Invisible Killer dari Emisi Kendaraan Intai Pemudik

Reading time: 3 menit
Kemacetan saat mudik dan arus balik menyumbang peningkatan emisi kendaraan yang membahayakan bagi manusia. Foto: Shutterstock

Jakarta (Greeners) – Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) mengingatkan para pemudik di saat arus balik tak hanya sekadar mewaspadai bahaya kecelakaan. Akan tetapi ancaman invisible killer imbas pencemaran udara dari emisi kendaraan.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyebut jumlah pemudik tahun ini yang menggunakan mobil perkiraannya mencapai 23 juta mobil dan 17 juta sepeda motor.

KPBB mencatat, total sumber polutan kendaraan pemudik tahun 2022 yakni sebanyak 2.012.226 ton. Jumlah kontributor terbesar yakni dari mobil bensin, sebanyak 52 %, sepeda motor sebanyak 33 % serta truk sebesar 10 %.

Sementara jumlah total sumber CO2 emisi kendaraan pemudik tahun 2022 yakni sebanyak 16.955.271 ton. Jumlah emisi CO2 terbesar yaitu dari truk sebanyak 37 %, sepeda motor sebesar 23 % dan mobil dengan bahan bakar bensin 22 %.

Ketua KPBB Ahmad Safruddin menyatakan, pencemaran udara masih mengancam para pengguna kendaraan bermotor. Khususnya bagi para pemudik di jalur mudik lebaran. Adapun selama ini jalur mudik dikenal dengan tingkat kemacetannya yang parah seperti jalan Pantura Jawa maupun Jalur Selatan Jawa via Nagrek.

“Apalagi mudik kali ini adalah luapan akumulasi 2 kali Lebaran tidak mudik karena pandemi Covid-19,” katanya di Jakarta, Sabtu (7/5).

Emisi Kendaraan Picu Tragedi di Mudik Lebaran 2016

Lebih jauh ia menyebut sumber pencemaran udara ini berasal dari pembakaran bahan bakar fosil. Ia memperingatkan agar tragedi invisible killer pada pemudik lebaran tahun 2016 tak berulang pada lebaran tahun ini.

Saat itu, 17 orang meninggal dunia pada mudik Lebaran 1437 H/2016. Adapun 11 orang di antaranya keracunan emisi CO (Carbon Monoxide) dan paparan parameter lain dari kendaraan bermotor.

Mereka meninggal dunia akibat terpapar emisi kendaraan yang terjebak kemacetan berjam-jam selama perjalanan mudik lebaran di pintu keluar Tol Brebes (Brexit). “Angka ini terlalu banyak. Mereka yang meninggal dunia ini bukan karena kejadian tabrakan, terguling, tertabrak dan atau kecelakaan benturan fisik kendaraan bermotor. Tetapi meninggal dunia oleh pembunuh tak tampak (invisible killer) akibat terpapar emisi kendaraan,” paparnya.

Invisible killer, sambung dia (terutama CO) membunuh tanpa terlihat, tidak berbau dan mampu membuai si calon korban dengan rasa kantuk hingga memicu tertidur dan tidak pernah bangun kembali.

“Tentunya kita tidak berharap bahwa tragedi invisible killer yang membunuh para pemudik tersebut terulang kembali di tahun ini,” kata dia.

Zat-Zat Polutan Mempengaruhi Sistem Pernafasan dan Pembuluh Darah

Bahan beracun yang terkandung dalam polutan emisi gas buang kendaraan bermotor antara lain Particulate Matter (PM), Sulfur Dioxide (SO2), Nitrogen Dioxide (NO2), Carbon Monoxide (CO), Ozone (03) dan Hydro Carbon (HC). Zat-zat polutan udara tersebut langsung mempengaruhi sistem pernafasan, pembuluh darah, sistem saraf, hati dan ginjal dengan gejala pusing-pusing.

Selanjutnya, mual dengan penyakit/sakit ISPA, asma, tekanan darah tinggi, hingga pada penyakit dalam seperti gangguan fungsi ginjal, kerusakan pada sistem syaraf dan penurunan kemampuan intelektual (IO) anak-anak. Selain itu, juga memicu kebrutalan pada remaja, keguguran, impotensi, jantung koroner, kanker hingga kematian dini.

KPBB mencatat, berdasarkan parameter pencemaran udara emisi kendaraan pemudik tahun 2022 di antaranya PM2.5 sebanyak 73 %, HC sebanyak 15 %, dan Nitrogen oksida (NOx) sebanyak 11 %.

Kenali Cara Mencegah Ancaman Invisible Killer

Ia menyebut cara mencegah ancaman invisible killer ini dengan memastikan perjalanan mudik secara lebih bijak seperti memanfaatkan angkutan umum. “Jika tak bisa dielakkan menggunakan kendaraan pribadi maka rencanakan sebaik mungkin perjalanan mudik secara matang. Caranya dengan membuat rencana rute yang diprediksi bisa terhindar dari kemacetan parah,” tuturnya.

Akan tetapi, jika tak memungkinkan maka sebaiknya menunda perjalanan mudik di lain kesempatan. Pengaturan sebelum perjalanan mudik juga penting agar dapat mencegah kemacetan perjalanan mudik.

Para pemudik juga harus mempersiapkan diri untuk mengelola perjalanannya sehingga tidak harus selalu berada di dalam mobil saat terjadi kemacetan. Para pemudik hendaknya harus keluar dari mobil dan menjauh dari posisi mobil (30 – 50 m) setelah terlebih dahulu mematikan mesin mobil.

Selain itu, guna menghindari terik matahari atau hujan maka pemudik sebelumnya harus mempersiapkan payung, ponco serta tenda portable. Saat keluar dari mobil dan tak didapati perumahan penduduk maka pemudik bisa menepi ke warung dan restoran untuk berteduh dan beristirahat. Penting juga, sambung dia untuk mempersiapkan makanan siap santap dan cukup gizi.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top