Pemakaian Ekstrak Ganja Dinilai Redakan Stres pada Gajah

Reading time: 2 menit
Gajah
Seorang pawang sedang menenangkan gajah. Ilustrasi: shutterstock

Jakarta (Greeners) – Kebun Binatang Warsaw yang berada di Polandia dikabarkan menggunakan minyak dari ekstrak ganja untuk menenangkan gajah Afrika yang stres akibat ditinggal induk kawanannya. Dilansir dari bbc.com, Erna, induk gajah tertua di kebun binatang itu, mati pada Maret 2020. Kematian induk gajah tersebut memberikan dampak stres berkepanjangan bagi tiga anak gajah terutama Fredzia, gajah penerus Erna.

Dokter Hewan sekaligus Praktisi Satwa Liar Wisnu Wardana mengatakan bahwa ganja sendiri sering dijadikan sebagai bahan baku untuk obat golongan Anaesthesia atau Narcoticum. Sifat obat minyak ekstrak ganja atau Cannabidiol oil (CBD) ini memiliki efek candu yang dapat berimbas pada stres berkepanjangan dan depresi.

“Kalau saya tidak menganjurkan pemberian CBD ini, sebab, bahan adiksi hanya bisa menolong sementara dan dampaknya kurang bagus. Sebenarnya yang diperlukan untuk menenangkan gajah yang kehilangan induk kawanan itu dengan diberikan pengasuh baru. Walaupun memang pemberian minyak ekstrak ganja pada gajah difungsikan sebagai tranquilizer atau penenang supaya tidak stres berkepanjangan,” ujar Wisnu kepada Greeners, Kamis, (03/09/2020).

Baca juga: Bank Negara di Balik Karhutla

Kepala Departemen Rehabilitasi Hewan di Kebun Binatang Warsaw, Agnieszka Czujkowska memutuskan untuk menenangkan Fredzia dengan menggunakan minyak CBD. Minyak ini diduga merangsang produksi serotonin dan dopamin yakni bahan kimia pembawa pesan di otak yang dapat membantu memerangi depresi.

“Ini (kematian gajah) mengubah tingkah laku di setiap kelompok gajah. Gajah mungkin dapat memiliki masalah perilaku ketika struktur kelompoknya berubah,” ujarnya.

Minyak Ekstrak Ganja

Minyak Ekstrak Ganja atau Cannabidiol oil (CBD). Foto: shutterstock

Konservasionis di bidang Biologi Wulan Pusparani menuturkan, gajah memiliki kemampuan sosial yang kompleks. Mereka memiliki ikatan emosi yang kuat dengan kawanannya dan hal itu menimbulkan rasa nyaman. Menurutnya, kehilangan salah satu keluarga akan sangat berdampak bagi gajah, terlebih untuk hewan yang tinggal di kebun binatang, bukan di habitat alaminya.

“Kematian salah satu anggota keluarga pasti menimbulkan stres untuk gajah baik di alam liar atau di kebun binatang. Tapi untuk gajah di kebun binatang, faktor pemicu stres juga ditambah oleh kondisi hidup yang tidak alami, misalnya, hidup terisolasi dari keluarganya atau tidak bisa melakukan pergerakan bebas,” ujar Wulan kepada Greeners, Selasa (01/09/2020).

Baca juga: KIARA: Praktik Jual Beli Pulau di Indonesia Melanggar Konstitusi

Penggunaan ganja kepada gajah, kata Wulan, bukan hal yang baru. Ia mengatakan pemakaian ekstrak ganja untuk pengobatan medis hewan lazim digunakan untuk jangka pendek. “Tentunya dengan dosis yang aman dan dalam pengawasan dokter hewan, mungkin ada baiknya,” ucapnya.

Namun, Wulan merekomendasikan cara lain yang bisa dilakukan, yakni dengan memenuhi kebutuhan sosial gajah, walaupun tidak akan bisa menyamai kualitas hidup kawanan gajah di habitat alaminya. Selain itu, tidak mengisolasi gajah dari kawananya di kandang terpisah merupakan hal yang bisa dilakukan untuk menurunkan tingkat stres gajah di kebun binatang. “Sama seperti manusia yang pastinya stres kalau diberi hukuman isolasi, efek yang sama juga dirasakan gajah,” kata Wulan.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Top