Keluhkan Polusi Udara, Artis Ashanty Curhat di Medsos

Reading time: 3 menit
Ashanty (kiri) bersama putrinya Arsy (kanan). Artis ibu kota ini mengeluhkan kondisi polusi udara yang tidak sehat. Foto: Instagram Ashanty

Jakarta (Greeners) – Polusi udara Jakarta tak sekadar menjadi perhatian aktivis lingkungan, tapi juga publik figur Ashanty. Dalam postingan Instagramnya, istri Anang Hermansyah ini curhat dan mengeluhkan kondisi udara di ibu kota dan daerah penyangganya tidak sehat.

Saat ini Ashanty terus mengamati kondisi udara di sekitarnya, utamanya di kawasan Jakarta, Bogor, Depok dan Tangerang (Jabodeta). “Aku jadi terobsesi sama kesehatan terutama tingkat polusi udara, karena memang kualitas udara sekitar kurang baik,”tulis Ashanty di Instagram pribadinya, Rabu (24/8).

Bahkan dalam curhat Ashanty di media sosial (medsos) miliknya tersebut, Luna Maya pun ikut berkomentar. Luna pun punya kekhawatiran yang sama terhadap polusi udara

Ashanty yang menggeluti dunia tarik suara ini menyebut, sebelumnya sempat tinggal di Bandung dalam beberapa tahun ke belakang dan juga bolak-balik antara Bali dan Yogyakarta. Kepekaan dan kepeduliannya terhadap kualitas udara membuatnya ingin terus memastikan kualitas udara di sekitarnya. Termasuk perbedaan signifikan polusi udara di beberapa tempat yang sempat ia tinggali tersebut.

Adapun kualitas udara yang baik menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berada di warna hijau. Sementara warna merah dan ungu sebagai indikator udara yang tak sehat. Menurutnya, di daerah Jabodeta kualitas udaranya tak selalu berwarna merah ke ungu, tapi bergantung pada padat tidaknya aktivitas kendaraan.

“Di Jabodeta enggak selalu merah ke ungu ya kadang juga ke kuning tapi enggak pernah hijau. Terutama di pagi buta jam 12 malam suka agak mending,” curhat Ashanty.

Curhat Peka terhadap Paparan Debu

Ashanty mengaku, paparan polusi udara memiliki efek signifikan, terutama pada dirinya yang alergi debu. Ia kerap kali merasakan gejala saat menghirup udara tak sehat. “Yang apesnya, aku alergi debu akut. Gejalanya adalah tenggorokan, hidung, mata gatel berair, batuk, bersin, sesak nafas, dll. Kalau mau cek di rumah kalian berdebu atau enggak, dudukin di tengah ruangan 15 menit, ntar keliatan,” tuturnya.

Bahkan, efek lain akibat paparan polusi udara terhadap tubuhnya dan sang suami sudah mereka rasakan. Mulai dari sakit, lesu, hingga sesak. “Dan berasa bangetnya lagi, kalau kita lagi ke Bandung atau Bali, bisa lebih sehat dan badan segeran, mata melek nafas lega,” kata Ashanty.

Dalam kesempatan itu pula, ia mengajak publik untuk mulai peduli dengan kondisi polusi udara di sekitar. “Semoga tulisan ini sedikit membantu untuk yang pada belum aware sama buruknya polusi buat kita,” ungkapnya.

Kendaraan Bermotor Sebabkan Polusi

Kendaraan bermotor dengan BBM kotor memperburuk polusi udara. Foto: Shutterstock

Prioritaskan Pengendalian Polusi Udara

Menanggapi curhat artis tersebut, pengamat lingkungan sekaligus pakar tata kota Nirwono Yoga mengungkap, kesadaran publik akan paparan polusi udara telah meluas, termasuk melalui edukasi dalam postingan publik figur Ashanty. Akan tetapi, persoalan polusi udara di Jakarta membutuhkan penanganan melalui program prioritas khusus.

“Pemprov DKI Jakarta harus menjadikan program prioritas seperti halnya penanganan banjir sehingga dapat ditangani secara spesifik akar permasalahannya,” katanya kepada Greeners.

Pemprov DKI lanjutnya harus memusatkan seluruh kebijakan dan pembangunan di Jakarta sehingga merujuk pada gerakan pengurangan polusi udara. Misalnya mulai dari kebijakan emisi kendaraan, pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) untuk menekan polusi udara. Selain itu juga menekan penggunaan kendaraan pribadi dan memprioritaskan kendaraan massal.

Saat ini Dinas Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta tengah menyusun Grand Design Pengendalian Pencemaran Udara (GDPPU) untuk mengurangi polusi udara Jakarta. Adapun GDPPU ini memuat rencana aksi dengan target pengurangan di tahun 2030.

Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yogi Ikhwan menyatakan, transportasi masih mendominasi sumber polusi terbesar DKI Jakarta. Ini seiring dengan jumlah kendaraan bermotor penyumbang emisi. Selanjutnya yaitu berasal dari kontribusi sektor industri manufaktur.

Berdasarkan data tahun 2020 jumlah total kendaraan di Jakarta sekitar 20,22 juta unit. “Rata-rata kenaikan jumlah kendaraan sepeda motor (4,9 %) lebih rendah dibandingkan mobil penumpang (7,1 %). Selanjutnya untuk mobil beban, naik (5,3 %) dan bus (4,5 %),” ucap Yogi.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top