Lingkungan dan Komunitas Efektif Ubah Gaya Hidup Seseorang

Reading time: 2 menit
Gaya hidup ramah lingkungan seseorang mudah dipengaruhi oleh komunitasnya. Foto: Freepik

Jakarta (Greeners) – Studi terbaru mengungkap, untuk memulai gaya hidup ramah lingkungan akan lebih efektif jika seseorang berada dalam lingkungan dan komunitas yang sudah berperilaku itu sebelumnya.

Dari studi itu juga menyebut, edukasi manfaat gaya hidup ramah lingkungan bukan pendekatan terbaik untuk meningkatkan perilaku ramah lingkungan. Para peneliti menemukan pola pendekatan semacam ini hanya mengubah perilaku rata-rata 3 % saja.

Selain edukasi, pendekatan lain melalui pemberian insentif mendorong masyarakat berperilaku ramah lingkungan juga tak berdampak signifikan.

Ini berdasarkan hasil penelitian empat ilmuwan iklim, dua lainnya dari Universitas Gothenburg dan satu dari Universitas Yale serta Universitas Cambridge.

Magnus Bergquista, Maximilian Thiel, Matthew Goldberg, dan Sander van der Linden dalam makalah mereka yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menyebut pendekatan terbaik yaitu dengan mendekatkan mereka langsung pada orang lain yang berperilaku ramah lingkungan.

Melansir Phys, selama beberapa dekade terakhir, pejabat lokal dan nasional telah terpapar dampak positif perilaku ramah lingkungan terhadap bumi. Mulai dari mendorong perilaku minim mencemari lingkungan seperti mendaur ulang hingga memanfaatkan sumber daya seperti air secara bijak. Namun, meski telah banyak edukasi, nyatanya perilaku tak ramah lingkungan masih merajalela.

Misalnya, jika ada sampah di jalur pendakian orang merasa bebas untuk membuang sampah lebih banyak lagi. Demikian jika lampu toilet umun menyala saat seseorang masuk maka akan ia biarkan menyala saat keluar dari toilet.

Sebaliknya, jika jalur pendakian bersih maka orang cenderung tidak membuang sampah sembarangan. Dan jika sakelar lampu mati saat seseorang masuk kamar mandi umum, orang cenderung mematikannya saat keluar.

Tekanan Kelompok Sosial Pengaruhi Perubahan Gaya Hidup 

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia Rissalwan Lubis menyatakan, perubahan perilaku tak sekadar dalam tataran edukasi yang levelnya hanya kognitif. Akan tetapi membutuhkan intervensi lengkap seperti kognitif, sikap dan praktik.

“Sikap dan praktik ini memang memerlukan tekanan kelompok sosialnya agar tataran kognitif (edukasi) kuat menjadi aksi nyata,” katanya kepada Greeners, Kamis (30/3).

Ia yakin pendekatan kelompok atau komunitas akan lebih efektif dalam perilaku gaya hidup ramah lingkungan. Ini juga harus beriringan dengan kontrol sosial.

“Pastikan ada kontrol dan sanksi sosial untuk perilaku jorok dan tidak ramah lingkungan,” imbuhnya.

Senada dengannya Pengamat lingkungan dari IPB Hariadi Kartodihardjo menilai, perubahan perilaku masyarakat sangat bergantung pada kepemimpinan yang ramah lingkungan.

“Pemimpin adalah role model yang baik untuk warganya,” katanya.

Namun, ia juga tak menampik kekuatan komunitas yang mampu menggerakkan perilaku ramah lingkungan. Misalnya komunitas para generasi muda yang mampu menggerakkan teman sebayanya untuk berperilaku ramah lingkungan.

Reuse menjadi salah satu aksi ramah lingkungan. Foto: Freepik

The International Day of Zero Waste pada 30 Maret 2023

Perserikatan Bangsa-Bangsa pun menetapkan 30 Maret 2023 menjadi peringatan pertama International Day of Zero Waste. Peringatan ini menjadi momentum menyuarakan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pun mendorong gaya hidup minim sampah semakin masif di masyarakat.

Direktur Penanganan Sampah Ditjen Pengelolaan Sampah Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun KLHK Novrizal Tahar menyambut baik peringatan International Day of Zero Waste.

Ia berharap, peringatan ini memicu perubahan perilaku gaya hidup ramah lingkungan yang cepat dalam masyarakat. “Karena secara empirik dan esensi, zero waste itu sangat dapat diwujudkan dan dimulai dari diri dan rumah sendiri,” katanya kepada Greeners.

Penulis : Ramadani Wahyu

Editor : Ari Rikin

Top