Lawuh Boled Raih Penghargaan Film Pendek Fiksi StoS 2014

Reading time: < 1 menit

Jakarta (Greeners) – Kebodohan dan kemiskinan nampaknya masih menjadi identitas yang melekat pada masyarakat yang tinggal di desa dan daerah pedalaman Indonesia lainnya. Kondisi yang tidak menguntungkan  itu membuat warga tidak berdaya saat hak-haknya dirampas penguasa setempat. Mungkin hanya omelan sesaat yang bisa disampaikan kepada sang penguasa. Selanjutnya, hidup akan berjalan kembali seperti sebelumnya.

Potret kemiskinan dan ruwetnya proses untuk mendapatkan jatah beras miskin (raskin) di desa menjadi tema utama yang diangkat dalam film pendek berjudul Lawuh Boled. Cerita yang dikemas sederhana dalam durasi delapan menit ini menyentil nurani siapapun yang mengecilkan nilai raskin bagi warga yang membutuhkan.

Misyatun, pelajar SMK Negeri 1 Rembang, Purbalingga yang menyutradarai film ini nampaknya  resah akan kondisi yang jamak terjadi dilingkungannya. Bersama teman-teman pelajar lain yang tergabung dalam Pedati Film, ia membuat film ini hampir dua bulan lamanya. Mulai dari melakukan riset hingga film siap tayang.

Kerja keras Misyatun berbuah manis. Film Lawuh Boled berhasil memenangi penghargaan dari South to South Film Festival (StoS) 2014 untuk kategori Film Pendek Fiksi. Sebuah piagam dan sejumlah uang seyogyanya diterima Misyatun di malam penutupan StoS yang berlangsung pada Selasa (18/03) di Goethe Institut, Jakarta. Namun karena berhalangan hadir, ia diwakilkan oleh Bowo Leksono, Direktur Cinema Lovers Community Purbalingga.

“Cerita dalam film ini merupakan pengalaman mereka disana. Kondisi seperti itu masih terjadi sampai sekarang dan mereka sampaikan protes dan keluh kesah itu melalui film,” ungkap Bowo. Menurutnya, penyampaian kritik tidak melulu serius. Kritik bisa disampaikan dalam bentuk yang lebih halus seperti cerita dalam film Lawuh Boled. “Penonton tadi kan tertawa saat melihat film itu, padahal kita pelan-pelan mengkritik,” katanya. (G08)

Top
You cannot copy content of this page