rakyat, Presiden Berikan 7 Instruksi Terkait Penggunaan Merkuri

Satu dari lima perempuan yang diambil sampelnya di dekat lokasi industri berat memiliki kadar merkuri lebih dari 1 ppm. Ini termasuk perempuan di Nepal, Nigeria, dan Thailand, di mana lahan yang terkontaminasi mencemari lahan, perairan dan sumber makanan lokal. Perempuan yang hidup di dekat lokasi yang terkontaminasi di Albania, Cile, Kazakhstan, Nepal dan Ukraina pun memiliki kadar merkuri rata-rata di atas 0,58 ppm.

“Pekan depan, pemerintah dari berbagai negara di seluruh dunia akan bersidang di Jenewa, Swiss pada Conference of the Parties (COP) pertama sebagai tindak lanjut Konvensi Minamata tentang merkuri. Penelitian ini telah menggarisbawahi perlunya panduan untuk mengidentifikasi lokasi yang terkontaminasi merkuri, memantau beban tubuh merkuri, dan mengambil tindakan untuk membatasi sumber utama pencemaran merkuri – pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan penambang emas skala kecil,” ujar Yuyun.

Sebagai informasi, studi merkuri pada perempuan usia subur di 25 negara dilakukan untuk mengukur prevalensi beban tubuh merkuri pada tingkat yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis dan organ tubuh. Merkuri di tubuh ibu dapat ditransfer ke janin selama kehamilan, memaparkan neurotoksin yang kuat ke dalam janin yang sedang berkembang. Studi ini merupakan studi yang pertama kali dilakukan untuk sampel di berbagai negara dan wilayah dan menyoroti perempuan usia subur.

Kadar merkuri yang sangat tinggi yang ditemukan di rambut sebagian besar perempuan ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk melakukan tindakan penghapusan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dan perdagangan internasional merkuri yang memasok pertambangan emas skala kecil, dua penyebab paling signifikan dari pencemaran merkuri.

Penulis: Danny Kosasih

Top