Menuju Kenormalan Baru, Pemerintah Kebut Pembukaan Sektor Pariwisata

Reading time: 2 menit
Pariwisata Bahari
Foto: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Jakarta (Greeners) – Sejumlah sektor pariwisata akan dibuka menjelang era penerapan kenormalan baru (New Normal). Pemerintah juga tengah menyusun protokol kesehatan Covid-19 di bidang jasa daya tarik wisata untuk daerah yang berstatus zona hijau.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan, sektor pariwisata untuk pengunjung domestik akan dibuka mulai bulan depan. Sedangkan untuk turis luar negeri dimulai bertahap pada September. Ia meminta penyusunan protokol tetap mengacu pada standar penanggulangan Covid-19, seperti menerapkan menjaga jarak fisik, menggunakan masker, dan mencuci tangan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan juga tengah menyiapkan protokol kesehatan era kenormalan baru untuk pariwisata bahari. Melalui Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, KKP mengejar persiapan operasi pariwisata khususnya di Taman Wisata Perairan (TWP) Gili Matra, Kabupaten Lombok Utara.

Baca juga: Upaya Penanganan Karhutla Kian Berat di Tengah Pandemi Covid-19

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Aryo Hanggono mengatakan, Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah salah satu ikon wisata dunia sehingga penerapan protokol New Normal di lapangan perlu dikawal sampai detail.

Ia menuturkan perairan Gili Matra dan sekitarnya merupakan salah satu kawasan konservasi perairan nasional yang saat ini dikelola oleh KKP melalui BKKPN Kupang. Taman wisata perairan seluas 2.954 hektare tersebut, kata dia, telah memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara hingga Rp3,5 miliar selama sepuluh bulan terakhir. Jumlah pengunjung wisata menyelam (diving) mencapai 35.621 orang yang terdiri dari turis domestik dan didominasi wisatawan mancanegara seperti Eropa, Amerika, Australia, dan Asia.

“Kami mendorong BKKPN Kupang untuk berkoordinasi dan ikut terlibat langsung dalam menyiapkan protokol new normal pariwisata serta mengambil bagian dalam implementasi di lapangan. Selain aspek kesehatan, protokol new normal pariwisata juga harus memerhatikan aspek daya dukung dan daya tampung lingkungan,” ujar Aryo, di Jakarta, (05/06/2020).

Pariwisata Bahari

Foto: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Sementara Kepala BKKPN Kupang, Ikram M. Sangadji saat Rapat Virtual Penyiapan Protokol New Normal Pariwisata TWP Gili Matra, mengharapkan penerapan wisata kenormalan baru di wilayahnya dapat menjadi pilot project untuk tempat wisata lain.

Ikram menuturkan, pemilihan TWP Gili Matra sebagai proyek percontohan dikarenakan wilayahnya termasuk ke dalam zona hijau Covid-19. Akses keluar masuk ke pulau, kata dia, juga dapat diatur sehingga pelaksanaannya diharapkan dapat berjalan secara efektif dan terkendali.

Ia mengklaim, dari data Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Lombok Utara, Desa Gili Indah yang merupakan administrasi dari ketiga gili tersebut belum menemukan kasus persebaran virus corona. Menurut Ikram, pelaku wisata dan masyarakat sangat konsisten dalam menerapkan protokol kesehatan sehingga sangat mendukung penerapan new normal pariwisata.

Baca juga: Mengutamakan Lingkungan Hidup di Atas Kepentingan Ekonomi

Lebih lanjut, penerapan kenormalan baru di bidang jasa wisata juga akan melibatkan tim terpadu yang terdiri dari Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19, Polair, TNI AL, dinas perhubungan, dinas pariwisata, pengelola kawasan, dan pelaku usaha.

Selain regulasi, akan disiapkan pula fasilitas di tempat strategis seperti pelabuhan, toilet, dan spot wisata. Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Kelompok Masyarakat, kata dia, akan dilibatkan untuk pengadaan masker gratis atau sejenisnya sehingga dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat secara langsung hingga level menengah ke bawah.

“Dengan terlaksananya protokol new normal pariwisata di TWP Gili Matra diharapkan dapat memberikan jaminan aman untuk berwisata sehingga para wisatawan asing maupun lokal tidak takut untuk datang ke NTB,” ucapnya.

Penulis: Dewi Purningsih

Editor: Devi Anggar Oktaviani

Top